
Elrick pikir kalau dua orang yang saling mencintai hidup dalam satu rumah tangga, pasti hal gembira dan penuh cinta yang tercipta, tapi kenyataannya tidak selalu seperti itu. Tapi dia menikmati setiap prosesnya.
Seperti saat ini, istri cantiknya sedang ngambek padanya. Sejak makan malam hingga mereka masuk ke kamar, Raya masih mengunci mulutnya.
"Katanya dosa loh, seorang istri mendiami suaminya, apa lagi kalau suaminya cakep," ucap Elrick menggoda Raya yang tidur membelakangi dirinya.
Teringat akan dosa, Raya segera duduk, menatap ke arah Elrick yang kelabakan di perhatikan secara tajam oleh sang istri. Bagaimanapun dia masih umat Allah yang takut dosa.
Elrick pun ikutan duduk. Wajah Raya sudah berubah serius mana mungkin dia mau bercanda. "Oke, aku salah. Aku minta maaf, Sayang. Ke depannya kalau ada keputusan apapun, pasti aku bicarakan denganmu. Jangan marah lagi, ya," ucap Elrick melingkarkan tangannya di pinggang Raya, sembari meletakkan dagu di pundak gadis itu. Tapi lama kelamaan, Elrick melupakan niat awalnya, karena sekarang Elrick sudah mengendus lalu mengecup lembut leher mulus Raya.
Kalau sudah begini, mana mungkin dia bisa marah lagi pada suami nakalnya itu. "Udah dong, Mas."
"Janji dulu gak akan marah," ujar Elrick lalu kembali mengecup setiap jengkal kulit leher Raya. Tidak sampai di sana, dia malah menurunkan leher baju tidur Raya yang model baby doll hingga menunjukkan tulang selangka Raya yang melintang hingga sampai batas dadanya.
"Mas...."
"Maafin gak?"
"Iya. Lepasin," jawab Raya.
"Main kuda-kudaan yuk, Yang," ucapnya mulai menunjukkan niatnya.
"Dih!" Raya menoleh menatap wajah Elrick yang membalas dengan senyum manisnya yang berhasil membuat jantung Raya berdebar kencang. Melihat Elrick sedekat ini begitu memuaskannya.
"Pengen, Yang. Yuk, sekali aja."
"Gak. Malu kalau sampai kedengaran sama ayah," tolak Raya menangkup kedua pipi Elrick yang kini tidak mulus seperti biasa. Banyak bulu-bulu yang tampak tajam menempel di wajahnya.
"Jadi malam ini, si Boy puasa?"
Tatapan memelas Elrick nyatanya menggelitik hatinya. Dia hanya bisa mengangguk, dengan bola mata berbinar.
"Ya, udah. Gak papa, besok jadi di double ya, jatahnya," bisik Elrick menarik Raya berbaring di pelukannya. Raya yang merasa malu karena pikirannya sudah melayang jauh dengan kegiatan bercinta mereka hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
"Jadi kita pulang besok?" tanya Raya memainkan jemarinya di dada Elrick, membentuk gambar hati, lalu menuliskan inisial nama mereka berdua.
"Iya, Sayang. Kerjaan udah menumpuk di kantor. Minggu depan juga harus ke Australia."
"Ke Australia? luar negeri?" Raya mengangkat kepalanya, memperjelas keraguannya. Elrick tersenyum dan mencubit lembut pipi Raya sembari mengangguk.
"Berapa lama Mas di sana?" Ada nada tidak rela. Baru juga seminggu menikah Raya sudah harus ditinggal.
"Seminggu, dan yang pergi kita berdua."
"Kita berdua? Aku ikut?"
Kembali Elrick mengangguk. Kali ini tidak tahan melihat mimik wajah Raya yang menggemaskan, dan memilih mencium sekilas bibir merah sensual itu.
"Kenapa aku ikut? Mas Elrick kan ke sana kerja," tukasnya masih mengamati wajah pria itu.
"Sekalian bulan madu," sambar Elrick.
***
"Sudah, sana. Suamimu sudah menunggu," ucap Darma melerai pelukan mereka. Mata Raya masih memerah dan sedikit bengkak.
"Yah, kami pamit dulu," ujar Elrick mencium punggung tangan Darma.
