
Raya duduk di tepi ranjang, mengamati suaminya yang masih tertidur. Dia sudah melakukannya setengah jam lebih, hanya diam dan mengamati Elrick.
Pria itu menggeliat dan tidak lama membuka matanya. Mengerjap beberapa kali saat melihat Raya ada di hadapannya, tersenyum lembut, menyambutnya bangun.
"Hai, Sayang... Apa aku bermimpi? Wajah istriku begitu jelas di mataku saat ini," ucapnya dengan suara khas orang yang baru bangun.
"Bangun, yuk. Sarapannya udah aku siapkan. Aku udah lapar banget, nungguin mas bangun, biar bisa sarapan bareng," tukas Raya. Setelah dijelaskan semuanya oleh Dipa, Raya jadi paham kusutnya pikiran suaminya saat ini. Dia memang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi dia ingin menjadi orang yang selalu setia mendampingi Elrick dalam hal sesulit apapun.
Elrick membalas dengan senyum malasnya, mengulurkan tangan agar diraih oleh istrinya. Raya melakukannya, hari ini dia sudah berjanji akan jadi istri yang sangat-sangat penurut. Tarikan Elrick membawa Raya terhempas di tubuh kekar pria itu. Pelukan hangat dan erat yang diberikannya pada Raya, menjelaskan kondisi hatinya saat ini.
"Mas...."
"Mmmm?"
"Aku boleh gak minta sesuatu?"
"Katakan saja, Sayang. Apapun itu untuk istriku tersayang," bisiknya mencium puncak kepala Raya.
"Aku mau jalan-jalan. Temani, ya?"
***
Diawal keberangkatan Elrick tidak pernah menduga kalau tempat yang dituju Raya sebagai tempatnya untuk jalan-jalan adalah tempat yang entah tepat harus dia kunjungi atau tidak.
"Ray..." Elrick menghentikan langkahnya. Dia ragu untuk melangkah lebih jauh dari tempat peristirahatan terakhir itu. Tapi tangan Raya terus menggenggam erat tangan Elrick, menariknya untuk tetap melangkah.
Keduanya menelusuri pemakaman elit itu sesuai dengan petunjuk yang sudah diterima Raya dari Dipa.
Harusnya Dipa tidak bertanggungjawab melakukan semua ini. Harusnya dia tertawa bahagia karena kedua orang yang sudah membunuh orang tuanya sudah meninggal. Walau Silvira tidak tahu soal rencana Gali yang menyabotase kecelakaan orang tuanya, tapi Silvira tetap salah karena dulu pernah menjambak ibunya, menyeret keluar dari rumah Nani.
Tapi semuanya sudah berlalu. Dipa sudah tidak menyimpan dendam lagi. Dia mengurus pemakaman Silvira dengan layak. Wanita itu meninggal sehari setelah pernikahan Elrick dilangsungkan. Pihak rumah sakit yang hanya memiliki nomor Dipa sebagai pengunjung pertama wanita itu, dihubungi pihak rumah sakit yang memberitahukan perihal kematian Silvira.
Dipa tahu, sebenci apapun Elrick, pria itu akan bersedih jika ibunya dikuburkan dengan tidak layak, sehingga Dipa memesan tempat pemakaman elit ini untuk Silvira.
Raya dan Elrick sudah berdiri di depan nisan bertuliskan nama Silvira. Pegangan tangan Elrick mengencang, namun matanya terus menatap batu nisan itu tanpa mengatakan apapun pada Raya. Hanya diam, dan terus mengamati.
"Mas... kau boleh menangis. Luka dan kecewa yang dulu kau dapatkan, lepaskan. Lupakan semuanya, menangis lah. Air mata bukan tanda kelemahan. Beri penghormatan terakhir buat ibumu. Bacakan doa untuknya. Terlepas dari semua yang dia lakukan, dia ibumu, wanita yang sudah melahirkanmu. Kau tidak akan ada di dunia ini, tidak bertemu denganku jika Bu Silvira tidak melahirkanmu," ucap Raya mengelus lengan Elrick, tapi pria itu tetap bergeming.
