Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 11


Paris sudah duduk di atas jok motor sportnya, menunggu Sidney datang menghampirinya. Dia yakin, gadis itu pasti mau pulang bersamanya. Lima menit berlalu, Sidney masih belum terlihat.


Dia tidak mungkin kembali ke dalam dan menyeret gadis itu. Tapi untuk pergi pun, dia mereka tidak mampu, setengah hatinya tinggal bersamanya di sana selama Sidney belum ikut bersamanya.


Ini juga tolak ukur bagi Paris untuk bisa menebak perasaan Sidney yang sesungguhnya pada dirinya.


Paris memejamkan mata, mencoba lebih menyatu dengan sekitar hingga saat Sidney datang, langkahnya bisa terdengar.


Sepuluh menit berlalu, tidak ada tanda kalau Sidney akan datang. Paris sudah putus asa, mungkin cintanya bertepuk sebelah tangan.


Dengan kekalahan di dadanya, Paris menghidupkan motornya untuk pulang. Sayup-sayup telinganya mendengar langkah kaki dari arah belakang. Melalui kaca spionnya dia melihat gadis yang sejak tadi dia tunggu.


Sidney melengkungkan tubuhnya, memegang dengkul sembari terengah-engah karena berlari sejauh itu.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut keduanya, hanya saling menatap seakan lewat tatapan saling mengerti apa isi hati masing-masing.


Sidney naik ke motor Paris dengan susah payah. Ini kali pertama gadis itu ke atas motornya dan menjadi satu-satunya gadis yang pernah dia antar. Saat kencan dengan Cici atau pacar-pacar sebelumnya, Paris meminta untuk bertemu di tempat tujuan saja.


"Pakai ini," Paris sudah memasangkan helm pada Sidney dengan memutar tubuhnya. Tatapan mereka beradu lagi, menimbulkan rona merah di wajah keduanya.


***


Acara terus berlanjut, semua tampak bergembira. Hanya seseorang yang mengikuti acara itu yang tampak murung, dan juga gelisah.


Tita tidak menyangka dia akan peduli bahkan tertarik hingga sejauh ini dengan Dipa. Pria itu masih bersikukuh mendekatinya walau Tita sudah tegas menolak.


Dan kini, Tita takut kalau apa yang dikatakan Dipa dibuktikan pria itu. Dipa memaksa untuk datang ke sekolah untuk menjemputnya pulang.


Berkali-kali wanita itu mengedarkan pandangan, menelisik satu per satu dari kerumunan orang, apakah ada Dipa di sana. Tepat ketika seorang siswi mendatanginya dan berbisik di telinga.


"Miss, itu calon suami Miss nungguin di depan gerbang belakang. Miss diminta pulang, Pulgoso sakit."


Wajah heran Tita sekaligus tegang mengagetkan siswi kelas satu yang tidak tahu apa-apa itu.


"Calon suami? Dia kemari?" batinnya deg-degan. Wajahnya pucat, dan sangat ketakutan. Tita menyeret langkahnya. Momok menakutkan tercipta di wajahnya setiap mendengar nama itu. Tapi untuk apa dia datang, tidak biasanya.


"Maaf, Pak, Bu, saya pulang duluan ya. Ada keperluan keluarga," ucapnya pamit pada rekan guru yang masih setia menikmati acara itu.


***


Tita mencari mobil CR-V hitam yang sudah biasa dia kenali di parkiran belakang pintu gerbang sekolah, tapi mobil itu tidak ada di sana. "Apa siswi tadi salah bilang tempat, ya?" Cicitnya.


"Aku pikir kau tidak akan datang," ucap Dipa dengan senyum cerianya. Betapa gembira kala melihat Tita mendatanginya, artinya dia mengakui kalau Dipa adalah calon suaminya.


"Kau? Di sini?" Tanya Tita celingak-celinguk melihat sekitarnya, wajahnya yang tapi tampak pucat kini semakin memutih. Debar jantungnya semakin kencang, seolah takut kalau seseorang melihatnya berdua dengan Dipa malam ini.


"Iya, aku yang memanggilmu. Apa kau menunggu yang lain?"


"Lepaskan. Anda sudah keterlaluan! Saya ini guru keponakan Anda."


