
"Setelah kita selesai video call, aku bergegas hendak tidur, tapi seseorang bukan dua ekor rubah betina datang dan memaksa masuk. Tubuhku terlalu lelah hingga tidak siaga saat Meyra membiusku dengan dosis tinggi hingga aku tertidur sepanjang hari. Kalau bukan Bagas yang datang membangunkan ku, aku pasti akan bangunan keesokan harinya."
Raya tertegun, mendengar penuturan Elrick. Kalau benar ini alasannya, dia tidak salah karena tidak datang ke acara itu. Tapi tetap saja, pernikahan mereka batal dan bahkan ayahnya sudah sangat membenci Elrick.
"Sayang, aku tidak mungkin mau membatalkan pernikahan kita. Aku sangat menyayangimu, dan tidak ingin berpisah dengan mu," ucap Elrick yang pindah ke samping Raya.
Gadis itu hanya menunduk. Tidak tahu harus berkata apa. Seketika rasa marah dan kecewanya pada Elrick sirna. Tapi tunggu dulu, kenapa harus sebulan kemudian baru pria itu datang padanya?
Seolah mengerti isi pikiran Raya, Elrick segera memuaskan rasa ingin tahu gadis itu. "Kenapa aku baru datang hari ini, karena aku harus menyusun strategi untuk mendapatkan simpati ayahmu, agar pria galak itu mau mengizinkan aku menikahi putrinya lagi."
"Hey, itu ayahku. Gak sopan!" dengusnya membuang muka ke samping. Tawa renyah Elrick terdengar di ruangan itu. Setelah sebulan lebih, pria itu baru bisa tertawa, dan itu semua berkat Raya.
"Iya, maaf. Aku bukan bermaksud tidak sopan. Sayang, kau masih mau kan menerimaku? menikahlah dengan ku, dan kali ini aku pastikan tidak ada lagi yang akan menghalangi kita," ucapnya menggenggam tangan Raya.
Untuk sesaat Raya merasa kesal dengan dirinya karena terlalu cinta pada pria itu, buktinya pria itu baru 20 menit di dekatnya, hatinya sudah luluh dan mau memaafkan pria itu.
Air matanya merebak. Sifat cengengnya pun keluar. "Kenapa kau menangis, Ray? apa ucapan ku ada yang salah? aku minta maaf sayang. Aku mohon jangan menangis," ujar Elrick menangkup pipi gadis itu dengan kedua tangan, menghapus dengan jemarinya.
"Benar kau tidak akan meninggalkan ku lagi?" ucapnya disela isak tangisnya.
"Aku bersumpah. Dalam kehidupan ini, hanya kau yang akan aku cintai. Aku tidak ingin siapapun selain kau," bisiknya mengelus pipi Raya. "Jangan menangis lagi sayang, aku semakin merasa bersalah karenanya..."
Raya mengangguk. Hatinya begitu gembira. Obat dari kesedihannya sudah tiba. Sebulan berduka, kini Raya hanya ingin tersenyum sembari mendengarkan debaran jantungnya yang bekerja lebih cepat.
"Kenapa baru sekarang mas Elrick datang? mas Elrick gak kangen samaku? katanya sayang, tapi baru sekarang muncul," ucapnya mengangkat wajahnya. Dia ingin memuaskan matanya menatap kekasih hatinya yang sempat menghilang.
"Aku harus menyusun rencana. Aku tahu tidak akan mudah mendapatkan persetujuan dari ayahmu. Aku sadar, aku sudah melakukan hal buruk dan sulit untuk dimaafkan, tapi aku akan buktikan kalau aku serius ingin menikahimu, aku akan perjuangkan cinta kita, Sayang."
"Rencana apa? kalau ayah tetap tidak setuju?"
"Aku akan duel dengan ayahmu."
"Dih, apaan sih," sambarnya dengan wajah cemberut.
"Hahahaha, aku cuma bercanda. Aku akan menikahimu dengan restu dari ayahmu. Aku sudah membeli sebidang tanah di sini, mau aku bangun hotel, jadi punya alasan untuk melakukan pendekatan dengan ayahmu."
"Hotel?" Raya ingat hotel yang akan dibangun di simpang empat yang tadi dia lewati. "Yang di simpang empat?"
