
"Akhirnya lo nongol juga. Kenapa lama, sih?" sosor Gisel begitu Lani masuk ke dalam ruang VIP yang ada di restoran tempat mereka janjian.
Lani mengamati seisi ruangan. Sangat mewah, ruangan yang dilengkapi layar televisi besar yang saat itu memutar video klip lagu-lagu easy listening.
"Duduk, lo. Malah bengong!" hardik Gisel menyadarkan Lani dari wajah bengongnya. Ini kali pertama dia masuk ke tempat seperti ini.
"Yang lain mana?" tanya Lani yang memang mendapati hanya ada Gisel di sana.
"Belum pada datang. Mungkin... eh bentar, ya," jawabnya mengangkat tangan, meminta izin untuk menjawab teleponnya.
"Halo, Beb... iya, kenapa? Oh, boleh. Malam ini? bisa kok, Om. Apa sih yang gak boleh buat Om. Tapi tambahi dari yang biasa ya. Gisel lagi perlu banget, mau beli tas yang udah lama Gisel ingin beli. Beneran Om? Duh, Om memang paling baik deh. Oke, Om, kirim serloc aja nanti lokasinya ya, Om. Bye..."
Panggilan itu berakhir. Diam-diam Lani yang sedang menyedot minumannya yang sudah dipesankan Lani sebelum dia datang, mendengarkan perbincangan Lani dengan seseorang yang dipanggil Om itu.
"Siapa, Sel?"
Gisel tersenyum. Dikibaskan nya rambut panjangnya ke belakang. "ATM berjalan gue, kenapa lo mau? biar gue cariin buat lo," ucap Gisel tersenyum.
"Hah? maksudnya, kamu... "
"Kenapa? ngomong aja, gak papa, kok." Sambar Gisel tahu rasa canggung Lani padanya.
"Mmm... maksud aku, kamu sama om tadi..."
Gisel mengangguk. "Biasa aja dong mimik wajah lo. Hal itu udah biasa kali. Lo pikir kita-kita bisa hidup mewah dari mana? gue, Luna, Bunga, kita semua peliharaan om-om. Zaman sekarang udah biasa kali."
"Meyra juga?"
"Kalau dia gak. Pacar dia tajir, bo. Apa yang dia minta selalu didapat. Beruntung banget sih emang dia."
"Bukannya kalian itu model?" tanya Lani lebih lanjut. Dia salah duga selama ini. Dia pikir keempat teman-temannya adalah orang berprestasi, terkenal dan juga kaya. Nyatanya, mereka kaya karena jual diri secara elegan.
"Iya, lo pikir kita bisa semewah ini kalau hanya ikut catwalk sana sini? Nih, ya gue kasih tau sama lo, di dunia showbiz kayak kita gini, udah hal biasa pasang dua job. Banyak kok artis-artis yang di depan umum jadi artis dibalik layar temani om ini om itu, jadi bukan hal aneh lagi. Lo juga kalau mau, gue bisa cari kan. Dengan punya ATM berjalan, lo bisa beli ini itu tanpa mikir, bisa makan apa pun yang lo suka, dan lo bisa healing kemana pun lo suka. Dalam atau luar negeri gak jadi soal," terang Gisel semakin bersemangat karena melihat raut wajah Lani yang sangat antusias.
"Tertarik?" susul Gisel. Lani menyelipkan beberapa helai rambutnya ke balik telinga. Sungguh dia tergoda. Siapa yang tidak ingin punya kehidupan seperti teman-temannya. Punya tas, sepatu pakaian branded, juga bisa beli apa saja yang mereka inginkan. Party setiap saat kapanpun dimana pun.
"Tapi aku punya suami, Sel," jawabnya lemah. Dia mencintai Dika, tidak hanya hartanya. Tidak mungkin dia mengkhianati Dika, sudah sejauh ini perjalanannya mendapatkan posisi sebagai istri Dika.
"Alah, gampang lah itu. Om-om ini juga jarang kok minta temani malam hari. Biasanya mereka minta ditemani bobo siang, karena malam harus di rumah bareng anak dan istrinya," ucap Gisel meyakini Lani.