"Anda? Kau memanggilku dengan sebutan Anda? Menjaga jarak dariku? Lalu apa arti ciuman tempo hari itu?" Susul Dipa tidak ingin memberi ruang pada Tita untuk mencari alasan.


Tita diam. Rona merah kembali hiasi pipinya. Dengan gamblangnya Dipa mengingatkan kejadian malam itu, kesalahan yang diperbuatnya hingga dia sendiri tidak bisa lepas dari pria itu. Ciuman itu sudah berhasil menyihirnya, hingga selalu memikirkan Dipa yang dia tahu tidak pantas untuknya.


"Ayo kita pergi dari sini," ucap Dipa lembut, menarik langkah Tita untuk ikut dengannya. Gadis itu menolak, menghentikan langkahnya saat Dipa sudah membukakan pintu untuknya.


"Aku gak bisa," desisnya seolah menimbang konsekuensi yang akan dia terima nanti.


"Aku mohon. Aku ingin bersamamu malam ini. Aku janji, tidak akan terlambat mengantarmu pulang. Please," mohon Dipa dengan mengatupkan kedua telapak tangannya.


Tita kalah. Hatinya menang. Hatinya mengikuti apa yang sebenarnya Tita inginkan tapi takut untuk mengakuinya.


Mobil Dipa melaju di jalanan ibukota. Malam ini sepertinya tidak bersahabat untuk para muda-mudi yang tengah dimabuk cinta. Hujan turun, walau tidak deras tapi mampu membuat beku hati Tita.


Gadis itu menangis. Dia bingung harus bersikap bagaimana. Seharusnya dia tidak mengenal pria yang ada di sampingnya ini. Pria yang sudah berhasil mencuri hatinya dengan begitu saja.


Perhatian Dipa yang tidak pernah dia dapat dari siapapun membuatnya luluh, tapi sekaligus takut. Hampir tiap hari, Dipa memesan makan siang melalui aplikasi yang ditujukan untuk Tita. Dipa juga sering menghubungi, atau kalau gadis itu tidak menjawab teleponnya, Dipa akan menghujaninya dengan pesan yang mampu buat gadis itu tersenyum.


Sejujurnya, dengan kehadiran Dipa, Tita menjadi manusia kembali, bukan zombi ataupun boneka yang bernyawa tapi tidak berharga.


Dipa menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia tersentak karena mendengar suara tangisan Tita yang tiba-tiba keluar namun masih coba dia tahan.


"Tita, kau kenapa? Kenapa kau menangis? Apa aku sudah menyakiti hatimu? Aku minta maaf kalau sudah memaksamu untuk pergi denganku. Kalau kau ingin kembali ke sekolah atau ingin pulang, akan mengantar mu sekarang," ucap Dipa memiringkan duduknya menghadap Tita, kedua tangannya menangkup wajah cantik nan rapuh itu agar menatap matanya.


Bulir air mata terus turun di pipi Tita yang buat Dipa semakin merasa bersalah. Dia pikir Tita menangis karena dia terlalu memaksa kehendaknya untuk membawa gadis itu pergi.


"Ta... aku mohon bicara. Aku gak tahan lihat kau menangis seperti ini," bisik Dipa lembut, menghapus jejak air mata di pipi Tita dengan jemarinya. "Kau marah padaku? Kita pulang?"


Tita menatap Dipa dengan mata yang masih berkaca-kaca. Seolah ingin menjerit, kalau bebannya terasa berat. Dipa tidak menduga, reaksi Tita berikutnya. Gadis itu masuk ke dalam pelukan Dipa. Menangis sejadi-jadinya di dada pria itu membasahi kemeja katun premium yang saat itu Dipa kenakan.


Dipa yang masih bingung, hanya membelai rambut Tita, merasakan bahu gadis itu terguncang hebat karena tangisnya. Dia tidak lagi menahan gejolak di dadanya, dia ingin melepaskan semuanya.


Puas menangis, Tita melerai pelukan mereka, lalu tanpa diprediksi Dipa, gadis itu menyatukan bibir mereka.


*


*


*


Hai semua, sepi amat belakang ini, gak ada yang nge gift. Sedih deh daku🥺🥺