
Elrick pada menatap lurus ke arah punggung wanita yang sudah memberikannya kehidupan. Dalam ingatannya saat terakhir bertemu, tubuh wanita itu jauh lebih berisi, namun saat ini terlihat sangat kurus, dan juga menyedihkan.
Dokter sudah meninggalkan mereka. Elrick masih ragu untuk melangkah mendekat. Sepertinya wanita itu belum menyadari kehadiran mereka. Masih diam, dan menatap jendela kamar yang menawarkan pemandangan sekitar rumah sakit, seolah di sana ada hal yang menarik minatnya.
Genggaman tangan Raya menyadarkan Elrick untuk segera bangun dari terowongan waktu yang membawa ke masa lalu. Pria itu menoleh ke samping, menatap Raya dan mendapatkan kekuatan serta keberanian, seolah Raya ingin mengatakan, 'Pergilah, bicaralah pada ibu mu', dan saat Raya mengangguk serta melepaskan pegangan tangannya, Elrick tahu apa artinya.
Langkahnya begitu pelan dan ragu. Bertahun lamanya, dia bahkan tidak mengharapkan akan ada hari ini.
Sekali lagi Elrick menoleh ke belakang, seolah ingin memastikan kalau Raya masih ada di sana, untuk mendukungnya. Kala wanita itu mengangguk seraya tersenyum, Elrick mantapkan hatinya lalu menyentuh lembut pundak wanita itu.
Perlahan, Silvira menoleh ke tangan yang kini menempel di pundaknya, menjalar ke atas dan tertegun pada wajah Elrick. Ada jeda di sana, seakan Silvira mencari memori yang tersimpan untuk Elrick.
"Aaaaaacckkk... kau... pergi... pergi... jangan mendekat!" umpatnya penuh histeris setelah mengenali wajah Elrick, segera menjauh, membenturkan tubuhnya ke sudut dinding kamar.
Tubuh Elrick kaku. Kini benar bisa melihat dengan jelas wajah yang dia tangisi saat pergi meninggalkannya.
"Ka-u mengingatku?" tanya Elrick lebih pada bisikan sebenarnya. Dia masih shock, masih tidak percaya bisa bertemu kembali dengan ibunya. Wanita yang sangat dia benci. Tapi benarkah hanya ada benci di hatinya? Lantas mengapa ada perasaan haru melihat wanita itu?
"Pergi... tolong... pergi sana... kau tidak bisa mengurungku ditempat ini, aku membencimu Tomo! Tidak... aku akan pergi...," ucapnya meracu, memandangi lantai kamar, berbicara seolah ingin meyakini dirinya kalau semua yang terjadi dalam hidupnya justru belum terjadi.
"Gali... Gali akan datang. Dia akan menjemput ku. Dan kau... kau Tomo... tidak akan bisa memisahkan kami!" teriaknya ke arah Elrick yang dianggap sebagai Tomo. Kebencian jelas terlihat di mata Silvira.
"Bahkan di saat kau seperti ini, masih mengharapkan pria bia*dap itu!" Amarah Elrick mencuat, dendam dan juga sakit hati bertahun-tahun kini kembali mengambang ke permukaan.
"Pergi... pergi... kalau kau tidak menikahiku, aku pasti sudah bersama Gali. Aku... aku akan membunuhmu," umpatnya menerjang tubuh Elrick yang hanya berdiri diam, tanpa mengelak atau pun melawan, menggores tangan dan juga lengan pria itu. Raya yang melihat hal itu datang mendekat, melerai Silvira.
"Ibu, sudah Bu. Lepasin Bu, mas Elrick kesakitan, Bu," ucap Raya melerai cengkeraman Silvira. Kukunya menancap di kulit lengan Elrick dan pria itu bergeming, menatap wajah Silvira dengan penuh kesedihan. Sebenci itu Silvira pada ayahnya.
Perhatian Silvira beralih pada Raya. Dia menatap marah padanya. Sorot tajam dan dengan bola mata yang melotot, Silvira memindahkan tangannya ke leher Raya, mencekik gadis itu.