Bukan tanpa alasan dia menawarkan Lani. Sejujurnya, setelah perawatan, Lani menjadi gadis yang cantik, dan memiliki tubuh yang indah, dada yang besar yang pastinya sangat disukai para lelaki. Kalau dia bisa mencarikan pelanggan untuk Lani, Gisel pasti akan mendapatkan uang masuk. Dia bisa memainkan harga, untuk Lani berapa persen, dan untuk dirinya berapa persen tanpa sepengetahuan Lani.
"Aku takut, Lan. Jujur aku sangat mencintai suamiku," ucap Lani masih ragu.
"Ngapain lo takut, gak bakal deh ketahuan. Gini ya, paling sial juga kalau ketahuan, lo paling dicerai, terus kenapa? lebih baik lagi hidup happy kayak kita gini tanpa aturan. Mau uang dapat, mau se*x nya juga dapat. Kurang apa lagi coba?"
Lama Lani diam. Memahami omongan Gisel. Sedikit banyak sudah meresap kedalam otaknya. (Memangnya Lani ada otaknya ya?)
Iman Lani tergoda. Dia memang sudah masuk dalam lingkaran ini, dan dia menikmatinya. Dia gak mau untuk kembali menjadi Lani yang dulu, yang apa-apa mikir dulu untuk beli. Menikah dengan Dika memang membuatnya mampu membeli apa yang dia inginkan, tapi barangnya hanya kawe super. Belum lagi karena ada mertuanya, Dika semakin mengurangi jatah bulanan.
Dulu Dika masih percaya meletakkan dompet dan ATM nya dimana saja di dalam kamar, sekarang, dia menyimpan jauh entah dimana, hingga dia tidak bisa lagi mengambil uang Dika. Lani curiga kalau dompetnya disembunyikan di kamar ibunya, makanya dia tidak bisa menemukannya walau Dika sedang mandi sekalipun.
Meminta uang lebih jelas tidak mungkin. Tapi dia tidak ingin ditinggalkan teman-temannya. Kini Lani berada di persimpangan. Memutuskan langkah mana yang akan dia ambil.
***
Raya sudah menata makan malam di atas meja, dan bahkan dia sudah mandi setelahnya. Ayahnya masih ada di kebun, mengawasi para pekerja. Harusnya Darma sudah pulang jam segini, karena mengingat kebiasaan ayahnya sejak dulu. Makan malam pukul enam sore, ngaso di teras sebentar lalu ke warung bertemu teman-temannya.
Biasanya, pukul tujuh malam nanti, Darma akan pergi ke warung dekat balai desa untuk ngopi dan bermain catur.
Baru saja memikirkan ayahnya, pria itu sudah muncul di depan pintu. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, ayah." Raya menarik tangan ayahnya untuk mencium punggung tangannya.
"Kau sudah lapar? sebentar ayah mandi dulu," ucap Darma tersenyum.
"Belum, Pak. Bapak mandi, air hangatnya udah aku siapkan di ember," tukas Raya.
Sembari menunggu, Raya memeriksa ponselnya yang sejak siang tadi mati. Satu pesan masuk.
Selamat siang, Ray. Kamu apa kabar? Mas dengar kamu di desa, ya? Sampai kapan kamu di sana, Ray? Mas ingin rasanya pulang biar kita bisa bertemu. Banyak yang mau mas ceritakan sama kamu, Ray...
Pesan itu sudah dibaca dengan seksama, tanpa berulang, dan Raya sudah paham isinya. Tapi Raya memang tidak berniat untuk membalasnya. Dia tidak ingin mencari masalah dengan berkirim pesan pada suami orang. Jadi dia hanya mengabaikannya saja.
"Assalamu'alaikum..."
Terdengar suara yang memanggil dari luar. Raya yang tengkurap di kasur, segera bangkit dan keluar dari kamar menuju pintu depan.
"Wa'alaikumsalam...," sahutnya membuka pintu, lalu terbelalak melihat orang yang berdiri di depannya.
*
*
*
Hayo, siapa yang datang? ketebak sih ini...
Kira-kira Lani bakal nolak atau terima saran Gisel, gak ya?
Bagi hadiah dong kakak-kakak baik...