Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 86


Elrick merasa bangga dan juga terharu melihat keseriusan Raya memilihnya. Gadis itu sudah bertekad akan mengikuti Elrick jika sampai Minggu ini ayahnya sudah juga menurunkan restu.


Mobil pria itu sudah sampai di depan rumah, dan tebakan Raya tepat, Darma sudah berdiri menunggu mereka.


"Malam, Om. Maaf, aku terlambat mengantar Raya pulang...."


Bruk!


Satu pukulan mengenai wajah Elrick diperhentian kalimat terakhirnya.


"Ayah...." pekik Raya menjadi tameng bagi Elrick. Berdiri di tengah-tengah kedua pria yang sangat dia sayangi itu.


"Masuk..." perintah Darma keras.


"Aku gak mau, Yah. Aku lebih baik mati kalau gak hidup dengan Elrick. Aku mencintainya, Yah."


"Masuk ayah bilang. Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa bersama pria ini! Sekarang masuk!"


"Mas, aku juga tadi bilang apa. Bawa aku pergi, tapi mas malah bawa aku ke sini," isak Raya memegangi jaket Elrick, takut kalau sebentar lagi, Darma akan menarik dirinya.


"Kalau aku ingin membawamu kabur dari ayahmu, sudah aku lakukan sejak dulu. Tapi aku tahu, restu dari ayahmu sangat kau inginkan saat kita menikah. Aku akan tetap berjuang mendapatkan mu. Percaya padaku, aku tidak akan meninggalkan mu," ucap Elrick menghapus jejak air mata di pipi Raya.


Darma yang tidak punya hati itu, menarik paksa Raya masuk ke rumah lalu menghempaskan pintu rumah. Pengusiran secara langsung, Elrick tahu itu.


***


Pukul delapan malam, Darma keluar dari rumah karena ada rapat RT. Seperti biasa, rapat itu diadakan di warung Bu Susi yang juga ibu RT. Selesai merampungkan urusannya musyawarah itu, mereka berkumpul di warung kopi Bu Susi.


"Saya baru tahu, kalau investor yang membatu membangun dan memajukan desa ini adalah kekasih Raya. Wah, pak Darma punya calon mantu hebat, ternyata," ucap Pak Gana, sekertaris desa.


"Alah, paling juga pria itu cuma mempermainkan putri situ saja. Apa kalian tidak ingat, Dika- anakku saja menceraikan Raya karena tidak benar sifatnya," celetuk Ayah Dika.


"Sampean jangan ngomong gitu toh, Jo. Mungkin Dika dan Raya memang tidak jodoh," timpal pak RT membela Darma.


Tapi pria itu tidak terpancing oleh omongan Ayahnya Dika. Dia tahu seberengsek apa Dika. Dia malah bersyukur, Raya bisa lepas dari jerat Dika.


"Sudahlah, kalian selalu membela pak Darma. Sebaiknya aku pulang saja," ucapnya bangkit berdiri, meninggalkan uang lima ribu rupiah untuk membayar segelas kopi yang tadi dihidangkan untuknya.


Semua orang yang tinggal di warung itu menggeleng kepala melihat tingkah Bejo yang tidak berubah. Memandang rendah orang lain, dan selalu merasa paling benar.


Sepuluh menit berselang, Darma pun ikut pamit pulang lebih dulu. Sepanjang jalan yang gelap, Darma sibuk dengan pikirannya. Perkataan Raya yang mengancam akan kabur mengikut Elrick jika tidak mendapat restunya tentu menjadi beban pikirannya. Untuk apa menahan Raya, kalau akhirnya putrinya lah yang semakin menderita dan pastinya akan membencinya.


"Tolong...," Darma mendengar suara rintihan di balik ilalang yang sebentar lagi akan dia lalui. Darma semakin menajamkan pendengarannya sembari mempercepat langkahnya.


Saat itu lah, Darma melihat tubuh pria seumuran dengannya tergelatak bersimbah darah bagian perut. Dia mengenali pria itu sebagai Bejo dan di sampingnya tergeletak pisau yang digunakan pelaku untuk menusuk perut Bejo.


