
Anggota keluarga yang pertama keluar pagi itu adalah Tita dengan anak keduanya. Gadis kecil cantik yang hidung dan matanya mirip sekali dengan Dipa.
"Sayang, kamu mau kemana sepagi ini udah siap-siap?" tanya Tita mendekati Sidney. Gadis kecil yang tampak bersemangat itu meronta ingin sekali digendong Sidney, hingga ibunya menyerahkan pada gadis itu. Helena baru kemarin sore kenal dengan Sidney, tapi gadis dua tahun itu sangat menyukai Sidney, dengan patuh duduk di pangkuannya.
Satu persatu keluarga Diraja turun untuk sarapan bersama. Sidney yang tidak bisa tidur, sudah sejak pukul lima pagi bersiap, membawa tas ranselnya turun ke bawah menunggu mereka.
"Pagi, Sayang. Kamu udah rapi? Mau..." Raya tidak meneruskan kalimatnya. Dia benci untuk menerima hal ini.
"Iya, Tante, aku mau pulang ke Bandung."
"Kita sarapan dulu," ucap Elrick memutus pembicaraan yang dia tahu akan panjang ujungnya. Tadi malam istrinya itu ngambek, gak mau dipeluk Elrick, sebelum Elrick janji untuk mengatur agar Sidney tidak pergi.
"Pagi, udah pada ngumpul semua. Hai, beautiful, om senang melihatmu di sini," ucap Dipa mencium puncak kepala Sidney.
Tidak lama Scot menyusul, duduk di samping Sidney. Dia juga tampak sudah rapi, karena sesuai perjanjian dialah yang akan mengantar Sidney pulang ke Bandung.
Sarapan pagi berlangsung terasa begitu cepat. Hanya ini harapan Sidney untuk bisa bertemu pria itu sekali lagi, tapi sampai semua orang selesai makan, Paris tidak kunjung turun.
"Apa dia menyesal telah menciumku? Apakah ini cara dia untuk menyampaikan selamat tinggal padaku?" batinnya meletakkan sendok dan menghabiskan air putih ya.
Sidney pasrah, dia memilih untuk tidak ingin berlama-lama lagi di sana. Sidney pamit pada Elrick yang juga mencium puncak kepalanya dan memberikan pelukan sayang seorang ayah pada Sidney. "Ingat janjimu pada, Om. Sejauh apapun kamu melangkah, ingat pulang, ingat kami orang tuamu, ingat kami keluargamu di sini."
Sidney mengangguk haru. Elrick menyelipkan kertas di kantong ranselnya. Melalui matanya dia ingin bertanya, tapi anggukan Elrick lebih dulu membuatnya paham. Sekali lagi dia memeluk Elrick, hingga air matanya tumpah. Raya yang melihat hal itu tidak kuasa ikut menangis, memeluk punggung Sidney hingga ketiganya berpelukan.
Dipa yang juga merasa sedih, memeluk Tita yang sudah ikut menangis tanpa suara.
"Udah dong, kok pada nangis-nangisan. Bandung dekat, tiap hari juga kita bisa ke sana," celoteh Scot.
Sidney pun menyalami semua orang, Helena menangis ingin ikut dengannya. "Nanti kakak datang lagi ya," ucap Sidney mencium gadis kecil itu.
"Kamu memang harus pergi?" Raya masih menggenggam tangan Sidney, mengantar hingga ke mobil Scot. Sahabatnya itu memaksa untuk mengantar hingga ke Bandung, dengan ancaman kalau menolak akan dimusuhi selamanya, Sidney setuju diantar Scot.
"Iya, Tante. Aku pasti akan sering pulang. Tante jaga kesehatan. Sebentar lagi aku wisuda. Tante sama Om harus datang."
"Tanpa kamu minta, Tante dan Om pasti datang. Jaga diri kamu, ya. Kalau ada apa-apa langsung kabari Tante."
***
Sidney segera mengambil kertas yang diselipkan Elrick di dalam saku ranselnya tadi. Dibaca dan segera mencari alamat itu melalui goo*gle map. Dipandanginya sekali lagi guna meyakinkan hatinya.
Setelah selesai bicara dengan Elrick, Sidney bertanya dimana ayahnya, apakah Elrick tahu. Dengan tegas pria itu melarang Sidney bertemu dengan ayahnya.
"Dia tidak pantas mendapat maafmu. Pria breng*sek itu sudah menyakitimu, mengabaikanmu dan menganggapmu tidak ada. Om ga setuju kamu menemuinya!"
Sidney diam. Dia juga masih marah pada Sandi, benci pun mungkin masih tersisa di hatinya. Tapi biar bagaimanapun, Sandi adalah ayahnya. Masih ada darahnya mengalir dalam tubuh Sidney.
"Aku hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja, Om."
"Dia baik. Justru karena memandangmu lah Om tidak memenjarakannya dan membuatnya jadi gembel. Om sudah menyediakan rumah untuknya dengan sepetak tanah untuk dia olah. Sudahlah lupakan dia. Anggap kami orang tuamu. Apa kasih sayang kami padamu gak cukup?"