"Kalian baik-baik ya. Elrick, ingat pesan ayah padamu. Aku mengizinkanmu untuk menikahi Raya, agar dia dijaga dengan baik, dilindungi dan juga dicintai. Jika suatu hari dia berbuat salah, atau pun kau sudah bosan padanya, ayah mohon jangan pukul dia. Dia permata hati Ayah, tidak akan sanggup melihatnya menderita dan menitikkan air matanya, jadi cukup kembalikan dia pada Ayah."
Untaian kalimat Darma membuat Raya semakin terisak hingga tidak tahan dan berlari masuk dalam pelukan ayahnya. "Sudah, sekarang kau ikut dengan suamimu. Elrick sekarang adalah suamimu, apapun yang dia katakan, harus kau ikutkan. Kemanapun dia melangkah, kau harus ikut dengannya, karena tempat seorang istri adalah di samping suaminya. Jadilah istri yang bijaksana bagi keluarga kecilmu," ujar Darma menghapus punggung Raya yang masih terisak.
Raya menoleh ke belakang, melalui kaca mobil terus memperhatikan ayahnya yang masih setia mengamati mereka. Tangisan Raya kian kencang, hingga cairan di hidungnya juga ikut membanjiri wajahnya. Penuh kasih, Elrick menyeka dengan tisu yang ada di dashboard mobil yang diserahkan oleh supirnya.
"Sudah sayang, jangan nangis lagi nanti kepalamu sakit. Bulan depan kita kunjungi ayah, kita aja ikut liburan ke kota," tukas Elrick menenangkan hati istrinya. Mobil sudah keluar dari desa itu, barulah Raya mau mengikuti permintaan Elrick yang memintanya untuk merebahkan kepala di dadanya.
Bagaimanapun, ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Jika setelah dewasa ada pria yang juga mencintainya, hal itu tidak akan pernah mengubah kedudukan sang ayah di hari putrinya. Elrick tahu itu, jadi membiarkan Raya terus menangis hingga lelah dan terlelap.
***
Beberapa jam kemudian, Mereka sudah tiba di ibukota. Sopir yang ditugaskan Elrick sudah siap sedia menunggu pesawat mereka landing. Kepulangan mereka tentu saja disambut antusias oleh Nani yang berulang kali tidak henti-hentinya menghubungi, meminta mereka segera datang ke rumah neneknya.
"Gak usahlah. Kita istirahat di apartemen kita aja," ujar Elrick menolak. Selain karena pekerjaan di kantor, Elrick buru-buru pulang ke Jakarta juga karena ingin menghabiskan waktu berdua dengan istrinya. Mereka pengantin baru, tapi belum mendapat waktu leluasa untuk berduaan.
Karena teleponnya tidak diangkat Elrick lagi, Nani tidak kehabisan ide, dia menghubungi nomor Raya yang dia yakini pasti akan diangkat oleh gadis itu.
"Iya, Oma?"
"Kalian sudah dimana? Oma tunggu sekarang di rumah. Kau jangan ikut-ikutan jadi tidak sayang pada Oma. Suamimu itu memang cucu durhaka. Kalian kemari ya, Nak. Nginap di sini," pinta Oma memelas hingga Raya tidak sanggup untuk menolaknya.
"Mas, putar arah, kita kembali ke rumah Oma."
"Gak mau ah, Sayang. Aku gak ingin membagi dirimu dengan orang lain, walaupun itu keluarga ataupun Oma ku sendiri."
"Gak boleh gitu, Mas. Kita ke sana, ya?" pinta Raya lembut, mengelus lengan Elrick yang sejak tadi jadi tempat dia merebahkan kepalanya.
"Gak. Kita ke apartemen. Lusa aja ke sana."
Raya diam sesaat sembari menatap wajah Elrick. Pria itu pantas dijuluki pria egois, kalau udah sekali tidak, ya tidak. Tapi Raya juga merasa tidak baik sebagai anak mengabaikan Oma.
"Ya, udah kalau gitu, aku aja yang ke rumah Oma. Mas ke apartemen," ucapnya menjauh dari Elrick, menggeser duduknya ke dekat jendela, membuang tatapannya ke luar sana.
Benarkan, Elrick jadi serba salah. Saat akad nikah dia sudah bersumpah dalam hatinya akan memberikan apapun yang gadis itu minta, mengikuti semua keinginan gadis itu asal Raya bahagia.
"Ton, putar mobil. Kita ke rumah Oma!"
*
*
*
Big bos segarang singa, kalau udah ketemu pawangnya, ngikut dah ðŸ¤ðŸ¤