
Tidak ada yang bisa memprediksi nasib dan takdir manusia yang akan terjadi, namun, dengan diberikannya akal sehat oleh Sang pencipta, harusnya sudah bisa menilai mana perbuatan baik dan yang buruk, yang pantas dilakukan dan yang tidak.
Ketika memilih untuk berselingkuh dari suaminya, harusnya Lani juga bisa menebak, cepat atau lambat, dia akan ketahuan, dan resiko yang paling besar yang harus dia tanggung adalah berpisah dari suaminya, dan ucapan Dika dibuktikannya.
Hari itu, setelah beberapa hari kembali dari Thailand untuk memperbaiki wajahnya dan juga kakinya yang sempat luka bersama Gisel, Lani pulang ke rumah dan mendapati suaminya sedang menerima tamu yang dikenali Lani sebagai pak RT di lingkungan mereka.
"Bu Lani," sapa Pak RT yang melihat kedatangan Lani di ambang pintu, sementara Dika hanya memilih diam seribu bahasa, melirik sekilas lalu kembali membuang muka.
"Oh, ada pak RT. Mas, aku pulang," jawabnya dengan senyum, dia sudah sangat rindu pada suaminya itu. Sebelum berangkat ke Thailand, Lani dan Dika sempat bertengkar hebat. Dika meminta Lani untuk tidak pergi, tapi wanita itu dengan keras kepalanya tetap memilih pergi.
Selama di luar negri, Lani banyak berpikir. Dika lebih dari segalanya baginya saat ini. Dia sudah memutuskan untuk menjadi istri yang baik bagi Dika. Dia tidak akan menemani om-om mana pun, dan akan memilih memutuskan hubungan dengan para circle nya.
Semua perubahan yang dia lakukan di tubuhnya untuk membuat Dika bahagia memiliki istri yang tubuhnya sangat sempurna seperti dirinya.
"Maaf Pak RT, saya masuk dulu."
"Kau duduk di sini dulu," sambar Dika dengan suara datar. Tatapan matanya tajam dan tidak terbantahkan.
Lani menurut. Dia duduk di kursi singel di samping suaminya. "Ada apa, Mas?" tanyanya lembut. Dia merasa tidak mengerti, mengapa dia diikutsertakan dalam pembicaraan dengan pak RT. "Pak RT, selagi bapak ada di sini, saya ingin meminta izin agar menjadi saksi," ucap Dika yang membuat Pak RT hanya diam.
Sebelumnya Pak RT sudah diberitahu akan rencana Dika ini. Pria itu tentu saja terkejut. Alasan kedatangannya ke rumah itu tidak lain hanya ingin meminta iuran bulanan, namun ditodong menjadi saksi.
"Saksi apa, Mas?" kening Lani berkerut. Perasaannya mulai gak enak.
"Mahalani Sudrajat, aku talak tiga kau hari ini juga. Mulai sekarang kau dan aku tidak punya hubungan apapun lagi."
Wajah Lani memucat. Beku, seolah darah dalam tubuhnya sudah beku dan sisanya terhisap oleh vampir. Rohnya juga sudah lepas dari tubuh. Dia tidak mungkin salah dengar. Dika menceraikannya?
"Bu Lani," pak RT buka suara. Dia juga takut melihat wajah Lani yang memucat, dia pikir wanita itu akan segera pingsan.
"Mas... Kau... kau menceraikanku?" Suara Lani tercekat, dan bergetar.
"Maafkan aku, Lani. Bukankah sudah aku sampaikan padamu, kalau ingin rumah tangga ini masih tetap kita bina, kau sebagai istri harusnya menurut dan mendengarkan perkataan ku. Bukan justru sebaliknya. Kau pergi walau aku mengatakan jangan pergi. Lani, aku membebaskan mu, lakukan apapun yang ingin kau lakukan."
Perkataan menyakitkan itu tidak bisa dibantah lagi oleh Lani lagi. Tubuhnya merosot, menutup wajahnya dengan kedua tangan dah tangisnya pun mulai terdengar.
Sedih, dan pastinya terluka. Tapi nasi sudah jadi bubur. Ketika dirinya tersadar dan ingin kembali memperbaiki diri untuk Dika, justru saat itu pula Dika menceraikannya.
