
Raya hamil!
Semua keluarga menyambut gembira akan hal itu. Semua orang memperhatikan Raya, menjaga dan juga memanjakan dirinya. Di satu sisi, Raya merasa menjadi tuan putri, apa-apa serba dilayani. Bahkan suaminya mempekerjakan pelayan pribadi untuknya, tapi di sisi lain, suaminya semakin mengekangnya dengan alasan demi kebaikan dirinya dan juga bayi yang ada dalam kandungannya.
"Kau tidak boleh kelelahan, dan please Ray, jangan terlalu kelelahan. Aku bukan melarang mu menghabiskan waktu dengan Lia, tapi aku mohon, jangan terlalu lelah," ucap Elrick, yang merasa khawatir akan keadaan Raya.
Bukan tanpa alasan, dokter bilang kandungan Raya lemah, jadi tidak boleh terlalu capek. "Aku baik-baik aja, Mas. Tadi cuma pergi makan es krim aja kok," ucap Raya.
Elrick masih ingin membuka mulutnya, tapi Lia muncul diambang ruangan. Wajah Elrick mengerucut tidak senang. Baginya, siapapun yang berhasil mengambil hati dan perhatian Raya darinya artinya dia orang yang pantas untuk tidak disukai Elrick.
"Mas El, maaf kalau aku sudah bawa Raya jalan sampai sore begini. Tapi Mas Elrick tidak perlu khawatir, kami melakukan kegiatan kami dengan pelan dan santai, kok. Lagi pula, aku juga bawa satu orang pelayan, kalau ada hal yang dibutuhkan Raya, maka cepat didapatkan," terang Lia duduk di dekat Oma, yang langsung memegang tangannya.
Nani menyukai sikap dan juga perangai Lia. Gadis itu benar-benar dan tulus pada Raya. Kemarin selama dua hari Elrick pergi ke Kalimantan, Lia yang setia merawat Raya, menghapus punggung wanita itu kala terasa panas.
"Aku gak mau kalau sampai terjadi hal buruk pada istri dan juga anakku!" Hardik Elrick naik ke kamar.
"Sorry ya, Liya. Maklumi aja pilar bear aku memang begitu," ucap Raya merasa tidak enak hati.
"Sini duduk, diantara kita berdua," ucap Lia menepuk tempat diantara dirinya dan juga Oma."
Raya menurut, duduk diantara keduanya. "Kami akan menjagamu, karena kami sangat menyayangimu. Iya kan, Oma?" ucap Lia yang diangguk Nani.
Raya kagum pada Lia. Dia menunjukkan ketulusannya dan ikut gembira dengan kehamilan Raya, walaupun dia sendiri juga berharap bisa segera punya anak, namun masih belum mendapatkan kepercayaan dari sang Maha kuasa.
Waktu berjalan, kehamilan Raya sudah memasuki 9 bulan. Hasil USG yang dilakukan sejak usia kandungan Raya lima bulan, menyatakan kalau janinnya berjenis kelamin laki-laki.
Bentuk rasa syukur keluarga itu, Oma menggagas mengadakan acara doa di rumah dengan mengundang anak-anak yatim dan semua keperluan itu dibantu oleh Lia.
Sedikit demi sedikit, rasa curiga dan tidak suka Elrick pada Lia berubah. Wanita itu ternyata sangat baik dan tulus pada Raya. Karena hal itu pula, demi menyenangkan istrinya Elrick menerima tawaran kerjasama oleh suami Lia, yang saat itu perusahaan sedang 'goyang'.
"Makasih udah bersikap baik dan ramah pada Lia dan mas Sandi," ucap Raya menciumi dada Elrick. Walau sudah bulannya, sesekali mereka masih melakukannya penyempurnaan misi, tapi dengan cara lembut dan pelan, tapi tetap saja sangat memuaskan bagi keduanya.
"Iya, Sayang. Asal kau senang. Aku berterimakasih padanya karena menjadi sahabat yang baik untukmu."
"Tapi kasihan dia ya, Mas. Lia pasti sedih, kami berdua sama-sama berdoa untuk bisa hamil, nyatanya aku yang lebih dulu dikasih rejeki sama Alla," ujar Raya semakin merapatkan tubuhnya pada pelukan Elrick.
