Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 90


Raya kembali dibawa pada masa itu, pada malam dia diperdaya dan berakhir dalam pelukan seorang pria yang bahkan dia tidak mengingat wajahnya.


Semua berputar, memorinya menemukan rangkaian kejadian malam itu yang selalu ingin dia lupakan. Kala mengingat peristiwa itu, Tubuh Raya gemetar hebat, takut dan setelahnya ada perasaan ingin mati saja.


Kalau diperko*sa, mungkin dia bisa ingat siapa pelakunya, bagaimana wajahnya hingga bisa dia laporkan, tapi ini, dia tidak mengingat apapun, parahnya, satu-satunya yang dia ingat setelah rontaan panjang dalam ketidaksadarannya, dia justru ikut bergabung dalam ga*irahnya sendiri. Desa*hannya lah yang justru dia ingat kala pria itu menenggelamkan wajahnya di perutnya.


Kadang Raya geram kenapa harus bagian itu yang disisakan ingatannya.


Dan kini, dia mematung mendengar kenyataan yang menampar wajahnya. Berita yang sedikitpun tidak pernah terpikirkan olehnya akan seperti itu kenyataan.


Otaknya sudah memerintahkan untuk segera pergi, berlari meninggalkan tempat itu dengan segala kenyataan pahit yang baru dia dengar, tapi kaki seolah sudah berakar menyatu dengan tanah yang dia pijak.


"Raya...," ucap Betty yang pertama sadar kala menoleh dan mendapati gadis itu sudah berdiri di sana, dengan wajah pucat dan bola mata melotot. Bahkan air mata yang mengalir ke pipinya tidak membuat gadis itu berkedip.


"Ray.... Sayang...," panggil Elrick yang juga ikut menoleh setelah telinganya mendengar nama itu disebut. Tidak hanya tubuh Raya yang bergetar hebat, Elrick juga, bahkan lebih parah. Rahasia terbesarnya kini telah diketahui oleh Raya.


Suara Elrick menjadi pengingat buatnya untuk lebih berusaha keras pergi dari sana. Dia berhasil menyeret langkahnya, namun pria itu terus mendekati.


"Berhenti di situ!!" perintah Raya, mundur alon-alon dengan sisa kekuatan yang ada. Matanya terus menatap wajah Elrick dengan pandangan tidak percaya, seolah ingin meyakinkan dirinya, ini semua tidak benar. Tidak mungkin orang yang selama ini dia banggakan, orang yang dia cintai, dan selalu dianggapnya dewa penolong nya, justru pria brengsek yang menikmati tubuhnya untuk pertama kalinya!


Lelucon takdir seperti apa ini! Raya tidak terima, kenapa hatinya yang selalu membanggakan Elrick selama ini kini harus tercoret dengan kenyataan menjijikkan.


Raya terus mundur, tapi Elrick juga tetap maju mengikuti langkahnya. "Aku bilang, berhenti di situ!"


"Aku gak mau, Ray. Aku tahu kalau aku membiarkan kau pergi, maka selamanya aku akan kehilangan dirimu. Sayang, dengarkan aku," ucap Elrick memohon, tangannya lurus ingin menggapai tangan gadis itu walau masih terbentang jarak.


Betty yang mengikuti langkah keduanya yang kini berdiri tepat di belakang Elrick ikut deg-degan melihat keadaan saat ini.


"Ray, kau harus mendengar penjelasan tuan Elrick. Tidak sepenuhnya ini salahnya, aku yang salah, Ray," ucapnya ingin membela Elrick.


Mereka kembali bertemu, karena entah siapa yang menunjuk, dia lah yang nantinya menjadi MC pada acara pernikahan mereka nanti. Betty meminta waktu bicara pada Elrick, perihal masalah ini dan dengan segala rasa bersalah yang menghantui dirinya karena sudah berbuat jahat pada Raya.


"Tutup mulutmu, Betty! Tetap di situ!" perintah Elrick dengan kasar, lalu kembali menghadap Raya. "Sayang, kita bicara, ya. Aku mohon...."


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Aku membencimu, dasar pria brengsek. Aku membencimu," teriak Raya berhasil mendapat kekuatan untuk berlari dari sana.


"Kau tunggu di sini. Jangan kemana-mana!" Ulang Elrick pada Betty, lalu berlari mengejar Raya.


