
"Dimana anak brengsek itu, apa maksudnya hingga sekarang belum datang juga?" rutuk Nani penuh emosi. Sudah setengah jam acara diundur, penghulu yang akan menikahkan mereka juga sudah mulai bosan, karena tiga jam dari sekarang, dia juga harus menikahkan dua pasangan lainnya.
"Sabar, nyonya... mungkin tuan El terjebak macet," ucap Juminten menenangkan.
Sementara di ruangan terpisah, Raya yang masih belum bisa menghubungi nomor Elrick, sudah tidak bisa menahan laju air matanya. Impian indahnya hampir terhempas ke dasar jurang kesedihan.
"Mas Elrick, kau dimana? apa arti semua ini?" cicitnya menahan sedih. Pantulan dirinya di cermin begitu cantik dengan balutan kebaya putih gading yang begitu mewah dirancang untuknya. Tapi apa gunanya jika dia terancam batal nikah?
"Dari mana saja kau, kenapa begitu lama? Kau juga ingin Oma mu ini mati berdiri menahan malu?" pekik Nani saat melihat kedatangan Dipa.
Seperti yang sudah dia katakan pada Raya, Dipa tidak akan datang ke pesta pernikahan mereka, tapi karena berulang kali Oma menghubunginya dan menceritakan kekacauan yang mungkin akan terjadi, Dipa bergegas meluncur.
"Sampai detik ini pria brengsek itu belum juga tiba?"
"Belum. Dan Oma sudah tidak tahu harus bagaimana. Keluarga Oma dari Surabaya dan juga Medan sudah berkumpul semua, lihat para tamu undangan Oma," kata Nani menunjuk tamu pilihannya. Walau Elrick sudah bilang tidak ingin mengundang siapa pun, tapi tetap saja, Nani mengundang segelintir orang yang dianggap dia penting untuk hadir.
"Bagaimana, Bu? pengantin pria nya sudah datang?" ujar Pak Penghulu semakin tidak sabar.
Darma yang sejak tadi diam, bangkit dari duduknya. Dia sudah cukup mengamati kejadian itu sejak tadi. Hatinya geram, sejak awal dia juga tidak setuju pada Elrick, yang menurutnya merupakan pria yang tidak benar.
"Bagaimana tanggung jawab kalian sebagai keluarga? Dia mengelak dari pernikahan ini, kan? Dia tidak serius menikahi putriku? hanya untuk memberikan rasa malu dan juga trauma untuk kedua kalinya?" bentar Darma dengan penuh emosi. Cukup sudah dia menyimpan kata, menahan diri untuk tidak buat kegaduhan. Kini, dia harus menunjukkan sikap. Mereka mungkin orang kampung, tapi tidak siapa pun boleh menghina putrinya, harga diri keluarga nya!
"Pak Darma, sabar ya. Elrick pasti datang. Saya sudah meminta orang untuk mencarinya ke apartemennya," ucap Nani mencoba menenangkan Darma. "Dip, cepat hubungi Bagas, tanya udah dimana bosnya!"
Dipa yang ikut geram melihat tingkah tidak bertanggungjawab Elrick, menghubungi Bagas, tapi nomor asisten Elrick itu masih sibuk.
"Sudah, tidak usah. Saya tidak akan sudi menikahkan putri saya dengan dia. Pernikahan ini batal, dan Raya tidak akan berhubungan dengan keluarga kalian lagi," ucap Darma benar-benar dipuncak amarahnya. Tepat saat itu Raya yang ditemani Nana muncul dari kamar, menangis terisak dengan ponsel digenggamnya.
"Sayang, ada apa ini?" tanya Oma yang menyongsong kedatangan Raya.
"Oma, Mbak Raya dapat pesan...," ucap Nana mewakili karena melihat Raya yang sudah sanggup untuk menjawab. Raya sudah menangis terisak hingga tubuhnya bergetar hebat. Dia sama sekali tidak menyangka, kebahagiaan nya hanya sesingkat ini.
Darma mengambil ponsel Raya dan membaca pesan yang tampil di layar ponselnya. Geraman emosi terdengar dari gemeretak giginya.
