
Pintu lift kembali terbuka. Tanpa ragu Raya melangkah keluar dan berjalan kembali menuju meja tadi. "Loh, kok kembali lagi? dasar udik, kamu mainin lift ya? hingga naik lagi ke atas?" hardik si cerewet yang dadanya sangat besar.
"Kembalikan tas saya," ucap Raya tegas, menatap tajam mata lawan yang ada dihadapannya.
"Berani kamu ngomong lancang samaku? Heh, kau tahu gak siapa aku? Aku ini sekretaris sekaligus kekasih pak Elrick. Kamu gak takut dipecat? bisa jadi gembel betulan kamu nanti!" serunya menatap sinis.
"Pacar? Anda yakin? Kok saya gak percaya ya?" tantang Raya. "Kembalikan handbag saya!"
"Kalau aku gak mau kenapa? Mungkin kau sudah terlalu dimanja di rumah pak Elrick ya sehingga lancang bicaramu. Tunggu saja, kalau saya sudah menikah dengan pak Elrick, kau orang pertama yang aku pecat!"
Raya tidak peduli, melihat tasnya ada di dekat kursi wanita itu, yang diletakkan begitu saja di lantai membuat amarah Raya semakin memuncak. Diambilnya dengan kasar dan menatap wanita itu penuh emosi.
"Mimpi saja setinggi langit. Yang ada kau yang akan ku buat menyesal. Wanita seperti mu, yang gak bisa menghargai orang lain, memandang rendah orang lain dan hanya menilai dari luarnya saja, tidak pantas bekerja di sini. Aku akan meminta Mas Elrick memecatmu!"
Wajah sang sekretaris terpelongo. Dia tidak menyangka Raya punya keberanian seperti itu. "Heh, kamu tuh siapa? punya kuasa apa memecat saya?"
"Saya? kau mau tahu aku siapa?"
Tepat saat itu, Elrick dan Bagas keluar dari ruangannya. Elrick sebenernya ingin mencari Raya yang tidak kunjung datang. Ternyata sang sekretaris berbohong, Elrick sedang tidak meeting dengan kliennya.
"Raya...." ucap Elrick terkejut. Lebih terkejut karena melihat wajah memerah Raya karena amarahnya.
"Mas Elrick, kasih tahu sama wanita ini siapa aku!" ucapnya dengan suara bergetar.
"Apa?" Elrick yang masih belum tersadar sepenuhnya dari keterkejutannya, hanya bisa tergagap.
"Kasih tahu wanita ini aku ini siapanya mas Elrick!" ucap Raya datar. Elrick tahu, istrinya sebisa mungkin bersikap tenang. Sementara Bagas sudah ikutan pucat seperti Elrick. Kalau sampai Raya marah, maka bosnya akan mengamuk. Kalau sampai Elrick mengamuk, dan memecat sekretarisnya maka dia yang akan susah mencari lagi orang yang sesuai kualifikasi sang bos.
Elrick baru akan menjawab, tapi Raya mengangkat tangannya. "Gak usah jawab lewat kata, buktikan sama mereka, apa posisiku dalam hidupmu!" suara Raya menandakan harga dirinya yang terluka dan Elrick ingin sekali membunuh orang yang sudah membuat Raya tersakiti seperti ini.
Elrick maju, tanpa peduli pada sekitarnya, hanya menatap bola mata bening istrinya yang menahan air mata, Elrick menangkup wajah Raya dengan kedua tangannya, lalu mencium bibir Raya tepat dihadapan banyak karyawannya.
Dua Sekretaris itu pun terbelalak tidak percaya menyaksikan semua itu.
Elrick melepas ciumannya, dan Raya membuka matanya. Rasa sakit yang tadi tergambar di matanya sudah hilang. Elrick menggenggam tangan Raya, menarik hingga berdiri di depan dua orang wanita itu.
"Mulai hari ini, kalian berdua saya pecat karena sudah menyinggung perasaan istri saya!"
Satu persatu mulut karyawan yang saat itu ada di sana mulai berkicau. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Itu istrinya pak Elrick?"
"Pak Elrick sudah menikah?"
"Walau tampak sederhana tapi istri bos tetap tampak cantik. Natural banget."
"Gak percaya si bos udah nikah. Patah hati gue."
"Mampus si Ririn dan Siska, dipecat, kan. Makanya jangan sombong."
