
Sidney terus mengejar Scot, hingga keduanya tiba di taman kompleks tidak jauh dari rumah mereka. Scot berhenti dan memilih duduk di bangku taman yang terbuat dari bata yang disemen.
Takut-takut Sidney mendekat, karena tidak ada bentakan dari Scot yang menyuruhnya pergi, Sidney memberanikan diri untuk duduk di sampingnya.
"Scot, aku minta maaf," ucapnya menyerongkan duduknya agar lebih jelas berhadapan dengan Scot.
"Sejak kapan? Sejak kapan lo bersamanya? Sejak kapan lo mengkhianati persahabatan kita? gue gak ada artinya ya buat lo!" Suara Scot menggelegar, nyali Sidney menciut. Ini kali pertama Scot membentaknya sekeras itu.
Waktu SMP mereka berdua pernah bertengkar hebat, gara-gara Sidney pergi liburan dengan Oma dan Opanya tanpa mengajaknya ikut bersamanya. Jelas saat itu Scot merasa tidak dianggap penting hingga memarahi Sidney dan mendiami gadis itu, tapi tidak separah ini.
"Gue minta maaf Scot... Gue gak bermaksud buat bohong sama lo," ucap Sidney menyentuh lengan Scot tapi pria yang sedang dilanda amarah itu justru menyentak tangannya.
"Gue kecewa sama lo. Apa gunanya peraturan itu kita buat? Kenapa harus dia sih, Sid? Kenapa harus Paris!" bentaknya penuh amarah yang tidak lagi terkontrol.
"Gue minta maaf, Scot. Gue gak bisa memilih sama siapa gue suka. Hati gue yang milih dia." Tangis Sidney masih saja terdengar bersama hembusan angin sore.
"Gue kecewa banget sama lo, Sid! Lo tahu, selama gue hidup, gue selalu dibanding-bandingkan dengan Paris. Gue selalu jadi nomor dua, apa yang dia punya dalam hidupnya selalu menjadi impian gue. Gue cuma punya Lo, yang gue pikir dia gak akan bisa memiliki lo, gue cuma punya lo yang gak dia punya. Tapi sekarang? Bahkan lo udah milik dia!" Scot menghapus jejak air mata di pipinya yang turun padahal sudah sejak tadi dia tahan.
Sidney tidak mengatakan apapun lagi. Dia memahami perasaan Scot saat ini, dan itu salahnya. Dia jadi benci pada dirinya sendiri karena telah jatuh cinta pada Paris.
"Gue minta maaf, Scot. Please maafin gue..."
Scot berdiri, dia tidak ingin mendengar apapun lagi dari bibir gadis itu. Saat ingin melangkah, Sidney memegang kembali tangan Scot erat, namun pria itu kembali menarik tangannya kasar hingga Sidney terpelanting mundur dua langkah ke belakang.
"Dasar brengsek, lo. Tega lo kasar sama, Sidney?" Hardik Paris yang sudah datang mendekati mereka.
"Ris, ngapain sih lo ke sini? Gue kan udah minta lo tunggu di rumah. Lo memperburuk keadaan, tau gak!" umpat Sidney kesal pada Paris.
"Diam, Lo! Lo yang brengsek! Kalau lo butuh pelampiasan jangan Sidney, t*i!," balas Scot siap melepas pukulannya. Baginya hanya Sidney miliknya satu-satunya, orang yang dianggap lebih dipercaya dari bayangannya sendiri.
"Mau lo apa sih? Lo udah gede, dewasa dong lo, gak selamanya Sidney harus terus ada di sisi lo. Jangan dengan alasan persahabatan lo gak izinkan dia bahagia."
Scot yang sudah di level tertinggi, dia tidak memperdulikan lagi Sidney yang sudah menangis meminta mereka menghentikan pertengkaran keduanya. Pria itu maju, melayangkan satu pukulan di pipi Paris.
Paris yang tidak sempat mengelak akhirnya harus menerima pukulan itu. Sudut bibirnya ikut kena imbas dan pecah, mengeluarkan tetesan darah segar.
