
Hari ini Raya menyiapkan bekal makanan untuk disantap Elrick siang nanti. Pria itu tiba-tiba saja memintanya untuk membuatkan makan siang sekaligus menemaninya makan di kantor.
Walau tidak percaya diri, Raya yang mendengarkan nasehat Lia yang saat ini membantunya di dapur, menjadi lebih semangat.
"Kau cantik. Tidak ada yang salah akan dirimu, kenapa kau harus malu? kenapa kau harus tidak percaya diri menunjukkan pada orang lain kalau kau istri mas Elrick?" Tukasnya mencicipi ikan teri nasi yang disambal.
Sebenarnya Lia lebih tepatnya menjadi tim pencicip, ketimbang menjadi orang yang membantu masak.
"Lihat nih, ikan teri mu, enak banget. Belum lagi udang sambal balado, gak ada lawan. Kau benar-benar istri idaman banget. Bukan kayak aku, malas masak," celoteh Lia menyuap nasi dengan tangannya.
"Tapi Liya, aku tuh gak pede banget sama tubuh aku yang kayaknya makin gendut di beberapa tempat, tapi wajah makin tirus karena kurang tidur," ucap Raya duduk di salah satu kursi makan yang ada di dapur.
Pagi ini hanya mereka berdua yang menguasai dapur. Koki yang pelayan yang lain secara terpaksa mengikuti Oma, yang minta ditemani beryoga ria.
"Yang mana? aku lihat malah tubuhmu semakin sekal, montok sehabis melahirkan. Bahenol malah," lanjut Lia.
"Perut bergelambir nih karena makan gak ingat waktu, kadang jam 11 malam juga makan yang berat kalau lapar habis menyusui Paris." Raya merebahkan kepalanya di atas meja makan. Mendengus menatap jauh ke arah pintu dapur. Dia bingung harus apa. Tidak pergi, tapi suaminya sudah meminta dibawain makanan.
"Pergilah, Ray. Kau harus percaya diri. Aku gak bohong, kau malah tampak lebih bersinar setelah menjadi ibu. Auramu sebagai wanita dewasa terpancar. Apa pernah aku bohong padamu? Apa aku tipe sahabat yang mau mempermalukan sahabatnya sendiri?"
Ucapan Lia ada benarnya. Mengapa dia harus malu dengan keadaannya sekarang? Dia sudah melahirkan pewaris untuk Elrick. Kalau di kerajaan, dia ibarat permaisuri, punya hak mutlak atas diri suami dan juga anaknya. Oh, jangan lupakan, status nyonya Diraja ada di tangannya.
Sekali lagi Raya menatap pantulannya di cermin. Sangat cantik. Namun, dengan ukuran dada yang semakin membesar karena sedang mengasihi Paris, membuatnya kurang percaya diri. Bokongnya juga membulat dan selalu menjadi sasaran kecupan bahkan tak jarang digigit oleh Elrick karena gemasnya.
Tapi semua perubahan yang dialami tubuh Raya justru membuatnya tidak percaya diri. Dadanya dirasa terlalu besar walaupun pinggangnya tampak ramping, namun ada lipatan kecil lemak di perutnya, sangat kecil bahkan nyaris tidak tampak, tapi memang kalau duduk pasti berlipat. Dan itu membuatnya lagi-lagi tidak percaya diri.
"Jangan dipakai kardigan nya. Gak masuk sama mini dressmu," komplen Lia, berdiri dan menarik paksa kardigan dari tangan Raya.
"Tapi Liya..."
"Udah. Aku bilang gitu aja, udah cakep kok. Ini udah jam 11 loh, mas Elrick pasti udah sangat lapar. Pergi sana. Paris serahkan padaku, iya kan sayang," ucapnya mencium pipi bakpao bayi gembul itu. "Ray, pakai dong perhiasanmu. Masa seorang istri Elrick Diraja cuma pakai kalung tipis sama cincin kawin aja."
"Gak papa lah Liya. Lagi pula, siapa yang akan memperhatikan hal gak penting seperti itu. Lagi pula perhiasannya berat-berat semua," ujar Raya menatap cermin. Menurutnya dia memang tidak cocok memakai perhiasan mahal. Dia suka penampilannya sederhana seperti ini. Lagi pula ini kan hanya pergi ke kantor suaminya.