Tenaga Raya yang saat ini sedang kalut, tentu saja tidak ada apa-apanya dibanding Elrick yang penuh ketakutan, seolah nyawanya diambang maut, hingga punya kekuatan untuk berlari mengejar Raya.


Lima menit saling mengejar, pria itu berhasil mendapatkan tangan gadis itu. "Sayangku, dengarkan aku. Aku mohon," ucapnya menarik tangan gadis itu, hingga berhenti.


"Lepaskan! Kau menjijikkan! Aku gak mau dengar apapun perkataanmu! Aku muak. Aku ingin segera menjauh darimu. Aku... aku gak mau bertemu denganmu lagi!"


"Sayang, gak bisa begitu, kita akan menikah besok. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon, aku ingin menjelaskan semua."


Glek!


Elrick susah payah menelan salivanya. Baru kali ini dia disebut predator. Mana dia tahu kalau gadis yang dia tiduri waktu itu akan ditakdirkan menjadi orang yang dia cintai. Malam itu dia hanya butuh wanita yang padanya ingin dia lampiaskan amarahnya karena mengingat ibunya.


"Ray, kau boleh marah. Bukan, seharusnya kau memang harus marah karena sudah mengetahui kenyataan pahit ini. Aku tahu aku salah, harusnya dari awal aku cerita, tapi aku memang pengecut, takut kehilanganmu hingga memilih untuk menahan rahasia itu dalam hati. Tapi kita tidak bisa membatalkan pernikahan ini, Sayang..."


"Kenapa pula gak bisa? bisa!" ucapnya melotot.


Elrick hampir putus asa menjelaskan pada gadis itu, meminta untuk mau bicara dengannya, dengan kepala dingin. Dia kalut, yang ada dalam pikirannya hanya jangan sampai mereka batal nikah. Untuk berada di tahap ini saja sangat susah, penuh perjuangan. Kalau sampai batal nikah, membuat sesajen untuk memohon pada Darma pasti tetap tidak akan mendapatkan izin pria itu lagi.


"Sayang, dengarkan. Kita sudah sangat susah mendapatkan izin ayahmu, kalau sampai batal lagi, sampai kapanpun, kita tidak akan direstuinya lagi."


"Baguslah. Aku memang berencana untuk tidak akan menikah dengan mu!"


"Ray!" pekik Elrick. Itulah hal yang paling dia takuti. Kalau sampai dia kehilangan gadis keras kepala itu. Mana Rayanya yang dulu, yang begitu lembut bicara padanya. Pelajaran pertama bagi Elrick, jangan main-main dengan seorang wanita. Kalaupun wanita itu adalah gadis yang sangat polos sopan dan juga lembut, kalau sudah menyakiti hatinya pasti akan berubah jadi singa betina yang siap menerkam!


"Apa?" sahut Raya gak kalah kuat.


Elrick putus asa, tapi sumpah demi apapun, dia tidak mau mundur! Elrick berpikir cepat. Apapun akan dia lakukan asal bisa mempertahankan gadis yang sangat dia cintai ini. Cara licik pun jadi lah, urusan dosa belakangan.


"Dengar, oke kalau kau tidak mau menikah denganku, tapi pikirkan ayah. Beliau akan malu, jadi bulan-bulanan orang kampung. Dia akan sangat malu, putrinya dua kali gagal menikah. Belum lagi, Oma. Dia sangat menyayangimu, kau tega mempermalukan dirinya untuk kedua kalinya?"


Elrick mengulum senyum. Raya tampak terpengaruh akan ucapannya, karena memang itulah yang diharapkan pria itu.


Raya lelah, pikirannya kacau hingga memutuskan untuk duduk di tanah yang saat ini tempatnya berpijak.


Yes! Setidaknya gak ada lagi drama lari-larian kayak di film India!


Elrick ikut duduk di samping Raya, hanya beberapa jengkal, dia juga gak mau cari mati dengan duduk mendempet gadis itu.


Raya seketika menoleh ke arah Elrick dengan tajam dan penuh kebencian.


Plak!


"Jelaskan semuanya sekarang juga!" Perintah Raya setelah menampar keras pipi Elrick.


*


*


*


Habislah kau Elrick, singa betina mu ngamuk🤭🤭🤭