Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 47


Raya hampir saja kepentok kaki meja saat bangkit dari hadapan Darma dan menuju kursinya kala mendengar ucapan Dipa.


Apa yang dipikirkan pria itu sampai mengatakan hal itu pada ayahnya. Wajah Raya menegang, begitu pun Darma. Dia baru saja memberi hati bagi keluarga Diraja, mempercayakan Raya dibawa oleh mereka, tapi malah Dipa melamar Raya untuk dinikahinya.


Tidak hanya Raya dan ayahnya yang terkejut, Nani pun mengalami hal itu. Ingin rasanya dia melayangkan ujung tongkatnya ke arah kepala Dipa, mengatakan hal seserius itu tanpa berunding dulu dengan dirinya.


"Maaf, anak muda. Aku baru saja menaruh kepercayaan pada kalian, dan sekarang kau ingin melamar putriku? penghinaan macam apa ini?"


"Maafkan..."


"Aku tidak bermaksud menghina, Om. Aku tulus ingin menikahi Raya," ucap Dipa menyambar omongan Nani. Pelototan mata Nani tidak lagi diindahkan Dipa.


"Sekarang aku tanya, kenapa kau ingin menikahi Raya?"


"Karena saya menyukainya, Om. Tulus dari hati."


"Menikah tidak cukup karena rasa suka. Kau mengandalkan rasa suka, maka akan segera punah seiring waktu, bisa jadi kau akan bosan. Itu adalah sifat alami manusia," jawab Darma kini lebih tenang suaranya.


"Tapi saya juga mencintai Raya, Om." Lanjut Dipa tidak ingin memberi jeda untuk Darma melakukan penolakan. Raya bahkan mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk menatap Dipa sesaat, lalu kembali menunduk. Dia merasa kesal, tidak dianggap ada, seenaknya mereka membahas dirinya padahal dia ada di sana juga.


Tidak bisakah dia sendiri yang memberi jawaban untuk masa depan dan kehidupan pribadinya sendiri?


"Cinta?" tanya Darma setelahnya. Dipa mengangguk cepat. "Benar, Om."


"Sudah berapa lama kau mengenal Raya?"


Dipa diam. Mengingat dan menghitung, lalu penuh yakin menjawab, "Kurang lebih tiga bulan, Om."


"Maka terlalu dini untuk mengatakan kalau kau mencintainya. Dipa, berumah tangga itu bukan main-main, bukan sehari atau dua hari, tapi seumur hidup. Yang kau rasakan saat ini belum lah disebut cinta sejati, karena kau belum lama mengenal Raya, tidak tahu bagaimana karakter, sifat dan semua yang berhubungan dengan dirinya. Saat ini kau hanya merasa bersimpati karena apa yang baru kau dengar tentang kisah hidupnya," tegas Darma.


"Om salah. Aku benar-benar serius ingin bersama Raya."


"Raya baru saja menjanda, Om rasa dia juga tidak mungkin bisa secepat itu menerima pria lain dalam hidupnya."


"Tapi aku bersungguh-sungguh, Om. Aku mohon, tolong terima lamaranku, aku mencintai Raya.


"Om berterima kasih kalau memang yang kau rasakan itu adalah cinta. Tapi semua keputusan ada di tangan Raya. Bagaimana, Nak?"


"Maaf, Dip. Aku gak bisa menerima niat baikmu. Aku masih tidak ingin menjalin hubungan dengan pria mana pun saat ini. Aku masih ingin sendiri, membenahi hidupku, menata jalan hidup yang kini harus aku lalui," terang Raya penuh semangat.


Tampak wajah Darma yang sejak semula tegang, kini mengendur. Napasnya terdengar teratur sejak menahan napas sejak tadi. Dia sangat bersyukur, Raya bisa membuat keputusan yang tepat dalam hidupnya saat ini.


"Tapi, Ray. Saat kami sarapan di warung dekat sini, Oma bertanya mengenai alamatmu, dan tanpa kami minta dijelaskan, mereka dengan semangatnya menceritakan hal buruk tentangmu. Aku gak ingin orang-orang memandang sebelah mata terhadap mu. Mereka mengatakan hal yang sama sekali tidak tahu kebenarannya. Aku ingin namamu bersih, agar siapapun warga di desa ini, bisa menghormatimu," terang Dipa bersungguh-sungguh. Dia sendiri geram, saat mendengar penuturan beberapa wanita yang juga ikut makan nasi uduk di sana.


