Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 39


Melihat raut wajah serius dan terselip takut di wajah Sandi, Sidney yakin sepertinya ini pembicara yang serius. Sidney paling tidak suka harus menebak-nebak, jantungnya tidak tahan. Kalau beritanya bagus, kalau ternyata sebaliknya?


"Papa mau bilang apa?" Sidney menegakkan tubuhnya. Kini dia memilih duduk di hadapan ayahnya.


"Sudah bertahun-tahun lamanya mama mu meninggalkan kita, papa tahu selama itu pula, papa sudah bertindak sebagai papa yang buruk untukmu. Oleh karena itu papa ingin minta maaf," ucap Sandi di awal cerita. Dia perlu mengamati wajah putrinya untuk melihat reaksinya nanti.


"Kenapa papa baru sadar sekarang? Kemana aja papa selama ini? Saat aku benar-benar butuh dukungan moril? Saat aku butuh sandaran untuk menangis? Saat aku butuh teman untuk bicara dan saat butuh seseorang yang bisa mengingatku bahwa aku ini manusia bukan benda yang dititipkan sama pembantu!" umpatnya tapi hanya bisa dia lakukan dalam hati.


Selama ini Sidney diam, tidak protes atas sikap Sandi, hanya karena gadis itu mengerti pengorbanan ayahnya. Dia tahu Sandi sangat mencintai ibunya, sangat kehilangan seperti dirinya. Bekerja di tengah kesendirian dan kesepian, dan satu hal yang paling membuatnya salut, ayahnya masih bertahan dengan kesendiriannya, berteman dengan cinta dan bayangan ibunya.


Kesetiaan Sandi pada Lia yang buat Sidney menutup mata atas ketidakpeduliannya pada Sidney.


"Aku paham, Pa. Tidak apa-apa." Sidney berusaha tersenyum, walau kaku.


"Kamu sudah dewasa, sudah bisa mengerti keadaannya." Sandi diam untuk sesaat, menarik napas panjang dan seolah berpikir bagaimana memulai kalimat berikutnya.


"Sid, papa ingin kamu memahami keadaan papa, dan papa mohon kamu jangan membenci papa, ya?"


"Apa sih yang papa mau coba sampaikan? Ngomong aja, Pa."


"Papa mau membawa istri dan anak papa ke sini."


Tunggu, Sidney lagi gak salah mendengar, kan? Ditatapnya kembali pria yang ada di hadapannya itu, memastikan kalau yang saat ini bicara padanya adalah Sandi, ayahnya, lalu menutup mata, mencoba mengulang apa yang tadi sampaikan ayahnya.


"Papa ngomong apa sih? Aku gak paham?" Suara Sidney melemah, tercekat dan hatinya mulai terasa sakit. Kegelisahan yang dia rasakan kali ini tidak pernah sebesar ini sebelumnya.


"Seperti yang papa sampaikan tadi, Papa ingin membawa ibu tirimu beserta adikmu."


"Aku gak suka papa bercanda seperti ini. Gak lucu, Pa," Sidney mengepal tinjunya. Kenapa takdir suka sekali bercanda padanya?


"Ini bukan lelucon. Papa sudah menikah dan sudah punya anak lagi."


"Kapan?"


"Apanya?" Sandi mulai takut. Tatapan benci dan marah sudah terlihat di wajah Sidney. Sandi si pengecut itu takut, kalau Sidney akan melaporkannya pada Elrick.


Saat kelahiran Sidney, sebagai ucapan terima kasih nya pada Lia karena telah menyelamatkan nyawa Raya kala itu, Elrick menanamkan pada perusahaannya yang saat itu hampir bangkrut. Saham 70 persen yang harusnya menjadi milik Elrick, dipindahkan atas nama Sidney. Kalau sampai putrinya mengadu, bisa-bisa Elrick akan membekukan perusahaannya.


"Maafkan Papa, Sid. Papa mohon kamu mengerti keadaan papa yang sangat kesepian setelah ditinggal mamamu."


"Jadi, menurut anda wahai Tuan Sandi, saya tidak kesepian setelah ditinggal istri anda?" Kembali Sidney mengumpat dalam hati.


"Sejak kapan?" desak Sidney tidak sabar. Dia sudah muak akan keadaannya saat ini. Benar-benar sendiri dan tidak dianggap.


"Sejak..." Sandi tidak berani melanjutkan ucapannya. Di sini lah letak kesalahannya.