Niat ingin menolong, ternyata malah tertimpa musibah. Bejo kritis dan pingsan. Titin yang mendatangi rumah sakit itu, justru menuduh Darma yang menusuk Bejo.


Pihak berwajib yang dihubungi pihak rumah sakit akhirnya membawa Darma. Keterangan dari beberapa orang yang duduk bersama mereka di warung kopi sebelum Darma pulang justru memojokkan posisinya.


"Saya tidak yakin pak Darma yang melakukannya, tapi memang sebelum pak Bejo pulang, sempat terjadi adu argumen yang tidak mengenakkan," ucap pak Gana, diikuti kesaksian yang lain.


Demi penyidikan, Darma harus dimasukkan ke dalam sel malam itu juga. Bu Susi yang malam itu ada di sana, segera memberitahukan pada Raya perihal yang menimpa ayahnya. Tanpa pikir panjang, gadis itu mengikuti anak pak RT yang memboncengnya dengan motor Supra.


"Ayah...," ucapnya berurai air mata. Sejak mulai berangkat dari rumah hingga tiba di kantor polisi ini, Raya terus menangis. Bingung harus apa.


"Kau jangan takut, Nak. Jangan nangis. Ayah gak salah apa-apa. Bukan ayah pelakunya," ucap Darma mulai berkaca-kaca. Yang dia khawatirkan bukan dirinya, tapi siapa yang akan menjaga anaknya. Nanti saat warga desa tahu masalah yang menimpanya, mereka akan dengan penuh semangat mengolok-olok Raya bahkan memakai putrinya. Sudah menjadi tabiat ibu-ibu di desa ini menyiramkan bensin pada bara api.


"Pulang lah, Nak."


"Aku gak mau pulang, Yah. Aku mau di sini, temani ayah," ucap Raya menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


"Jangan, Ray. Nanti kau sakiti. Pulang lah, Nak. Besok pergi ke rumah pak Le mu, minta dia kemari."


Raya masih menangis, berdiri terpaku dihadapan ayahnya. Apa yang harus dia lakukan agar bisa mengeluarkan ayahnya. Saat itu lah wajah Elrick muncul dalam benaknya.


Baru akan pamit untuk pulang, seseorang berjas dan memiliki perawakan lebih tegas dan tampilan nyentrik.


Pria itu mengangguk hormat, lalu bicara dengan polisi yang berjaga malam itu. Tidak lama, Elrick muncul di ruangan itu.


"Mas..." Raya menghambur ke pelukan Elrick. Menangis terisak hingga kaos putih yang Elrick pakai basah oleh air mata.


"Sudah, Sayang. Jangan nangis lagi. Ayah akan segera keluar dari sini," ucapnya mengelus punggung Raya agar gadis itu tenang.


Tidak butuh waktu lama, Pak Darma sudah diperbolehkan pulang. Elrick lah yang menandatangani surat jaminan untuk Darma, hingga diperbolehkan pulang.


Di mobil, Raya menangis di pelukan Darma hingga jatuh tertidur. Elrick yang duduk di depan samping anak buahnya, hanya diam tanpa tahu harus berkata apa. Begitu mendengar kabar Darma masuk penjara, Elrick segera mengurus pengacaranya untuk menangani kasusnya.


Dia yakin, ini hanya kesalahpahaman saja. Darma tidak mungkin menusuk Bejo karena hanya cekcok mulut.


Mereka sudah tiba di depan rumah. Raya masuk lebih dulu, untuk mencuci muka. "Aku pamit dulu, Om. Tenang saja, pengacara ku akan mengurus semuanya hingga nama baik Om, dipulihkan."


Darma hanya mengangguk lemah. Dia mengantar hingga pintu mobil pria itu. "Terima kasih," ucapnya pelan yang hanya diangguk Elrick.


Ucapan terima kasih dari Darma menunjukkan hatinya sudah terbuka pada Elrick. Itu membuktikan kalau pria itu benar-benar peduli, tidak hanya pada Raya tapi juga pada keluarganya.


"Mungkin selama ini aku sudah salah menilai pria itu," ucap Darma lebih pada dirinya sendiri, sembari menatap jauh hingga mobil Elrick menghilang di kegelapan malam.