
Kata-kata Dipa tertanam di hati Raya. Benar apa kata pria itu, kala rasa benci dan juga kecewa itu datang, ingat saja kalau dia yang memilih pria itu dan ada cinta untuknya.
Dipa pamit keluar setelah menyerahkan gelang yang diminta Oma diberikan padanya. Gelang keluarga, yang turun temurun dipakai oleh menantu keluarga Diraja. Dulu ibunya Elrick juga memakainya sebelum pergi dari rumah itu, meninggalkan gelang itu di atas meja riasnya.
Semua pasang mata begitu terpesona melihat kecantikan Raya saat dipapah menuju sisi Elrick. Pria itu mengulum senyum, hatinya memuncah karena perasaan bangga yang sangat tidak terkira.
Tapi seketika, wajahnya pias kembali. Ingat akan pembicaraan mereka kemarin, sebelum Raya setuju untuk menikah.
Semua sudah siap, Darma juga sudah duduk di hadapan Elrick yang sudah menghafal kalimatnya sejak kemarin malam. Dia akan mengucapkan sumpahnya dalam satu tarikan napas saja. Saat latihan kemarin, semua berjalan lancar, tapi kini kenapa dia jadi gugup dan seolah lupa dengan rentetan kalimatnya hanya karena ada Raya di sampingnya?
Raya yang sudah duduk di sampingnya pasti bisa mendengar debar jantungnya. Penghulu dan juga para saksi sudah siap. Warga desa yang berbondong-bondong ingin melihat acara itu juga sudah tidak sabar ingin melihat keduanya sah menjadi suami istri.
"Baik, kita bisa mulai saja," ucap pak penghulu. Keringat dingin di kening Elrick muncul. Sementara dari tempatnya Nani berdoa agar cucu kesayangannya itu bisa mengucapkan janji sucinya dengan satu tarikan napas, berbeda dengan Dipa yang tersenyum geli melihat Elrick yang begitu gugup.
Singa jantan itu bisa juga mengalami kegugupan dalam hidupnya. Selama ini siapa saja yang dia hadapi, pasti dengan entengnya dia selesaikan.
Darma sudah mengulurkan tangannya untuk di pegang Elrick. Darma juga ikut mengulum senyum, kala menyadari kegugupan Elrick, tangan pria itu tampak begitu dingin.
"Wahai Ananda Elrick Diraja, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Rayana Hasianna binti Darma Syamsuddin, dengan maskawinnya berupa emas satu ton, rumah, tanah dan juga seperangkat alat sholat dibayar tunai..."
***
Air mata Raya menetes, dia menyimak dengan hatinya yang paling dalam setiap kata yang meluncur dari bibir Elrick. Sumpah setia yang mengikat dirinya dengan Elrick terdengar begitu merdu di telinganya. Membekas dalam hati, hingga terasa menghangat dalam hatinya.
Disambut ucapan 'sah' dari semua yang hadir di sana, kini keduanya sudah resmi menjadi suami istri. Raya mencium punggung tangan Elrick, dan dibalas oleh pria itu mencium kening wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Raya begitu malu untuk mengangkat wajahnya, tanya bisa menunduk mengamati jemari tangannya yang sudah disematkan Elrick sebuah cincin indah dan pastinya mewah.
Seluas apapun pekarangan rumah Darma tentu tidak cukup menampung semua warga yang hadir, sehingga setelah ijab qobul, semua orang beranjak ke tempat wisata yang sudah disulap menjadi tempat resepsi.
Satu persatu orang datang ke pelaminan untuk menyalami mereka. Raya sudah berganti pakaian, dengan gaun yang membuatnya sangat cantik, dan juga anggun.
Semua warga desa yang mengenal Raya begitu terperangah melihat Raya yang kini sangat berbeda dengan Raya yang mereka kenal dulu. Melihat keduanya bersanding di pelaminan banyak yang memuji keserasian mereka.
"Selamat ya, Raya. Kita-kita pangling melihat penampilanmu saat ini. Kau cantik sekali," puji Markonah saat menyalami mempelai. Munaroh, dan beberapa kawanan ibu rumpi lainnya ikut mengangguk.
"Makasih ibu-ibu," ucap Raya tersenyum.