"Berapa usia anak itu?"


"Tu- tujuh tahun...."


Duar!


"Sid, katakan sesuatu. Papa mohon, jangan diam. Papa ingin dengar pendapat kamu."


"Pendapat? Pendapat apa? Kita gak lagi musyawarah. Di sini papa hanya memberitahukan kelakuan bejat papa!"


"Sidney!" Bentak Sandi. Dia tidak menyangka kalau anaknya akan mengatakan hal kasar seperti itu. Selama ini apapun yang dikatakannya selalu dituruti oleh Sidney. "Kamu keterlaluan!"


"Keterlaluan? Aku yang keterlaluan atau papa? Tujuh tahun papa bilang? itu artinya papa sudah menikah saat mama masih hidup! Saat mamaku sedang berjuang melawan sakitnya! Dimana hati nurani papa? Aku malu harus menyebut anda sebagai papaku!"


Plak!


Sandi tega menampar putrinya, hanya karena malu mengakui ucapan Sidney benar. Dia tahu kalau dia salah. Lia sakit-sakitan hingga tidak bisa memenuhi kebutuhannya sebagai lelaki. Saat tugas keluar kota, seseorang mengenalkannya pada seorang wanita, dia jatuh cinta dan menikahi wanita itu secara sirih tanpa sepengetahuan Lia dan Sidney.


Sejak itu, Sandi melupakan keluarganya. Kebahagiaan yang dia dapatkan dari keluarga barunya membuatnya lupa dengan Lia dan Sidney.


Kematian Lia justru membuatnya semakin larut dalam kehidupannya yang baru, melupakan Sidney, dan hanya pulang untuk menutupi pengkhianatannya.


Sidney memegang pipinya yang terasa panas karena bekas tamparan ayahnya. Mata tajamnya penuh amarah dan kebencian.


"Papa boleh membawa mereka kemari. Berbahagialah, nikmati kebahagiaan papa dengan keluarga baru papa. Semoga papa senang!"


Sidney meraih tasnya, lalu pergi ke luar. Dia butuh waktu, butuh tempat untuk menenangkan diri. Tapi dia harus kemana?


Dipandanginya rumah besar dengan pagar tinggi menjulang, tempatnya tumbuh dan dibesarkan penuh cinta oleh Raya dan semua anggota keluarga itu. Dia butuh Raya saat ini, tapi kenapa hatinya 'mentah' untuk ke sana? terasa asing. Tanpa terasa air mata di pipinya menetes.


Tidak, dia tidak boleh menyusahkan Raya dan keluarga Diraja lagi. Kini semua sudah berbeda. Dia bukan anak kecil lagi yang setiap masalah harus diadukan pada Raya.


Lagi pula, ini masalah keluarganya. Betapa malunya dia menceritakan kalau ayahnya ternyata pria brengsek yang sudah mengkhianati ibunya saat masih hidup.


Sidney memutuskan untuk menenangkan diri di salah satu tempat karaoke yang sepi, tidak jauh dari rumahnya. Dia memilih tempat itu karena yakin bahwa tidak akan ada orang yang akan datang ke sana dan bertemu dengannya.


Pegawai InulViesta membawanya ke sebuah ruangan karaoke. Tidak akan ada orang yang melihatnya menangis, hingga dia bisa bebas mengekspresikan kesakitannya.


"Mas, tolong bantu pilihkan lagunya ya. Saya mau yang genre pop-rock."


Setelah diputar dan si mas-mas berseragam itu keluar, Sidney memulai tangisannya. Dia teriak dan juga mengumpat kesal. Satu jam dia pilih untuk karaoke, cukuplah untuk melepas kesakitan di hatinya. Dia mengutuk hidupnya saat ini, berbagai kejadian buruk yang tidak dia inginkan mendatanginya.


"Mama... bawa aku bersamamu, Kenapa mama tinggalkan aku sendiri? Maamaaaaa...."


Sidney terus menangis, tisu yang tadi penuh di atas meja kini bertebaran di lantai. "Aku harus gimana? Kemana aku harus pergi? Aku muak sama semua yang terjadi padaku!"


*


*


*


So sad...😭😭 yang sabar ya Sid... Kakak semua, ada yang mau terima Sidney tinggal di rumahnya gak? Dia bisa kok bantu-bantu beberes rumah 🤧🤧🤭