"Mas... kalau kau mensyukuri bertemu dengan ku, maka kau juga harus mengucapkan terima kasih pada ibu Silvira. Dia juga sama menderitanya denganmu, hingga diakhir hayatnya, dia tidak mendapatkan cinta yang dia cari, justru sebelum menutup mata, dia menyebut namamu," ucap Raya yang sudah mulai pecah tangisnya. Diputarnya video yang dia dapat dari Dipa, yang juga berasal dari dokter rumah sakit tempat Silvira dirawat.
Dengan dipegangi Raya, Elrick ikut melihat video singkat yang tidak sampai lima menit itu. Silvira yang sudah megap mencari napas, terengah meraup udara untuk dihirup.
Tangis Elrick pecah. Suara tertahan, tetapi air mata sudah merembes di wajahnya. Terlebih saat Silvira menyebutnya sebagai anaknya. Raya melepas pegangan tangannya, dia membiarkan Elrick maju mendekat batu nisan ibunya, menangis sepuasnya. Raya yang juga sudah bersimbah air mata mengusap-usap punggung Elrick, tersedak menahan jerit tangisnya. Apalagi saat melihat Elrick yang memeluk batu nisan sang ibu.
Tidak akan ada bekas anak atau bekas ibu di dunia ini. Darah itu kental, napas yang didapat Elrick saat ini juga berkat perjuangan ibunya yang sudah melahirkannya. Dia sadar akan hal itu, makanya dia tidak pernah benar-benar bisa membenci ibunya. Ada sisi lembut Elrick yang selalu tertuju untuk ibunya.
Menurut dokter yang menjadi penanggungjawab, setelah kedatangan Elrick yang pertama dan terakhir kali, keadaan Silvira mengalami kemajuan dan sudah semakin membaik. Tapi seminggu belakangan ini, kondisi fisiknya yang justru melemah.
Puas menangis, Elrick berdiri, menatap istrinya yang masih terisak memegang jarinya kembali. Elrick menarik dalam pelukannya, mengecup kening Raya dalam dan penuh cinta. "Mama, ini Raya. Istriku, menantu Mama. Dia yang akan bersamaku, tidak akan meninggalkanku, atau pun anak-anak kami nantinya. Aku akan mencintainya, menghargainya hingga dia tidak akan meninggalkanku," ucap Elrick tersedak, air matanya turun lagi, saat itu juga Raya menghapus air mata di pipi suaminya.
"Aku bersumpah di depan makam ibumu, aku tidak akan meninggalkanmu. Selalu ada di sisimu, menemanimu dalam susah atau senang, hingga maut menjemput," ucapnya terbata.
***
Elrick menyetir dalam diam. Hatinya penuh kelegaan yang dia sendiri tidak mengetahui dari mana perasaan itu dia dapat. Diliriknya istrinya yang sudah tertidur di kursi sebelah.
Bidadari yang Allah berikan padanya, mengobati luka di hatinya yang sudah lama menganga. Dia bersyukur, benar kata Raya, dia harus bersyukur dilahirkan, karena akhirnya bisa bertemu dengan wanita berhati mulia ini.
Kalau bukan karena Raya membawanya ke tempat itu, mungkin Elrick juga tidak akan berani untuk datang ke sana. Tidak akan melupakan semua masa yang menyiksa itu. Kini hatinya plong, lega dan siap memulai hidup barunya.
Diliriknya perut rata Raya, dorongan untuk mengelusnya membuat Elrick melakukannya dengan doa yang mengiringi. Berharap semoga mereka segera diberikan momongan untuk generasi Diraja yang baru. Mendidik mereka dengan cinta kasih dan mengajarkan mereka untuk saling menjaga.
"Sayang, bangun. Kita udah sampai," bisik Elrick membelai pipi Raya. Gadis itu terjaga, menggeliat dan tersenyum pada Elrick. Ditatapnya sekeliling, ini bukan rumah Oma.
"Kita dimana, Mas?"
"Apartemen..."
"Kok gak ke rumah Oma? gak mau, ah. Pakaian aku juga ada di sana," ucapnya cemberut.
"Iya, nanti malam kita ke sana. Ada yang harus aku kerjakan, dan butuh bantuan mu, Sayang," ucapnya tersenyum.
Melihat senyuman penuh misteri Elrick, bulu kuduknya tiba-tiba merinding. "Kerjaan apa, Mas?"
"Sebuah Misi penting."
"Misi apa?" Kening Raya berkerut tidak mengerti.
"Misi yang penting yang tidak boleh ditunda lebih lama. Demi melestarikan keturunan Diraja!"