Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 49


Udara pagi lebih segar setelah semalaman diguyur hujan. Sidney menggeliat, menyadari Paris masih tidur di sampingnya dengan lelap. Demi memuaskan matanya menatap wajah tampan itu, Sidney memiringkan tubuhnya agar saling berhadapan dengan Paris.


"Hidung mancung, bibir penuh menggemaskan, rahang tegas, dan lihat aja alisnya, cewek-cewek pasti banyak yang insecure melihat alis yang tebal dan indah ini," batin Sidney membingkai wajah tampan itu dengan jemarinya. "Kamu kok tampan banget sih, pacar siapa sih ini," bisiknya pelan takut kalau ucapnya di dengar Paris, bisa tengsin dia.


Mengingat apa yang terjadi semalam, harusnya kan Sidney ngambek pagi ini. Bagaimana gak kesal, Sidney yang udah siap ingin menyerahkan dirinya, malah dibuat kesal. Debat soal kalung Jepang itu pun gak habis dibahas dalam satu jam. Dengan kesal Sidney kembali memakai kembali bajunya dan pergi tidur.


"Salah aku dimana, Sid? Ngomong dong sayang, jangan ngambek." Paris ikut bangkit dan memeluk tubuh Sidney yang membelakangi.


"Maafkan keegoisanku. Aku cuma gak ingin ada pemberian orang lain di tubuhmu. Aku malu menemuinya besok. Biar saja dia mengatakan aku pria gak tahu mau, menjilat ludahku sendiri karena baru Minggu lalu mintanya menjagamu, sekarang justru ingin dia meninggalkanmu."


Sidney mendengar dalam diamnya. Pelukan Paris semakin erat, mendekap tubuhnya dan menggenggam tangan Sidney di dada gadis itu. "Kita balikan lagi ya, Sid. Aku gak bisa jauh darimu. Aku janji, gak akan memaksakan kehendakku tanpa bertanya padamu lebih dulu." Paris mencium tengkuk gadis itu yang mengirimkan gelenyar hangat. Bulu kuduknya meremang, menikmati sensasi melalui hembusan napas Paris.


Tidak mendapatkan jawaban, Paris memutar tubuh gadis itu agar menghadap dirinya, saling tatap dan Paris menyapu sekilas bibir gadis itu.


"Kita balikan lagi ya? Kali ini aku ingin melamarmu, menjadikanmu milikku seutuhnya, menjadi istriku." Bola mata Sidney membulat sempurna, kaget atas omongan Paris namun juga tersentuh.


"Kita nikah, ya?"


"Nikah?"


"Iya, kita segera nikah. Aku takut kamu didekati orang lagi. Urusan Jepang biar aku yang urus."


Sidney membelai wajah Paris. "Temuilah mas Ryu. Kalau kamu sayang padaku, maka ucapkan terima kasih mu karena dia sudah menjagaku dengan baik. Dia bahkan mengerti kalau aku masih mencintaimu, hingga dia memintaku untuk mengejar cinta yang ada dalam hatiku, yaitu kamu. Dia melepaskanku dengan ikhlas, dengan kedewasaan seorang pria bijaksana."


"Jadi kalian sudah putus?"


Sidney mengangguk dan hal itu membuat binar bahagia di mata Paris. Pria itu kembali melepas satu ciuman di bibir Sidney, lalu menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya untuk terlelap malam itu dalam kebahagiaan.


"Pengen banget deh **** bibir kamu,"bisiknya setelah memastikan Paris tidak akan dengar, tapi nyatanya saat pria itu memonyongkan bibirnya, Sidney kaget dan akhirnya Paris tersenyum.


"Katanya mau gigit, nih. Waktu dan tempat dipersilakan."


Sidney mendorong tubuh Paris hingga terlentang dan tawanya menggema di seluruh ruangan.


Demi membunuh rasa malunya Sidney bergegas mandi, hari ini dia ada jadwal kuliah dan bertemu dengan dosen pembimbingnya.


Sekali lagi Sidney melihat pantulannya di cermin, terlihat rapi dan pastinya cantik. Diliriknya pria yang kembali tertidur setelah mereka sarapan lontong yang dibelinya dari warung teh Yuyun di seberang kosan.


Senyum mengembang di bibir Sidney. Rasanya enggan sekali untuk pergi meninggalkan pria itu, ingin selalu berpelukan, menikmati ciuman Paris yang memabukkan, tapi dia punya kewajiban dan tanggung jawab yang harus dia kerjakan.