Elrick segera melerai, melepaskan tangan Silvira dan menarik Raya. Napasnya tersengal dan seketika Elrick menatap marah ke arah Silvira karena sudah menyakiti gadis itu.
"Kau harus mati di tanganku Intan. Kau sama saja seperti Abang mu, Tomo. Aku benci kalian. Aku benci keluarga Diraja!" Savira masih terus memaki dengan sorot mata tajam dan penuh benci.
"Aku benar-benar kasihan padamu. Cukup bagiku melihat mu. Harusnya aku tidak mencarimu," ucap Elrick datar. "Aku juga tidak tahu mengapa aku masih berharap padamu."
Perkataan Silvira jelas menghujam jantung Elrick. Mengoyaknya hingga berdarah tak terlihat. Seorang anak pastilah mengharapkan kasih dari ibunya. Berharap menjadi pelita di hati ibunya. Tapi ucapan Silvira menunjukkan kalau dia sama sekali tidak pernah ada di hati wanita itu, walaupun sudah melahirkannya.
***
Keduanya melewati lorong rumah sakit itu dalam diam, tidak ada satupun yang berucap. Baik Elrick dan Raya sama-sama terkurung dalam pikiran mereka. Terus melangkah sampai tiba di pojok ruangan menuju anak tangga. Raya menghentikan langkahnya yang otomatis membuat Elrick pun berhenti.
Elrick segera menatap Raya, takut kalau langkah gadis itu terhenti karena merasakan sakit bekas cekikan Silvira tadi. Mata Raya sudah berkaca-kaca dan tiba-tiba memeluk tubuh Elrick dan mulai menangis dengan kencang. Membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu. Tidak perlu mengatakan apa pun, Elrick paham perasaan Raya. Dia biarkan gadis itu memuaskan kesedihannya.
Ragu-ragu Elrick menghapus punggung bergetar itu. Bukan berhenti, Raya malah semakin terisak. Air matanya sudah membasahi kemeja Elrick, terasa sampai ke kulit pria itu.
"Sudah, dasar bodoh."
"A-ku... a-ku ti-dak mengerti mengapa Bu Silvira membencimu. K-au orang yang ba-ik, anak ya-ng sayang pa-da orang tu-a, tapi kenapa Bu Silvira...," ujar Raya dengan tersendat oleh isakan nya.
Elrick terharu, hatinya begitu tersentuh. Kalau Raya tidak ada menemaninya tadi, mungkin emosinya akan memuncah dan mengobrak-abrik rumah sakit itu, mengumpat ibunya dengan sumpah serapah.
Kehadiran Raya menyejukkan hatinya, meredam amarah, bahkan tanpa dia sadari bisa mengobati luka yang sejak dulu ada.
"Sudah, jangan nangis. Aku baik-baik saja." Elrick masih terus membelai punggungnya hingga gadis itu tenang dan benar-benar berhenti menangis.
Satu demi satu orang lewat, hanya menatap sekilas pada mereka. Elrick tidak pernah terpikir akan bisa berpelukan seperti ini dilihat orang. Raya benar-benar mengubahnya menjadi sosok baru yang lebih berperasaan dan juga bisa merendahkan egonya.
"Mau sampai kapan kita akan berpelukkan begini?"
Raya menyadari keadaanya saat ini, dan mulailah panas menjalar di pipinya. Malu karena sudah lancang memeluk Elrick. Tapi setelah apa yang dialami pria ini, Raya memutuskan untuk tidak harus menyesali perbuatannya. Dia memang ingin memeluk pria itu, demi memberikan dorongan dan dukungan guna membesarkan hati pria itu.
Jangan malu Ray, kau hanya memberikan dukungan pada seorang teman... ya hanya seorang teman, tanpa embel-embel apa pun...
Raya menarik diri. Menunduk malu. Apa yang tadi dia janjikan dalam hati, nyatanya tidak bisa dia penuhi.
Elrick mengerti, dia tidak ingin terus mengolok gadis itu dengan akibat memperdalam rasa malunya. Elrick menggenggam tangan Raya, mengajak gadis itu melangkah pulang dengan saling menggenggam dan jari bertautan.