
"Nyonya, makan malam sudah siap." Kalimat Juminten menengahi ketegangan. Oma diam sesat, lalu berdiri walau sedikit susah payah. Nani selalu begitu kalau punya beban pikiran, kesehatan dan imun tubuhnya bisa dengan cepat drop.
"Baiklah, ayo kita makan," ucapnya bijak. Semua orang ikut berdiri, satu persatu mulai melangkah, hanya Raya yang masih duduk kaku di kursinya. Dia bingung harus apa. Ingin pulang, tapi kenapa kakinya seolah tertahan.
"Kau belum beranjak dari tempatmu?" Nani membalik badan, menatap Raya. Begitu pun semua anggota ikut berhenti melangkah, namun, muak akan drama itu, Elrick masuk ke ruang makan.
Wajah Raya terangkat, kala dihadapannya terulur tangan Nani. "O-Oma..." cicitnya masih terdengar wanita itu.
"Temani Oma makan."
***
Suasana makan malam yang sangat mengerikan. Tatapan muak Elrick padanya yang sialnya duduk berhadapan dengannya membuat Raya bahkan tidak bisa menelan nasi yang dia kunyah.
"Makan yang banyak. Kau harus menjaga kesehatan dan juga bayimu," ucap Nani penuh kasih, menyendokkan ikan untuknya.
Hening kembali. Hanya Meyra yang tampak sibuk menimbang apakah menu yang dia makan mengandung lemak yang membuatnya menjadi gendut.
Untuk menghargai Nani, Raya segera menghabiskan isi piringnya. Tercekat dan seolah makanan yang melewati tenggorokannya adalah racun yang terpaksa dia telan, terlebih karena saat ini mata Elrick menatap tajam padanya.
Jujur, keberadaan Raya sedikit banyaknya membuat Elrick terusik. Entah apa yang diperbuat gadis itu, setiap berada di dekatnya, Elrick seolah tenggelam ke masa lalu, seakan ditarik ke masa yang dia ingin lupakan, namun ternyata selalu mengikutinya hingga saat ini.
Sibuk dengan pikirannya, Elrick menyendok gulai kakap. Satu sendok masuk ke dalam mulutnya, wajah pria itu tampak tegang, genggaman tangannya pada sendok makan tampak mengencang. Raya orang pertama yang melihat keadaan Elrick. Dia tahu saat ini pria itu sedang kepedasan. Namun karena malu dilihat Raya, dia pun mengunyah dan menelan dengan terpaksa nasi beserta kuah ikan.
Harga dirinya dipertaruhkan karena saat ini Raya masih menatapnya. Sekali lagi Elrick terpaksa menyendok makanan ke dalam mulut dan sial, ada cabe rawit utuh yang tidak dia perhatian, ikut tersendok ke mulutnya, dan penuh nelangsa kembali Elrick mengunyah dan menelannya.
Kebingungan harus apa, Raya yang tahu Elrick sudah sangat kepedasan dari keringat dan merah wajahnya, spontan mengisi gelas dan menyodorkan ke hadapan Elrick.
Semua mata menatap ke arah mereka. Elrick tentu tidak ingin menerima bantuan itu, tapi lidah, tenggorokan, dan bibirnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Tangannya sigap mengambil gelar berisi air putih dari Raya lalu segera menghabiskan isinya dan meletakkan gelas kaca itu di depannya.
"Juminten," teriaknya hingga pelayan itu datang tergesa-gesa. "Panggilkan koki yang memasak menu malam ini!"
"Kau memakan ikan kakap ini?" tanya Nani yang mencoba memahami keadaan. Dia asik menikmati makanannya dengan isi pikiran yang menyita tentang kebenaran status Raya.
Sedikitpun Elrick tidak ingin menjawab. Dipa yang duduk disebelah Raya tidak bisa menyembunyikan tawanya. Ini adalah momen langka dan sangat memuaskannya. Hal receh memang, tapi ini bisa memuaskan hatinya melihat Elrick sengsara. Bukankah motto keduanya sama, 'Gembira Melihat lawan Sengsara!'.
