
Kedua orang itu serentak menoleh kebelakang. Bola mata Raya bahkan hampir copot karena tidak menyangka Elrick akan ada di sini.
"Enak ya, Sayang... ngobrol berduaan dengan pria ini?"
Mulut Raya menganga, bingung harus menjawab apa. Dalam pikirannya hanya bertanya dari mana pria itu tahu kebenarannya? kenapa dia bisa masuk? Oh lupakan. Mata-matanya pasti sudah mengintainya siang dan malam.
Raya tentu ingin marah, tapi mulutnya terkatup, menatap wajah tampan Elrick dengan postur tubuh yang percayalah, siapa pun wanita melihat pasti akan merinding dan basah!
Dia bangga, pria arogan nan mempesona itu adalah kekasihnya, milikinya. Tanpa basa-basi, Elrick menarik tangan Raya, mengajak gadis itu pergi dari sana.
Tentu saja dengan suka cita Raya ikut dengan pria itu. "Lewat sini aja," ucap Raya lembut, menarik tangan kekasihnya melewati pintu belakang.
"Kenapa gak dari depan?"
"Nanti mas Elrick dan ayah ribut lagi. Aku gak mau lah," ucapnya tersenyum menggoda. Kegembiraannya datang, hanya dengan melihat pria itu saja Raya semangat untuk hidup.
Elrick membuka pintu mobil, dan mempersilakan Raya masuk, lalu di susul olehnya. "Enak-enakan ya, ngobrol sama cowok lain?" ulang Elrick merasa tidak terima.
"Maaf, bukan keinginan aku. Bule Yuyun yang minta aku untuk menemani Dirga ngobrol," ucapnya menyatukan telapak tangan di dada. Dia sadar prianya adalah orang yang pencemburu.
"Wah... wah..., malah udah tahu namanya, ya?" goda Elrick pura-pura marah. Menghidupkan mesin mobilnya dan segera melaju dari sana.
Siang tadi dia sedang rapat dengan para pekerja yang bertanggungjawab atas pembangunan hotel dan tempat rekreasi di desa itu, kala anak buahnya mengabarkan kalau Raya pergi dengan ayahnya ke desa sebelah. Bergegas Elrick meluncur ke sana.
Awalnya dia hanya takut kalau Raya akan menjadi bahan olokan warga desa itu sehingga dia bergegas untuk ke sana guna melindungi gadis itu. Tapi yang didapat nya, gadis itu justru sedang berbincang dengan calon buaya yang mengincar dirinya.
"Tadi kan kenalan, gimana sih," sahutnya cemberut. Sedikit pun dia tidak menaruh hati pada Dirga, apa Elrick tidak bisa melihat kesungguhannya mencintai pria itu.
"Kita mau kemana?" tanyanya melihat jalanan yang bukan menuju rumahnya.
"Mau ketemu Oma, gak?"
Dengan cepat dan tidak merajuk lagi Raya mengangguk.
***
"Oma, aku rindu," ucap Raya memeluk wanita itu. Sudah lebih sebulan mereka tidak bertemu. Selama memberi jeda untuk mengurangi amarah Darma, Nani ikut serta tinggal di desa ini.
"Oma juga rindu. Padahal kita sangat dekat, tapi Oma menahan diri untuk tidak mendatangimu karena tebalnya rindu Oma padamu."
Kedua wanita itu berpelukan penuh haru. Elrick meninggalkan keduanya untuk saling memuaskan rindu, karena dua jam lagi, Oma dan Dipa akan kembali ke Jakarta. Dipa tidak bisa terlalu lama tinggal di sini karena harus mengurus perusahaannya, sedang kan Oma harus segera kontrol ke dokter spesialis yang biasa menanganinya.
"Titip, Oma," ucap Elrick seperti biasa dengan nada dingin.
"Gue tahu. Lo cepetan dapatin restu pak Darma, kasihan Raya harus hidup dalam kegelisahan."
Dipa jelas tahu apa yang terjadi pada Raya sehari-hari. Dua kali sehari anak buah Elrick pasti datang memberi laporan mengenai kegiatan Raya dan apa yang dialami gadis itu.
