Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 76


Keluarga Diraja heboh menyiapkan keperluan untuk pesta pernikahan Elrick dan Raya. Semua menyambut gembira akan kabar itu. Oma bahkan sudah meminta desainer untuk membuat kebaya putih gading yang akan digunakan Raya nanti.


Kalau menuruti keinginan Nani, dia ingin menggelar pesta pernikahan cucunya dengan megah, tapi Elrick menahannya. Dia sudah berjanji pada Raya, untuk mengabulkan permintaan gadis itu, untuk mengadakan pernikahan ini dengan sederhana.


Raya yang masih tidak percaya diri karena statusnya belum berani untuk menampakkan diri sebagai istri seorang Elrick Diraja.


Apapun keinginan Raya pasti Elrick kabulkan, dan termasuk hal ini. Dia setuju kalau pernikahan mereka ini menjadi momen sakral yang hanya dihadiri oleh keluarga inti, tidak dengan mewah dan hiruk pikuk orang-orang yang memasang wajah palsu, yang berusaha menjilat dan mengambil hatinya agar bisa menjalin kerja sama dengan perusahaannya.


Darma juga sedang dalam perjalan menuju Jakarta. Pria itu tentu saja shock mendapatkan kabar dari Raya kalau dia akan segera menikah Minggu depan. Darma sempat melarang, mengatakan kalau pernikahan yang buru-buru tidak akan menghasilkan rumah tangga yang baik.


"Kau harus lebih lama mengenalnya. Ayah tidak ingin kau mengalami kegagalan untuk kedua kali. Dulu dengan Dika juga kau hanya sebentar saling kenal, lihat sekarang," ucap Darma melalui sambungan telepon malam itu.


"Tapi aku yakin, Ayah. Aku dan mas Elrick akan bahagia. Aku mohon restui pernikahan kami ya, Yah," ucap Raya sembari terisak.


Hati Darma meleleh akan tangisan putrinya hingga memutuskan untuk menyetujui pernikahan mereka.


Hari-hari terus berlalu. Raya disibukkan dengan Fitting gaun dan juga perawatan seluruh tubuh yang dipaksa oleh Nani. "Apa aku jelek banget ya, Oma, sampai wajah harus dibegini begitukan?" Raya sudah bosan sejak tadi dioles berbagai macam krim dan lotion kecantikan.


"Kau sangat cantik. Tapi Oma ingin kau lebih memukau saat malam pertama kalian nanti. Jadi, jangan banyak protes, percaya saja pada Oma."


Tidak ada yang bisa dilakukan Raya selain menurut. Dia terlalu bahagia untuk merisaukan hal kecil seperti itu.


Hanya saja, tidak selamanya kebahagiaan yang datang pada diri, orang lain ikut merasakannya. Sejak Dipa meminta penjelasan langsung dari Raya perihal kabar dirinya yang akan dinikahi Elrick, pria itu sama sekali tidak pernah muncul lagi di rumah Oma. Dalam hati Raya, tentu saja ada kekhawatiran, tapi untuk menghubungi Dipa, menanyakan keadaan dan kabar pria itu, Raya tentu saja tidak punya kapasitas.


***


Seharusnya hitungan hari menjelang pernikahan, hanya ada kebahagiaan bagi calon pengantin, tapi tidak bagi Raya. Besok adalah hari pernikahan mereka tapi Elrick belum tiba juga dari Bali.


"Aku akan segera tiba sayang, jangan khawatir. Sekarang kau istirahat saja, biar besok tampil cantik." Elrick tersenyum membayangkan pengantinnya yang akan tampil sangat cantik. "Aku merindukanmu," lanjutnya.


"Ray..."ulangnya lembut karena tidak mendapat jawaban dari gadisnya. Tubuhnya sudah sangat lelah, seandainya tanda tangan kerjasama ini bisa diwakilkan, maka dia akan menugaskan Bagas, tapi pria bule yang menjadi partner itu meminta dirinya langsung hingga tidak memberinya pilihan lain.


"Aku juga..."


***


Pukul 11 malam Elrick sudah tiba di apartemennya. Tenaganya sudah terkuras habis karena tiga hari yang sangat melelahkan dan membuatnya tidak bisa tidur.