Elrick mengangguk, seraya merapikan rambut Raya, menyelipkan dibelakang telinga wanita itu. "Kenapa harus hotel?" susul Raya.
"Supaya bisa menyerap banyak tenaga kerja, lumayan kan membantu para warga desa. Lagi pula, dibelakang hotel itu juga akan dibangun tempat wisata, jadi pasti akan banyak wisatawan yang berkunjung, dan perekonomian desa bisa terbantu."
"Aku gak suka kau berpikir akan hal itu. Aku hanya ingin diriku saja yang ada di sini," ucap Elrick membelai kening gadisnya. "Kalau aku sudah punya tempat di hati masyarakat di desa ini, maka otomatis banyak yang akan mendukungku mendapatkan mu, dan jadi bahan pertimbangan bagi ayahmu."
Raya mengulum bibirnya, pemikiran Elrick membuatnya geli. Jadi pria itu ingin membeli warga desa ini guna pendekatan terhadap ayahnya?
"Jangan ngejek dong."
"Aku gak ngejek, cuma senyum doang."
"Lagi pula, ayahmu juga perangkat desa, kalau warga desa memujiku, maka usahaku untuk mendekatimu lebih mudah. Ray, aku ingin membangun desa ini, sebagai bukti ketulusan ku padamu. Aku ingin semua orang yang dulu menghina dan memandangmu sebelah mata, bisa menunduk dan hormat padamu. Aku gak akan biarkan siapa pun memandangmu sebelah mata."
"Mas Elrick tahu dari mana aku dipandang sebelah mata?" ucapnya pelan. Dia jadi malu, karena tebakan pria itu benar.
"Ray, sehari setelah kau pulang ke sini, aku langsung menyusulmu. Aku tinggal di rumah pak Sutioso, mengamati lingkungan tempat mu tinggal dan juga mencatat siapa saja yang suka mencibirmu agar kelak bisa membalaskan semuanya pada mereka."
"Apa? mas Elrick udah sebulan juga di sini?"
Elrick mengangguk. Bahkan tidak hanya dirinya, Nani juga ada bersamanya dan juga Dipa yang dipaksa Nani ikut. Tapi besok keduanya akan pulang, karena Elrick sudah mulai menampakkan dirinya pada Raya.
"Rumah pak Sutioso bukannya kosong?"
"Dan sudah aku beli," sambar Elrick melengkapi kalimat Raya.
"Sampai segitunya, Mas?"
"Aku harus total. Demi mu, aku akan lakukan apa saja. Jadi, aku peringatkan jangan coba-coba pergi dariku," ucapnya menarik senyum di sudut bibirnya.
Asyik bicara, keduanya tidak mendengar langkah kaki masuk. Tepat saat sudah di dekat mereka, Darma menarik kemeja Elrick yang otomatis pria itu pun ikut tertarik, menyeret pria itu dan melemparkannya ke luar. "Berani sekali kau menginjakkan kakimu di rumah ku!" Bentaknya dengan suara menggelegar.
"Ayah," pekik Raya ingin mendekati Elrick, tapi dengan sigap ditarik oleh Darma.
"Diam! Kau masih mau berhubungan dengan pria brengsek ini? Ayah sangat kecewa padamu! Dia tidak pantas untuk mu, buka matamu, Ray. Baginya kau hanya mainan!"
"Om, aku mohon dengarkan penjelasan ku. Aku tahu aku salah. Aku mohon, aku punya alasan mengapa aku tidak datang hari itu, aku tidak bermaksud sengaja untuk tidak datang. Aku mohon, Om."
"Aku tidak mau mendengar apa pun alasanmu. Sekarang kau pergi dari rumah ini. Jangan pernah kau menunjukkan dirimu lagi di sini, dan ingat, jauhi anakku!"
"Maaf om, aku gak bisa. Bagiku, Raya adalah segalanya. Dia hidupku, aku mohon, izinkan kami bersama lagi, Om," ucap Elrick mengiba. Baru kali ini dirinya menjatuhkan harga dirinya, memohon sesuatu pada seseorang, yang biasanya akan dia dapatkan dengan mudah, hanya dengan mengandalkan uang dan kuasa, tapi tidak kali ini.