"Semua ada waktunya. Kita doakan saja Lia dan Sandi cepat memiliki anak."
"Amin..."
***
Pelayan pribadi Raya segera menyiapkan semua keperluannya. Elrick yang panik segera membawa Raya ke rumah sakit. "Lima orang dari kalian ikut ke rumah sakit," perintah Elrick.
"Untuk apa mereka ikut?" tanya Oma yang kesal pada Elrick. Dirinya minta ikut tidak diizinkan, ini malah membawa lima orang pelayan ikut ke rumah sakit.
"Melayani Raya. Di sana dia pasti butuh pelayanan," sahutnya meminta sopir untuk segera menjalankan mobil.
Bagas yang sudah dikabari Elrick saat di tengah jalan, segera menghubungi rumah sakit, menyiapkan semua keperluan untuk kedatangan Elrick.
Begitu melihat mobil mewah itu memasuki pintu utama rumah sakit, brankar dorong sudah menyambut mereka. Buru-buru Raya di bawa masuk.
Elrick sempat membuat gaduh di tempat itu karena bersikeras ingin masuk ke dalam ruangan, meminta dokter yang menangani Raya hanya dokter perempuan saja.
Beruntung Dipa yang sudah tiba disitu, dan tentu saja orang yang lebih waras dari Elrick, menangani masalah itu. Meminta dokter yang terdaftar di rumah sakit itu sebagai dokter wanita khusus kandungan datang membantu persalinan Raya.
Beruntung, ada dua dokter kandungan dan dokter anak yang saat itu akan pulang, terpaksa diminta untuk membantu Raya.
"Sayang, sakit ya? maaf ya sayang... Ini salahku udah menghamilimu," ucap Elrick meracu gak jelas. Tidak tega melihat Raya yang menderita kesakitan. Keringatnya bercucuran menahan sakit melengkapi pembukaan. "Kalian kenapa diam, lakukan sesuatu!"
"Tenang, Pak. Memang seperti itu. Ayo, Bu. kita mulai ya. Saya cek dulu," ucap sang dokter memasukkan jarinya ke dalam vagi*na Raya.
"Kau mau apa?" tanya Elrick ngeri. Perbuatan sang dokter membuat Raya semakin kesakitan.
"Memang seperti ini prosedurnya, Pak. Baiklah, pembukaannya sudah lengkap. Ikutkan instruksi saya ya, Bu."
Ditengah kesakitannya, Raya mencoba mendengarkan semua ucapan dokter. Dan lima menit kemudian, mereka memulai proses mengeluarkan bayi.
"Tarik napas, Dorong...." ucap dokter tersebut. Raya melakukannya sesuai petunjuk. Bulir-bulir keringat muncul di keningnya. Elrick terus menerus membisikkan kata cinta dan permohonan maaf di telinga Raya.
"Aku mencintaimu, Sayang. Aku janji, aku tidak akan pernah membuatmu menderita di dunia ini. Bertahanlah sayang, kau kuat, kau hebat," ucapnya menciumi kening Raya.
Proses persalinan Raya begitu sulit. Bayinya yang hampir keluar, kembali masuk. Raya terlihat sudah sangat lelah, namun saat membayangkan dirinya akan bertemu calon anak mereka, ada kekuatan baru yang buatnya semangat untuk mendorong bayinya keluar.
"Ayo, Bu. Kita coba sekali lagi," ucap dokter kandungan itu. Dia juga sudah mulai kewalahan dan sudah menginstruksikan para perawat untuk menyiapkan ruang operasi kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.
Sekali lagi Raya berjuang, mempertaruhkan nyawanya. Ini kewajibannya sebagai seorang wanita, melahirkan anak untuk suaminya. Dia yakin, dirinya mampu melakukannya. Dia ingin bertemu buah hatinya.
Setelah diberi instruksi, Raya menarik napas, lalu dengan sekuat tenang mendorong bayinya hingga di ruangan itu menggema tangis bayi yang sudah ditunggu kehadirannya sejak tadi.
"Selamat, Bapak... ibu, anaknya lahir dengan sehat. Anaknya laki-laki. Tampan seperti ayahnya," ucap dokter anak yang langsung mengambil bayi itu setelah keluar dari ibunya.