***
Semenjak perceraian itu, Lani dengan harga diri yang tinggi pergi meninggalkan rumah Dika. Dia masih sempat meminta harta yang menjadi haknya, namun dengan gamblangnya, Dika melemparkan buku tabungannya, menunjukkan saldo yang Dika alami. Lani tercengang, Dika kini benar-benar tidak memiliki apapun lagi, jadi sedikit kekesalan atas diceraikannya dirinya sudah berkurang. Dia mencintai Dika, tapi dia juga harus rasional, hidup perlu biaya, tidak bisa hanya bermodalkan cinta.
Gisel dengan senang hati menerima kehadirannya. Menyambut kedatangan Lani di apartemennya sore itu. "Jadi, lo udah cerai sama lakik lo?"
"Iya, Sel. Padahal aku cinta banget sama dia." Helaan napas Lani yang panjang membawanya kembali pada masa indah saat memadu kasih dengan Dika. Banyak yang sudah dikorbankan. Sejak masa SMA, Lani sudah menyukai Dika, pemuda dari desanya yang sudah sukses di ibukota.
Dia selalu tersingkir dari Raya. Di sekolah, Raya lebih populer dikalangan guru-guru dan juga teman-teman sekolah. Banyak pria di desa yang menaruh hati padanya. Hal itu menjadi momok tersendiri untuk membenci Rata.
"Alah, gak usah ngomong cinta. Sampah itu. Siapa pun laki-laki yang lo pengen, pasti bisa lo dapat kalau lo udah punya banyak uang, lo cantik, dan juga bergaul dikalangan elit. Lupakan suami miskin lo itu. Mending lo sama Om Burhan."
"Siapa lagi itu? aku off dulu deh. Aku masih dalam keadaan berduka nih habis dicerai."
Gisel masih ingin menjawab, tapi bunyi bel di pintu membuatnya mengurungkan niatnya. "Lama benar sih lo buka pintu!" hardik Meyra kesal, membuka daun pintu lebih lebar dan berjalan masuk.
"Ada sih, datang-datang udah kesal aja bawaannya," sahut Gisel menutup pintu dan menyusul langkah Meyra masuk.
"Hai Mey," sapa Lani yang hanya dilirik sombong oleh Meyra, lalu menghempaskan tubuhnya di samping Lani.
"Lo kenapa? kok kesal banget?"
"Dasar breng*sek! gue lagi kesal sama si babu kang laundry. Pengen gue cekik dia, tau gak!"
"Iya tapi dia kenapa lagi? apa belum mempan ancaman kita kemarin? apa dia masih gangguin lakik lo?" Gisel ikut duduk di depan Meyra yang masih penuh amarah.
"Bahkan lebih parah. Gue lihat dia sama Elrick keluar bareng dari apartemennya. Gue aja baru beberapa kali ke sana, dan gak pernah diajak nginap!"
"Yakin itu si Babu? Ntar lo salah lihat lagi," ucap Gisel merasa tidak yakin. Masa iya Elrick menyukai gadis berpenampilan sederhana seperti itu.
"Lo bilang gue salah lihat?" nih, gue photo mereka dari tempat mobil gue parkir," ujar Meyra berapi-api, melempar ponselnya yang menampilkan dua orang di sana.
Gisel mengamati dengan seksama. Benar, itu adalah Elrick dan juga Raya. "Mana sih orangnya, penasaran gue, secantik apa sih, sampai Mas Elrick suka sama dia?" tanya Lani menengadahkan tangan ke arah Gisel, meminta ponsel Meyra, yang langsung diserahkan.
"Maksud kalian ini cewek yang godain Mas Elrick?" tanya Lani tidak percaya, mulutnya menganga dan bola matanya terbuka dengan sempurna.
"Iya, jelek, kan!" ucap Meyra kesal.
"Dia kan Raya... istri pertama mantan suamiku..."
*
*
*
Dih, ngumpul deh para rubah betina. Pasti punya rencana busuk untuk menyakiti Raya.
Kakak semua... mau dong gift nya...😁