Berbagai opini sayup-sayup terdengar di sana. Tapi Elrick tidak mempedulikannya. Dia merangkul Raya untuk masuk ke dalam ruangannya. Sebelum menutup pintu, Elrick berbalik menghadap Bagas. "Pastikan dua orang ini tidak akan pernah muncul lagi di sini!"
Raya masih menutup mulutnya rapat. Amarahnya meledak dan masih belum reda. Elrick sendiri merasa sedikit ciut mendekati istrinya. Kalau sudah begini, Raya akan susah untuk didinginkan.
"Sayang, jangan marah lagi. Aku minta maaf karena sekretaris sialan itu sudah mengganggumu," ucap Elrick memeluk tubuh istrinya. Tapi Raya yang masih kesal segera melepaskan diri dari kungkungan Elrick. Ditatapnya wajah pria itu, lalu buang muka.
Waduh, gue salah apa lagi kali ini? masa karena sekretaris brengsek itu gue yang kena imbasnya. Awas aja Bagas, dia kan yang cari sekretaris gak benar kayak mereka!
"Sayang..."
"Sebenarnya mas punya hubungan apa sama salah satu sekretaris centil mu itu?"
"Hah? hubungan? maksudnya? gak ada hubungan apa-apa kok, Yang." Elrick menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Bingung atas pertanyaan dadakan Raya padanya.
"Terus kenapa dia bilang kalau dia itu kekasih mas?" Raya sudah berdiri, melipat tangan di dada.
"Apa? dasar nenek sihir. Itu gak benar sayang. Mana mungkin aku suka sama dia," ujar Elrick geram. Ririn sama sekali bukan tipenya. Terlalu genit, dan terbuka. Elrick justru suka dengan tipe gadis yang ad di depannya ini. Sederhana, manis dan bisa liar di ranjang. Tipe keibuan yang sangat dia rindukan. Kalau tipe Ririn, Meyra, dan yang lain, Elrick sudah bosan.
Bukankah yang berpakaian tertutup itu lebih mempesona dan buat penasaran. Istrinya juga berpakaian bukan kayak gadis desa pada umumnya, yang berpakaian dress panjang, dan terlihat kaku. Raya cantik dengan segala kesederhanaan. Dia juga pintar memadukan pakaiannya. Hanya saja Raya tidak suka berdandan tebal dan memakai perhiasan mewah, yang menurutnya sangat norak seperti toko mas atau berlian berjalan.
"Serius itu bohong. Dih, gak bakal suka sama cewek kayak gitu. Aku sudah punya kamu, punya Paris, apa lagi yang kurang? Aku sangat mencintaimu, apa adanya dirimu," ucapnya mendekat.
"Benar?"
"Sumpah. Kalau aku sampai selingkuh, lebih baik si Boy mati suri," ucapnya mengangkat dua jari ke atas.
"Awas aja kalau mas selingkuh, aku kebiri si Boy, aku kasih buat mainan Puppy," ucapnya merujuk pada kucing Oma yang diberi nama anak anjing.
Elrick bergidik. Untuk sesaat dia membayangkan miliknya di potong dan dijadikan mainan kucing, digigit dan dicakar. Asli, Elrick merasakan ngilu.
"Ampun tuan putri, gak akan berani. Pengalaman mengajarkan segalanya. Aku tidak akan membiarkan siapapun mendekatimu, aku gak mau suamiku direbut pelakor lagi. Kalau mas udah bosan sama ku, lebih baik kita bicara baik-baik dan berpisah baik-baik," ujar Raya tidak lagi melepas dekapan Elrick dari belakang.
"Sampai rambutku memutih, aku hanya ingin menghembuskan napas terakhirku di sisimu," balas Elrick sungguh-sungguh, mencium puncak kepala Raya penuh kasih.
"Ayo makan, Mas. Jangan sampai mas sakit. Aku gak mau jadi janda dua kali. Kasihan Paris kalau sampai bapaknya mati," ucap Raya mengulum senyum.
"Yang, kok jadi nyumpahi suamimu cepat mati, sih?"
*
*
*
Gais, satu bab lagi ya... dan terima kasih buat kalian semua. Sumpah, aku terharu, kalian begitu antusias dengan novel ini. Aku benar-benar sangat berterima kasih. Kalau bisa satu persatu aku peluk kalian. Best readers ever๐๐ฅบ๐ฅบ๐ฅบ๐ฅบ๐๐๐