Dan setelah mendengar penjelasan yang sebenarnya dari Darma, keinginan untuk memulihkan nama baik Raya semakin besar. Gadis itu tidak pantas dihina, dicemooh bahkan di fitnah.


"Aku tidak peduli apa pikiran mereka padaku. Cukup ayah percaya padaku. Selebihnya, biar Allah yang membalas perbuatan jahat mereka." Raya tersenyum lembut, tenang dan begitu memukau. Sedikit banyak, Raya bisa semakin dewasa menyikapi semua hal setelah melewati masa-masa sulit yang penuh air mata dan juga tekanan batin.


"Bagaimana kalau tunangan saja dulu, Oma, Om?" tanya Dipa mencoba peruntungannya sekali lagi.


"Nanti saja. Toh, kalau kalian memang berjodoh, Om tidak masalah kalau kalian bertunangan dulu atau segera menikah pun tidak jadi soal, untuk sekarang kalian berdua saling memahami saja dulu. Raya sudah pernah gagal berumahtangga, sebaiknya tidak buru-buru mengambil keputusan, agar tidak terulang lagi seperti ini."


***


Malam hari mereka tiba di Jakarta. Raya memohon agar turun di laundry saja, tapi Oma memaksa ingin Raya tidur di rumah mereka, dan dia pun menurut.


Perjalanan yang cukup melelahkan membuat Oma yang sudah naik ke ranjang setengah jam lalu tidur dengan pulasnya. Harusnya, Raya juga seperti itu, tapi mungkin karena banyak minum kopi di bandara tadi, hingga dirinya tidak mengantuk, padahal sudah pukul 11 malam.


Tenggorokannya pun terasa tercekat, hingga memutuskan untuk turun ke dapur saja mengambil air hangat dengan tetesan madu.


Lantai satu sudah sangat sepi dengan lampu yang sudah dipadamkan. Dipa juga pastinya sudah tidur, karena lelah dan udara malam yang sangat dingin. Di luar sana gerimis bahkan sedang turun. Tidak ingin membangunkan penghuni rumah lainnya, Raya berjalan perlahan, sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara. Sesampai di dapur langsung menuju dispenser. Mengambil segelas air hangat, dan meneteskan beberapa tetes madu.


Rasa nyaman mulai terasa di tenggorokan dan juga perutnya. Raya ingin menikmatinya dulu, hingga memutuskan duduk di meja makan, walau tanpa pencahayaan. Asyik berkutat dengan pikiran dan rangkaian rencananya untuk pengembangan usaha laundry nya, tanpa sadar langkah seseorang sudah semakin dekat ke arahnya dan kini telah berdiri tepat di hadapannya.


"Aaaackh...," pekik Raya terkejut setelah menyadari ada sosok besar tinggi berdiri di depannya. Refleks, tangan besar itu membekap mulutnya hingga suara itu tertahan di dalam.


"Sssst... kecilkan suaramu. Ini aku!"


Merasa mengenali suara itu, Raya berhenti meronta. Lalu bekapan mulutnya dilepaskan dan tidak lama, pria itu menekan sakelar lampu yang terang bohlamnya sangat kecil.


Raya mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indra penglihatannya. "Sedang apa kau di sini?" tanya suara bariton milik pria itu.


"Aku gak bisa tidur. Jadi aku buat air hangat dicampur madu."


"Mas, mau minum apa makan?"


"Minum. Kapan lo balik?"


"Tadi, jam delapan."


Diam. Hening... Raya kadang gak habis pikir, kalau berdua dengan Elrick, selalu suasana seperti ini terjadi diantara mereka. Canggung dan sedikit horor. Bingung harus bicara dan bersikap seperti apa. Sangat berbeda saat bersama Dipa, mereka bisa bicara dengan nyaman, bercanda dan juga nyambung hingga berjam-jam lamanya.


Tapi satu yang tidak disadari Raya, setiap di dekat Elrick, jantungnya berdebar sangat kencang, ada perasaan yang sulit dijelaskan, yang sulit dimengerti, yang tidak pernah dia rasakan saat didekat Dipa atau pun Dika.


*


*


*


Pagi, terima kasih buat kakak semua yang sudah memberikan ucapan dan doa buatku. Doa terbaik juga buat kalian semua. Makasih untuk hadiahnya, aku sayang kalian.