Sidney tidak lagi mendebat, dan segera keluar dari ruangan itu.
"Kita sampai. Emang ini rumah siapa?" tanya Scot ikut menatap ke sebuah rumah petak tipe 36. Dari arah dalam rumah, keluar seorang anak kecil, yang Sidney tebak kini duduk di kelas lima sekolah dasar yang bermain dengan bolanya. Sidney memandangi dari tempatnya, hingga bola yang dia tendang itu menggelinding ke arah pintu mobil.
Sidney bergegas membuka pintu mobil, mengambil bola itu lalu berjalan ke arah bocah itu. Lama Sidney tertegun, melihat seksama wajah anak itu sementara Scot kini juga ikut turun dari mobil. Melihat anak itu dia jadi paham rumah siapa yang mereka tuju.
Sidney meremas kuat bola itu. wajah anak itu jelas 'foto copy' ayahnya. "Hai... Ini bola kamu," ucap Sidney yang disambut senyum oleh anak itu.
Belum sempat menjawab, seorang wanita yang penampilannya tampak sederhana keluar karena ingin menjemur pakaian. Ember yang ada ditangannya jatuh. Kedua tangannya menutup mulutnya yang menganga, terkejut akan kedatangan Sidney.
"Sidney...,"panggilnya lemah.
Sidney kaku. Dia sendiri bingung harus bersikap seperti apa. Ingin tersenyum, tapi kenapa hatinya merasa tidak berkenan.
"Si- silakan masuk Sidney. Maaf, rumahnya berantakan," ucapnya ramah.
"Terima kasih, di sini saja."
Wanita itu mengangguk mengerti, lalu tergopoh-gopoh membereskan sekitarnya untuk memberi tempat duduk yang nyaman di teras rumahnya.
Sidney duduk, tapi perasaannya tidak nyaman karena anak kecil itu melihatnya terus. "Ibu, kakak ini siapa? Kenapa wajahnya mirip dengan...." Anak itu tidak menyelesaikan kalimatnya, berlari ke dalam rumah, lalu tidak berapa lama muncul kembali dengan satu bingkai foto.
Mata Sidney berkaca-kaca melihat apa yang ditunjukkan anak itu. Gambar dirinya saat masih SMP. Foto yang diambil kala ayahnya mengajak dirinya ke Ancol saat ulang tahunnya. Di sudut frame itu ada potongan foto yang sudah digunting dan diselipkan. Fotonya dengan sang ayah.
"Sid...." Wanita itu memecah lamunan Sidney. Buru-buru air matanya yang menetes di pipi, langsung dihapusnya.
"Mmm... Papa mana?"
"Dia bekerja. Kami membuka bengkel kecil. Sebentar lagi dia akan pulang. Aku siapkan makan siang dulu," ucap istri ayahnya.
"Tidak usah. Aku pamit saja."
"Sidney," tangis wanita itu pecah. "Aku minta maaf untuk kesalahan yang kami perbuat. Aku tahu kalau ayahmu sudah menikah setelah kami menikah sirih. Aku bersalah pada ibumu, juga padamu. Maafkan aku, maafkanlah ayahmu. Aku sungguh menyesal walau mungkin tidak ada artinya lagi," ucap wanita itu disela tangisnya yang sesunggukkan.
"Sudahlah Tante, kita lupakan masa lalu. Aku sudah memaafkan, walau mungkin tidak akan pernah melupakan rasa sakit itu. Aku datang hanya ingin mengatakan kalau aku merestui kalian, mendoakan keluarga kecil kalian selalu bahagia," ujar Sidney dengan suara bergetar menahan tangis.
"Hei, kenalkan Aku Sidney, kakak kamu," ucapnya mengulurkan tangan ke arah bocah itu. Penuh semangat anak itu menerima uluran tangannya. "Hai kak Sidney, Aku Dimas."
***
Scot hanya tinggal sebentar, tidak jadi menginap seperti rencana di awal. Setelah memastikan Sidney tiba di kos dan menunjukkan tempat kerjanya, Scot pulang karena harus menjemput Gladys lagi ke bandara. Itupun karena Sidney yang memaksa untuk segera pulang.
"Sampaikan salamku pada Gladys," ucap Sidney mengayunkan tangan di hadapan wajahnya.
Sidney memandang jauh ke arah mobil Scot yang masih terlihat walau sudah sangat kecil. Sidney menghela napas, dan tersenyum pada sapaan angin. Dia kembali dalam kenyataan hidupnya, yang sepi dan sunyi.
*
*
*
Lanjut gak? Saweeeeeeer... ingat gais, orang bijak bilang, jadilah orang bijak, kita harus memaafkan kesalahan orang lain, tapi tidak melupakan kesalahan itu, agar suatu saat kita bisa mengambil pembelajaran saat menghadapinya.
*
*
*
Nah, Monggo mampir dulu di novel teman aku🙏☺️