Sidney kembali merangkak ke atas tubuh Paris, mengecup bibir pria itu sekilas. "Aku pergi ke kampus dulu ya, nanti sore langsung kerja. Kamu gak papa kan ditinggal?"


Paris mengucek matanya, lalu menatap Sidney yang terlihat cantik sekali dengan riasan tipisnya. "Kamu mau pergi? kenapa gak bangunin aku. Biar aku antar, aku mandi dulu."


"Gak usah, nanti kamu bosan di kampus. Nanti aja kita ketemu di Cafe. Makan siang jangan lupa ya," ucap Sidney mencium pipi Paris kening dan berakhir di bibirnya. "Lagi pula, pakaian kamu masih di laundry. Sore aja kita ketemu di cafe."


"Oh iya," ucapnya setelah bangkit dari tubuh pria itu. "Mbak Maya nanti ngantar pakaian kamu yang aku laundry, aku udah bayar. Aku tinggal, ya."


"Aku udah kayak suami yang pengangguran. Istri bekerja, aku tiduran di rumah."


Tawa Sidney pecah, dan Paris suka melihat gadis itu tertawa.


***


"Selamat siang, aku gak menyangka kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat ini," sapa Ryu yang ditemui Paris di kantornya.


Tawa Ryu pecah. Dia menyukai sikap jujur pria itu. Paris akhirnya mengungkapkan tujuan kedatangan. Ryu hanya membalas dengan senyuman.


"Gue mau berterima kasih karena lo udah mengerti kalau di hati Sidney cuma ada gue. Kami berdua saling mencintai, dan dengan melepas dia, Lo udah melakukan hal yang tepat."


"Lo jangan senang dulu. Gue memang melepas Sidney saat ini, tapi kalau sampai gue tahu lo nyakitin dia, gue gak akan segan-segan ngambil dia lagi dari lo!"


Setelahnya keduanya ngobrol asyik, seolah jadi sahabat. Membicarakan kerja sama yang mungkin bisa mereka lakukan.


Sorenya, Paris menjemput Sidney ke kampusnya karena gadis itu bilang pembicaraannya dengan sang dosen sedikit alot jadi akan sedikit lebih lama di kampus.


Setelah selesai, Sidney buru-buru menemui pria itu di parkiran. "Udah lama nunggu?"


"Lumayan, harus dibayar pake ciuman nih," ucap Paris tersenyum.


Masih saja Sidney tidak tahan akan godaan pria itu. Paris tahu gadis itu malu, maka dirinya yang mengecup pipi Sidney sekilas. Dia tahu ini masih wilayah kampus, di tidak ingin mempermalukan kekasihnya.


"Kamu udah makan siang?" tanya Sidney menerima buket bunga yang diberikan Paris setelah mereka masuk dalam mobil. Ada juga sekotak coklat untuk menemani Sidney di perjalanan.


"Udah, bareng si penjajah," sahut Paris mengulum senyum.


Sidney yang merasa diledek, mencubit pinggang Paris hingga pria itu tertawa.


"Kamu menemui mas Ryu?"


Paris mengangguk. Sebenarnya dia masih ingin menggoda gadis itu, tapi gak tega. "Aku sudah sampaikan apa yang ingin aku katakan padanya, ucapan terima kasih karena dia sudah sadar bahwa tidak ada gunanya menahan gadis yang mencintai pria lain di hati nya."


"Apa dia marah? Kalian gak ribut, kan?"


"Gak dong. Malah kita bicarakan kerja sama. Hitung-hitung terima kasih ku karena sudah menjagamu."


Sidney tersenyum. Dia yakin kekasihnya ini adalah pria yang bijak.


"Terus, kamu kapan kembali ke Jakarta?"


"Kok ngusir, sih?"


"Bukan gitu, kamu kan harus kerja juga."


"Iya bawel, besok aku pulang. Malam ini kita tuntaskan yang semalam tertunda karena perkara kalung penjajah."


*


*


*


Gais, novel ini tinggal dua hari lagi End, ya, karena novel ini sudah dipinang mau dicetak jadi buku sama noveltoon 🤭🤭 Doain biar prosesnya lancar. Nanti pengen deh bagi-bagi sama yang mau🤭 Makasih buat semua yang sudah mendukungku selama ini.


Oh, iya, nih aku bawa novel keren lainnya buat nemani waktu senggang, mampir ya. Makasih🙏😁