"Iya, tuan?" tanya wanita gembul dengan pakaian putih-putih ala koki datang tergopoh-gopoh. Takut, jelas. Ada enam orang pelayan di rumah ini, dan dipastikan mereka semua akan ketakutan setiap berurusan dengan Elrick.
"Kenapa ikan ini begitu pedas?"
Dasar pria aneh. Kan gak ada yang maksa dia makan makanan itu. Jelas-jelas dia lihat kuah gulai ikan itu begitu merah. Lagi pula, masih banyak makanan lain yang tidak pedas, kan?
Elrick masih ingin memaki koki malang itu, namun beruntung segera diselamatkan oleh Nani. "Sudah, Tuti. Kau kembali saja ke dapur."
Penuh kesal, Elrick mengeringkan mulutnya dengan tisu di atas meja, melempar dengan kesal. Melihat wajah Raya yang terkejut dengan keadaan saat ini, Nani merasa harus menjelaskan.
"El tidak bisa makan makanan yang pedas. Selain perutnya yang mudah sakit, El benci bau cabe."
"Halah, Miss, dasar memang anak kecil. Tampang saja bringas, makan cabe aja keok," goda Dipa tertawa lepas.
"Maksud lo apa?" Elrick melempar sendok garpu ke arah Dipa.
"Apa? gue cuma ngomong sama Miss universe. Kenapa lo tersinggung? Dih, Banci!"
Elrick berdiri, kursi yang dia duduki tadi terlempar ke belakang. Melangkah penuh amarah ke arah Dipa yang juga sudah berdiri, bersiap menggulung setengah lengan kemejanya.
"Ini, ambil masing-masing satu," ucap Nani meletakan dua buah pisau makan di atas meja, dekat jangkauan mereka. "Ini lah bentuk penghormatan kalian terhadapku yang tua ini. Tidak ada yang sayang padaku, lebih baik aku menyusul suami dan anak-anakku ke alam baka," ucapnya setengah berteriak, lalu kedua telapak tangannya menutup wajahnya dan terdengar lah isak tangis.
"Oma," ucap Raya yang sudah mendekati Oma, memeluk pundak wanita itu yang terguncang oleh tangisnya.
"Raya, bawa Oma ke kamar. Oma sudah tidak kuat melihat dua manusia batu ini terus bertikai."
Raya mengikuti kemauan Oma, memapah wanita itu meninggalkan ruang makan. Terus melangkah menuju kamar wanita itu. "Oma istirahat, ya," ucap Raya menyelimuti kaki Nani.
Ada sedikit aneh pada wajah wanita itu. Seingat Raya tadi Nani sempat menangis di bawah sana, tapi kenapa sekarang air mata dan raut kesedihan tidak tampak pada wajahnya. "Oma... Oma baik-baik saja?"
"Jangan khawatirkan aku. Sudah duduk di sampingku." Nani menepuk tempat di sampingnya. Raya menurut, walau keinginannya untuk segera pulang sangat besar. Dia khawatir meninggalkan Nana terlalu lama.
"Mereka sudah seperti itu sejak remaja. Mungkin kalau Oma sudah tidak ada, mereka akan saling baku hantam. Jadi, demi menentramkan keduanya, Oma harus berakting, pura-pura menangis tadi."
Raya ikut tersenyum melihat Oma tersenyum. Dia akui wanita itu memang punya ide cemerlang. "Raya, maaf kalau kau tadi tersinggung, atas ucapan Elrick. Oma menyayangimu tulus. Entah mengapa begitu pertama kali bertemu denganmu, hati Oma bilang, kau anak yang baik. Jaga bayimu. Dimana suamimu? ucap Nani mengelus perut rata Raya.
Tubuh Raya bergetar, hingga tanpa bisa dia kendalikan tangisnya pecah, raya tidak kuasa menahan kesedihan.
"Sudahlah, Raya. Jangan menangis. Oma tidak memaksa kalau kau tidak ingin bercerita mengenai hal pribadimu pada Oma."
"Maaf Oma, aku terlihat cengeng," ucapnya menghapus air matanya. Mencoba menekan perasaan sedihnya karena harus diingatkan pada masa lalu yang menyakitkan. "Aku sedang tidak hamil, Oma. Aku keguguran, dan kini sudah bercerai dengan suamiku."