Namun, membayangkan wajah cantik calon istrinya dapat membuatnya sedikit lebih bersemangat. Besok Raya akan menjadi istrinya, dan tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka.


Membayangkan rumah tangga yang bahagia harmonis, tiba-tiba Elrick teringat hal penting yang sampai detik ini belum dia bahas dengan Raya. Dia bingung, apa hal itu penting untuk dibahas saat ini. Kalau pun Raya tahu dia yang sudah merenggut kehormatannya, tapi sekarang, dia juga yang akan bertanggungjawab untuk hidup Raya seterusnya. Seharusnya hal itu tidak menjadi satu masalah lain, tapi mengapa tetap saja dia merasa tidak tenang.


"Aku pikir kau sudah lupa padaku," sambut suara Raya dari seberang sana. Dia sudah lama menantikan telepon dari pria itu.


"Dasar gadis bodoh. Mana mungkin aku melupakan calon istriku. Kau sudah makan? apa yang sedang kau lakukan?"


"Aku? Tidak ada. Yang aku lakukan hanya memikirkan mu," ucapnya dengan malu-malu. Dia menjadi lebih berani mengekspresikan dirinya setelah berhubungan dengan Elrick.


"Benarkah? Betapa beruntungnya aku ada dipikiran gadis secantik dirimu."


Raya tersenyum, tersipu malu, padahal orang yang memujinya tidak ada dihadapannya.


"Ray..."


"Mmmm...?"


"Ada yang ingin aku katakan padamu," ucapnya dengan nada ragu. Harusnya hal seperti ini dia katakan langsung. Tapi Elrick tidak punya waktu. Dia tidak mungkin diizinkan bertemu dengan Raya, Darma akan mencekik lehernya kalau menggedor pintu rumah mereka selarut ini. Kalau harus menunggu besok, pukul sepuluh pagi mereka sudah melangsungkan pernikahan. Jadi, walau terkesan tidak gentle, dia akan mengatakan pada Raya malam ini juga dan berharap gadis itu bisa mengerti dan memaafkannya.


"Ray... aku ingin mengatakan satu hal penting padamu. Tapi aku bingung harus memulainya dari mana...."


"Kenapa harus bingung? Katakanlah. Apa ini penting?"


"Sepertinya begitu," sambar Elrick menimbang.


"Kalau begitu katakan saja, Mas. Kata Ayah, rumah tangga yang didasari adanya rahasia antara suami istri, akan susah nantinya. Kejujuran adalah landasan utama sebuah hubungan suami istri."


Ayah? Elrick ingat akan pria itu. Kalau Raya bisa menerima, bagaimana dengan pria itu, apakah akan tetap mengizinkannya menikahi putri yang paling dia sayangi ini?


"Ray, apakah ayahmu tidak menyukaiku?"


"Ayah? Ayah tidak pernah mengatakan kalau dia tidak menyukai mas Elrick. Kalau dulu kalian bertemu, dan sikap Ayah begitu dingin pada Mas, itu semua karena dia ingin melindungi ku, dia gak mau ada pria lain yang menyakitiku. Dalam dunia ini, orang yang paling dibenci ayah, hanya pria brengsek yang sudah merenggut kegadisanku, pada malam terkutuk itu!"


Duar!


Nyali Elrick menciut. Wajahnya memucat seperti baru saja melihat hantu. Bagaimana mungkin dia berkata jujur pada Raya malam ini, bisa-bisa mereka gagal menikah.


"Sebenci itu ayahmu padanya?" gumam Elrick tanpa sadar, tapi masih bisa didengar Raya.


"Sangat. Aku juga. Aku tidak akan sudi bertemu dengan pria brengsek itu apalagi untuk memaafkannya!" sahut Raya lemah. Dia bukan gadis pendendam, tapi setiap kejadian naas itu datang dalam mimpinya, Raya akan histeris dan menangis ketakutan.


Perasaan Elrick semakin hancur berkeping-keping. Dia sangat mencintai Raya, dan tidak ingin pernikahan mereka batal, jadi tidak punya pilihan lain, dia memutuskan untuk menyimpan rahasia itu sampai mati.