
Raya tidak tahu lagi harus bagaimana menyembunyikan rasa malunya di depan Darma. Saat masih memasak tadi, Darma masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi, di susul dengan Elrick yang mengekor.
Raya tentu saja kaget, baru menyadari kalau ayahnya baru masuk ke dalam rumah. Seharusnya sudah sejak beberapa jam lalu pulang dari ngeronda. Gadis itu semakin merasa tidak enak hati dan tentu saja merasa malu.
"Ayahmu udah empat jam nunggu di depan, kelamaan kita buka pintu,"bisik Elrick menahan senyum.
Tapi hal itu justru membuat Raya sedikit kesal pada suaminya. Sementara ayahnya menunggu di luar, mereka malah asik senang-senang di dalam kamar mandi.
"Itu salah, Mas Elrick. Kasihan Ayah, kan?" sahut Raya pelan, kembali menghadap ke depan kompor, mulai membuat beberapa bakwan sayur untuk menemani nasi gorengnya.
"Kenapa jadi sal..."
Elrick menghentikan kalimatnya setelah mendapat pelototan dari sang istri. Hanya Raya yang bisa mengubah Elrick, si Singa menjadi kucing manis. "Lebih baik mengalah, dari pada panjang, ntar gue gak dikasih jatah lagi!" batinnya dalam hati.
***
Ruangan itu lebih cocok disebut kuburan dari pada ruang makan. Ketiganya makan dalam diam. Walau begitu, Pak Darma masih bisa menikmati sarapannya, berbeda dengan pasutri yang dia di dekatnya itu. Raya lebih parah, suapan nasi yang masuk ke dalam mulut bahkan harus digiring dengan air putih.
"Hari ini kita ke kebun, Yah?" tanya Elrick ikut duduk di depan setelah selesai sarapan. Elrick ingin menebus kesalahannya yang sudah mengurung mertuanya di luar, dengan menggantikan Darma bekerja di kebun, walau sejatinya dia juga sudah mengerti apa-apa.
"Memangnya kau sudah puas ngelonin istrimu lagi?"
"Belum, Yah... Eh, maksudnya...." Elrick menelan salivanya susah payah. Tampang bodohnya yang malu membuat Darma buang muka hanya untuk menutupi senyumnya. "Ayah suruh aku kerja apa aja, pasti aku kerjakan."
"Mau ngerjain apa? Tuh lihat diluar turun gerimis lagi," sahut Darma menatap keluar jendela.
Elrick mengekori pandangan Darma, benar saja di luar gerimis sudah turun lagi. Perasaan tenang mendengar dawai rintik hujan, ditambah dingin udara desa membuat suasana ini semakin romantis dan pas untuk... nah kan, pikirannya mesum lagi. Dia sudah bertraveling menjelajah tubuh Raya yang molek.
"Kok bisa sih, Raya seenak itu?" cicitnya dalam hati. Kini Elrick menjadi candu pada gadis itu. Diliriknya ke arah kamar, tempat gadis itu saat ini. Kalau saja Darma mau pergi ngeronda lagi siang ini, Elrick pasti sudah langkah seribu masuk ke kamar dan mulai men*cumbu Raya.
Benar tebakan Elrick. Raya memiliki gai*rah yang besar, yang selama ini tersimpan dalam dirinya, yang belum pernah dia keluarkan sama sekali, bahkan dia sendiripun tidak menyangka memiliki gairah sebesar itu.
Semakin dipikirkan, Elrick semakin tidak tahan. Dia rela menyerahkan beberapa persen sahamnya saat itu juga, pada orang yang bisa mengajak pak Darma keluar rumah, kalau bisa mengajak naik gunung untuk berkemah. Sumpah demi apa, Elrick masih ingin nambah.
Ini gak benar. Semakin lama lagi dalam keadaan seperti ini, dia bisa gila. Dia harus mengambil langkah. "Ayah..."
Darma menoleh, setelah meletakkan cangkir kopi di atas tatakan.
"Maaf, Yah. Besok kami harus sudah balik ke Jakarta. Banyak kerjaan yang sudah lama aku tinggalkan, dan harus segera diselesaikan," ucap Elrick yang tidak semuanya bohong. Demi mengatur bisa berdekatan dengan Raya, dia sudah menjalankan perusahaannya dari desa, meeting dengan zoom, dan kegiatan lain lewat online.