***
Dua jam berlalu, bahkan Elrick tidak mendapatkan perhatian dari Raya. Gadis itu asyik mengobrol dengan Oma di kamar wanita itu.
"Kenapa Oma harus pulang hari ini? aku masih rindu," ucapnya merebahkan kepalanya di bahu Nani.
"Makanya, kau harus bantu Elrick, agar semakin cepat berhasil membujuk ayahmu. Setelah kalian menikah, setiap hari kita bisa bersama," terang Nani mengusap pipi mulus Raya.
"Doain ya, Oma," sahutnya menunduk malu. Dia juga ingin secepatnya bisa menikah dengan Elrick, itu juga yang menjadi Impiannya.
Mereka sudah mengantar kepergian Oma dan Dipa. Hingga mobil itu menghilang diujung jalan, Raya masih tetap menatap ke arah itu.
"Ayo masuk," bisik Elrick dibelakang Raya, berhasil membuat tengkuk gadis itu meremang.
Raya harusnya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi di dalam rumah itu tanpa pengawasan Oma, tapi karena dia juga masih ingin bersama Elrick, hingga tidak meminta untuk pulang.
"Jangan di sini, nanti dilihat, Ayah, Mas," ucap Raya mengelak saat bibir lembut Elrick mengecup lembut lehernya. Tujuan pria itu hanya satu membuat tanda kepemilikan di sana yang buat Raya akan mendapat masalah pastinya dari Darma.
"Kenapa? kau malu mengakui sudah punya pacar?"
Raya ingin sekali memukul pria itu karena pemikirannya yang bodoh. Bagaimana mungkin Raya malu memiliki kekasih seperti Elrick? pria idaman seluruh wanita di penjuru dunia.
"Mas Elrick apaan, sih? gak lucu. Aku cuma gak mau ayah semakin benci pada kita," ucapnya menoleh ke wajah pria itu. Bibir mereka hanya berjarak satu jengkal lagi. Harum nafas mint dari bibir pria itu tentu saja sangat menggodanya, dan dia ingin sekali mencium bibir itu, dan Rata memutuskan untuk melakukannya.
Dengan kedua tangan, Raya menangkup wajah Elrick, mendekatkan bibirnya pada pria itu. Elrick diam, tidak membalas sedikitpun. Dia ingin memberikan waktu pada Raya, mengeluarkan gai*rah yang dimilikinya, tanpa malu pada Elrick. Dia ingin gadis itu berani mengakui kalau dia juga membutuhkan sentuhan tidak hanya menerima.
Raya ternyata semakin panas. Tidak hanya menghi*sap, gadis itu menyeruakkan ludahnya masuk ke dalam rongga mulut Elrick, bermain di langit-langit mulutnya, mengikuti nalurinya dari apa yang sudah diajarkan Elrick padanya.
Tubuh pria itu menegang. Raya sudah membangunkan macan tidur. Elrick sudah putus asa menahan hasratnya. Dengan satu hentakan, Elrick mengangkat Raya duduk di pangkuannya, agar gadis itu leluasa menyentuhnya.
Desa*han dan erangan dari keduanya terdengar sahut-sahutan. Raya tersentak, kaget karena sesuatu di bawah sana menegang, berdiri tegas dan menembus gaunnya. Dia tahu apa itu, hingga mengurai ciuman itu.
"Itu...."
"Dia bangun. Pengen disayang sama kamu, tapi masih ada palang melintang yang harus dilewatinya," ucapnya meletakkan dagunya di bahu kanan Raya.
Raya merasa kasihan. Dia yang menggoda Elrick dengan ciumannya hingga bagian sensitif pria itu berdiri tegak. Satu hal yang dipuji Raya, pria itu tidak memintanya untuk melakukan perbuatan lebih jauh lagi, karena belum memiliki ikatan.
"Kita segera nikah yuk, Mas," ucapnya membelai rambut hitam Elrick.
"Ini masih diusahakan, mendapatkan restu dari ayahmu."
"Kita kawin lari aja..."