"Ray, ibu mohon, tolong terima anak ibu bekerja di hotel suamimu nanti, ya," bisik Ningsih yang juga selalu julid pada Raya.
Satu hal yang disadari Raya, uang dan juga kuasa memang bisa membuat orang patuh dan akhirnya bisa menghargai orang lain. Dulu, bagi mereka, Raya dan keluarganya hanya aib dan juga orang yang tidak pantas dihargai, hingga ibunya meninggal karena tertekan dengan omongan orang warga desa.
"Apa mereka mengganggumu lagi?" bisik Elrick menatap tajam ke lima wanita rese yang sudah turun dari pelaminan. Raya hanya menggeleng pelan. Dia masih marah pada Elrick, jadi malas untuk bicara padanya.
Siang berganti sore dan malam pun menjelang. Banyak tamu undangan yang sudah pulang, tapi tidak sedikit juga yang masih tetap betah dangdutan.
Oleh Nani, yang sudah diberitahukan Elrick permintaan Darma, sudah membenahi kamar Raya sehingga terlihat lebih nyaman, dan juga pastinya di isi banyak barang-barang baru yang lebih mewah.
Nani tentu saja tidak melakukannya tanpa persetujuan Raya. Gadis itu justru ikut memilih furnitur yang akan mengisi kamarnya.
Raya sudah duduk di tepi tempat tidur. Elrick belum masuk ke kamar karena masih menemani Darma dan juga keluarga Raya yang datang dari luar kota yang belum juga pulang. Hanya beberapa keluarga inti yang sepertinya akan tinggal di rumah malam ini.
Oma dan Dipa juga sudah pamit pulang. Wanita itu terlalu lelah untuk lebih lama berbincang dengan keluarga Raya.
Tubuh Raya pun sudah sangat lelah dan gerah. Dia ingin sekali mandi, tapi mau bagaimana, tangannya tidak sampai membuka beberapa buah kancing bulat yang ada di belakang gaunnya.
Sayup terdengar suara Tia, anak Bu Le nya dan berinisiatif untuk memanggil gadis itu membantunya membuka baju. Perlahan dibukanya pintu kamar, dan saat dia melihat Tia, bergegas tangannya berayun memanggil gadis belia itu.
Tapi tampaknya Elrick melihat hal itu, hingga saat Tia hendak berjalan ke arah kamar Raya yang sudah kembali di tutup gadis itu, Elrick bertanya padanya.
"Ada apa?" tanyanya, khawatir Raya butuh sesuatu.
"Gak tau, Mas. Mbak Raya manggil, mungkin perlu bantuan."
"Biar saya aja." Elrick masuk ke dalam kamar yang membuat Raya yang semula duduk termenung kini menegakkan tubuhnya. Kaku dan gugup, tentu saja. Walau pun ini sama-sama bukan yang pertama buat mereka, tapi tetap saja di malam pengantin akan sangat buat pasangan manten gugup.
"Kau butuh sesuatu? apa kau lapar? tanya Elrick yang ingat kalau istrinya yang masih marah itu belum makan dengan cukup hari ini.
Raya menggeleng lemah. Saat Elrick menemani pak Le nya bicara, Darma mencuri waktu berdua dengan Raya. Ini tugasnya. Kalau saja ibunya masih hidup, pastilah tugas ini bukan dia yang melakukannya.
"Kau sudah sah menjadi istri Elrick, hormati dan hargai suamimu. Patuh pada setiap omongannya. Apa pun yang dia minta padamu, harus kau lakukan. Ingat, Nak, dia imammu. Jalanmu mencari pahala adalah melalui ridho suamimu. Jangan sekali-kali kau memandang penuh kebencian. Jadilah istri yang patuh dan membanggakan," ucap Darma dan Raya hanya bisa mengangguk di sela tangisnya.
Kini pria yang harus dihormatinya sesuai perintah ayahnya berdiri di hadapannya. Mana mungkin dia berani memakinya, terlebih masih ada seluruh keluarganya di luar.
Raya menggeleng lemah. "Bisakah kau membantuku membuka kancing gaun ini?"
*
*
*
Ada gak malam nerusin malam ini?
Lunas ya, udah bisa tenang kan ya, udah sah, udah halal keduanya...☺️☺️
Giliran authornya dong yang disawer...☺️🤭