"Dasar brengsek! Pria tidak beradab!" umpat Darma emosi. Nani dan juga Dipa buru-buru membaca pesan dengan mengambil ponsel dari tangan Darma. Nani bahkan hampir pingsan.
Tubuh Raya merosot, begitu lemah. Dua hari tidak tidur menanti kehadiran Elrick, ditambah lagi dengan masalah ini, Raya sungguh tidak sanggup.
Dipa berlari, memapah tubuh Raya dan menggendongnya ke sofa. Minten dengan sigap memberi segelas air yang diarahkan Dipa ke bibir Raya. "Minum, Ray. Kau harus kuat. Jangan karena pria brengsek itu kau jadi lemah begini," ucap Dipa penuh kelembutan. Dia ingin sekali menghajar Elrick karena ulahnya hingga buat Raya hingga seperti ini.
"Raya, kita pulang saja. Ayah sudah muak dengan semua ini. Kau akan pulang dengan ayah ke kampung, dan tidak akan menginjakkan kaki di kota ini lagi!" ucap Darma. Raya tidak bisa berkata apapun, hanya tangisan yang terdengar darinya.
"Pak Darma, aku tahu kami salah. Aku mewakili cucuku memohon maaf yang sebesar-besarnya," ucap Nani menyatukan telapak tangannya, memohon maaf dari pria yang sudah dilanda emosi itu.
Sebelum Darma menjawab ucapan Nani, Dipa berdiri menghadap Darma. "Om, izinkan aku menikahi Raya. Saat di desa waktu itu, aku sudah melamar Raya dihadapan Om, tapi karena Raya belum siap, aku pun mengalah memberi Raya waktu. Tidak disangka dia justru jatuh hati pada sepupu ku yang kurang bertanggung jawab itu, jadi Om, aku mohon izinkan aku menikahi Raya."
Nani terkejut, begitu juga Raya hingga wanita itu mengangkat wajahnya menatap Dipa lalu berganti pada Ayahnya.
"Kau?" tanya Darma memicingkan mata. Mencoba mencari keseriusan dari ucapan Dipa.
"Gak Dipa. Aku gak bisa menikah dengan mu," sambar Raya. Ini bukan permainan, hanya untuk menyelamatkan harga diri keluarga, maka dia bisa dinikahkan dengan siapa saja, meskipun dia tidak menyukainya.
"Tapi Ray, hanya ini Oma pikir jalan satu-satunya. Lagi pula, Oma sangat sayang padamu, Oma tidak ingin kau dibawa pak Darma pulang, hingga jauh dari Oma. Dipa pria yang baik, dia sangat mencintaimu, kau pasti bahagia bersamanya," susul Nani.
Suasana mencekam, Raya masih bertahan tidak ingin menikah dengan Dipa. Di hatinya hanya ada Elrick, meskipun bajingan itu sudah lari dari acara pernikahan mereka.
"Ray, aku tahu aku tidak ada di hatimu, dan kau masih mencintai orang lain. Tapi aku akan bersabar menunggu hingga kau mencintaiku. Aku mohon, kasih aku satu kesempatan," bujuk Dipa menggenggam tangan Raya.
Darma yang melihat keseriusan dan ketulusan Dipa, membuatnya sekutu untuk menikahkan Raya dan pria itu. Dari tutur kata juga Dipa jauh lebih sopan dari Elrick yang bersikap dingin arogan dan juga tidak pedulian. Darma juga heran, mengapa Raya malah jatuh cinta pada Elrick, bukan Dipa yang lebih humoris.
"Ray, kali ini biar ayah yang memilihkan calon suami untukmu. Ayah minta kau menikah dengan Dipa saat ini juga. Lupakan pria brengsek itu!"
"Tapi Ayah... aku...."
"Tidak ada kata tapi, ayah minta sekarang juga kau menerima lamaran Dipa. Jangan permalukan ibu Nani yang begitu menyayangi mu."
Raya pasrah. Setengah jam dia bersujud memohon pada ayahnya untuk tidak memaksanya menikah dengan Dipa, tapi pria tua itu tetap memaksa. Nani juga memohon sembari menangis hingga membuat Raya tidak berdaya dan akhirnya mau duduk di samping Dipa, duduk dibawah satu kain yang diletakkan di atas kepala mereka.