"Besok? kenapa cepat sekali?" jawab Darma mulai sedih. Selama hampir seminggu tinggal bersama anak dan mantunya, Darma merasa lebih hidup, lebih bahagia. Rumah besar itu tidak lagi sepi karena kehadiran Raya dan Elrick. Besok mereka kembali, hidupnya kembali sepi, hanya ada seorang diri.
"Iya, Yah. Kalau ayah mau, ikut saja dengan kami. Biar ayah gak kesepian," lanjut Elrick. Dia paham kesedihan dan berat hati Darma melepas kepulangan mereka.
"Gak usah. Ayah di sini saja. Kalau kalian punya waktu, datanglah jenguk ayah."
"Baik, Yah. Kami janji kalau ada waktu, pasti sering ke mari."
***
Elrick harus kembali ke rumahnya untuk mengambil segala keperluannya yang dia tinggalkan. Satu keluarga yang bertugas menjaga dan membersihkan rumah mewahnya, sudah diberi sejumlah uang sebelum pamit pulang besok. Dia pulang dari rumah mertuanya dan tidak akan singgah lagi di rumahnya besok.
"Ini kebanyakan, tuan," sahut Dadang ketika Elrick memberikan satu ikat uang merah lagi.
"Kalau yang ini, saya mau minta tolong sama pak Dadang, untuk memperhatikan mertua saya. Kalau ada apa-apa langsung kabari saya. Dan tolong, Bu Reni, masakin makanan untuk beliau yang diantar oleh pak Dadang nantinya. Kalau saya yang kasih satu pembantu di rumah itu, mertua saya tidak akan setuju, jadi biarlah untuk urusan masak, Bu Reni yang mengurusnya," ucap Elrick memberi perintah.
Dia sudah menduga kalau mertuanya tidak mau ikut dengan mereka ke Jakarta, bagaimanapun, senyaman-nyamannya di rumah anak, lebih nyaman di rumah sendiri, walau sederhana.
Kemarin, Elrick juga sempat mengutarakan pada Raya niatnya mencari pembantu untuk bekerja di rumah Darma, tapi dengan cepat, Raya menolak. "Ayah tidak akan setuju. Ayah tipe mandiri, sejak dulu suka ringan tangan mengerjakan dan melengkapi kebutuhannya sendiri. Yang ada, nanti ayah jadi tersinggung."
Sebelum pulang, Elrick singgah di swalayan kecil yang dia lewati, membeli hampir semua isi yang ada di swalayan itu. Tempatnya kecil dan barang didalamnya juga tidak lengkap. Tapi kata orang-orang sekitar, justru swalayan itu yang terbesar di desa ini.
Elrick melihat peluang bisnis. Walau di sana belum terlalu maju sumber manusianya, tapi semua orang di desa ini rata-rata memiliki tanah yang luas dan rajin bekerja di sawah. Hasil panen pun melimpah, walau niat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi masih kurang.
Pemikiran masyarakatnya cenderung pendek. Usia 16 sudah memikirkan cari suami atau istri. Berkembang biak di desa itu, tanpa keinginan mengubah nasib di kota.
Dengan sedikitnya prasarana di desa itu, Terpikirkan oleh Elrick untuk membangun sebuah mal di desa ini. Langkah awal tidak perlu mall yang besar sekelas Central Park atau pun Grand Indonesia. Hanya mall sederhana sekelas Hyper*mart saja pasti sudah senang.
Seorang pengusaha pasti jeli melihat peluang bisnis yang menguntungkan.
Banyaknya belanjaan yang dibeli Elrick bahkan membuat pelayan swalayan itu tersenyum aneh padanya. Dia seperti bukan sedang membeli tapi menjarah toko.
Elrick tahu, mertuanya masih mampu membeli yang dia beli ini, hanya saja dia ingin memastikan keperluan Darma terjamin sebelum mereka meninggalkannya seorang diri.
"Sayang, aku pulang," sapa Elrick kala melihat Raya berdiri di depan pintu kamar, melipat tangan di dada, dan Elrick tebak sedang menunggunya.
"Mas kenapa udah bilang ke ayah kita pulang besok, sementara sama ku, Mas Elrick gak ada ngomong? kenapa mutusin sepihak sih, Mas?!"