Paris memegang kedua tangan Scot ketika pria itu ingin memukulnya untuk kedua kali, memiting hingga Scot tersungkur ke tanah.
Paris hanya menahan, tidak ingin membalas karena tahu Scot saat ini dikuasai amarahnya. "Tenangkan dirimu, jangan seperti ini. Lo udah buat Sidney ketakutan." Keduanya menoleh pada gadis itu yang menangis hingga berlutut di tanah.
Paris bangkit, begitupun dengan Scot. Masih dengan tatapan amarah pada mereka berdua, Scot berlari lagi meninggalkan kedua orang yang dianggapnya sudah mengkhianatinya.
"Scot...." Teriakan Sidney tidak lagi diindahkan Scot. Dia terus berlari menjauh.
"Apa maksudmu, Sid? Kau menyalahkan hubungan kita? Hubungan yang kita bangun dari perasaan yang sama?"
"Aku gak tahu. Yang aku tahu, aku lebih rela kehilangan apapun, tapi tidak dengan persahabatan ku dengan Scot!"
Paris membatu. Diam mendengar ucapan Sidney yang seolah menampar dirinya, harga dirinya benar-benar terhina. Dia menggeram, kalau orang lain mungkin sudah memukuli keduanya karena memandangnya sebelah mata. Tapi ini Sidney, cintanya begitu besar pada gadis itu.
***
Dua hari berlalu, Sidney kembali tinggal di rumahnya. Selama itu pula dia tidak masuk sekolah. Dia hanya menghubungi Sandi, meminta pria itu untuk menghubungi gurunya, izin dia tidak masuk sekolah karena sakit.
"Papa sudah telepon ke sekolah. Kamu benar-benar cuma perlu istirahat? Papa gak bisa pulang sekarang, masih ada kerjaan. Apa papa minta Tante Lala datang ke rumah?"
"Gak usah, Pa. Nanti kalau belum membaik, aku sendiri yang akan telepon Tante Lala, biar dia datang ke rumah," jawab Sidney semakin sedih. Dia sudah bilang pada ayahnya kalau dia sedang tidak baik, tapi ayahnya lebih mementingkan pekerjaan, alih-alih pulang melihat keadaannya. Tidak ada yang mengkhawatirkannya.
Kalau sudah begini, dia sangat merindukan Raya. Dia ingin menangis di pelukan wanita itu. "Mama, aku harus cerita sama siapa? Aku kangen Mama..." Sidney pun hanya bisa menangis hingga jatuh dalam mimpinya.
Di rumah Diraja juga mencekam seperti kuburan. Kedua orang itu tidak saling sapa. Hingga keesokan harinya, Nani beserta kedua pasang pasutri pulang ke Indonesia.
"Halo, kok pada sepi rumah. Pada kemana bi?" tanya Raya pada Juminten yang menyambut mereka. Ini sudah jam pulang sekolah, tapi ketiga remaja itu tidak tampak.
"Di kamar, Bu."
"Aku akan panggil mereka," ucap Raya hendak bangkit, tapi ditahan Elrick.
"Kau masih lelah, biar aku yang cari anak-anak," ucapnya membelai rambut panjang Raya.
Tidak lama Elrick turun bersama kedua anak lajangnya. "Kamar Sidney kosong," ucap Elrick seolah tahu apa yang akan ditanyakan istrinya kala melihat hanya mereka bertiga yang turun.
"Loh, anak gadis mama mana? Kalian berdua, Sidney mana?"
Tidak ada satupun yang bersedia menjawab. Raya merasa ada yang aneh, tapi dia masih belum bisa menduga.
"Lebih baik, aku ke rumah Sidney aja nanti," batinnya.
***
"Tante...." Teriak Sidney kala melihat Raya berdiri di ambang pintu kamarnya. Dia pikir karena tubuhnya yang sedang demam tinggi membuatnya berhalusinasi, tapi kala melihat Raya mendekat dan duduk di samping ranjangnya, Sidney baru yakin itu benar-benar Raya.
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit? Demam mu tinggi banget. Kita harus ke dokter ini."