"Ya sudah. Ayo, berangkat sana."
"Tasku," cicit Raya mencari tas tangannya yang sedikit lebih besar karena dia harus membawa alat pompa asi dan juga wadah penampungan.
"Itu tuh, di atas sofa," tunjuk Lia yang sibuk memperbaiki posisi Paris yang ada dalam gendongannya.
"Aku pergi. Titip Paris, dan doakan aku," ujarnya mencium pipi Lia dan segera turun.
Raya terperangah menatap bangunan megah dan begitu tinggi, tampak mewah dan sangat luas. Raya masih belum percaya kalau itu adalah kantor suaminya. Gedung setinggi ini milik Elrick, suaminya. Berulang kali kalimat itu dia ulang, mengingatkan kalau dia adalah istri Elrick Diraja.
Sesuai petunjuk resepsionis dan juga sopir yang membawa Raya tadi, ruangan suaminya ada di lantai 20. Raya menaiki lift dengan menenteng tas besar dan juga handbag berisi makan siang untuk Elrick.
"Selamat siang, Mbak. Saya ingin bertemu bapak Elrick," sapa Raya yang sudah berdiri di depan meja dua wanita yang dia duga adalah sekretaris Elrick.
Bagaimana Raya tidak semakin down melihat penampilannya, di lantai lobi saja tadi, dia sudah bertemu sama resepsionis yang berpenampilan cantik, modis dan juga seksi. Saat Raya berhasil melewati interogasi satpam dan berjalan memasuki lift, mereka tampak menatap aneh pada Raya. Seakan mencemooh dan juga memandang hina.
Bahkan Raya masih sempat mendengar salah satu dari mereka bilang kalau dia mungkin saja orang yang diminta karyawan di atas mengantarkan pesanan makan siang.
Hati Raya sedih, tapi dia mencoba menguatkan dirinya. Terserah orang mau berkata apa, pada kenyataannya dia adalah istri sah Elrick, yang menikah di kampung halamannya, diarak keliling kampung dari rumah ayahnya menuju tempat resepsi, dan pesta pernikahannya dihibur oleh biduan dangdut kampung.
"Kamu siapa? Ada perlu apa bertemu pak Elrick?"
"Oh, ini Mbak, saya dari rumah, mau mengantar makan siang pak Elrick," terang Raya mulai panik. Bagaimanapun dia harus tetap menjaga kehormatan suaminya agar tidak ditertawakan oleh bawahan Elrick.
"Oh, Kamu salah satu pelayan di rumahnya ya? ya udah bawa sini bekal makanannya, biar saya yang bawa masuk. Kamu pulang aja."
"Tapi Mbak, saya harus bertemu dulu dengan pak Elrick."
"Untuk apa? ongkos? nih." Wanita itu menyodorkan selembar uang merah yang lalu ditolaknya melalui gelengan kepala.
"Gak mau? Dasar babu belagu. Ya sudah sana kalau gak mau. Pergi sana. Pak Elrick lagi meeting dengan orang-orang penting, jangan sampai kehadiranmu di sini buat tercemar nama perusahaan ini, membuat pak Elrick malu!"
Raya sudah ditarik oleh salah satu teman wanita itu menuju lift. "Sekarang kamu turun, dan pulang!" serunya yang membuat Raya terlempar ke dalam lift yang kebetulan sudah terbuka, dan langsung ditutupnya.
Dalam lift Raya ingin menangis, tapi buru-buru dihapusnya air matanya. Dia tidak pantas menangis, untuk apa dia tangisi hal seperti ini. Harusnya dia melawan sikap zalim pada wanita yang memandang hina dirinya. Seketika dia ingat tas yang dia pegang, sebagian berisi alat pompa asinya. Dia ingat Paris. Anak itu menjadi bukti cinta sucinya dengan Elrick, yang menjadi kekuatan baginya.
Pintu lift terbuka. Sejenak dia berpikir, lalu dengan penuh percaya diri, dia kembali menutup pintu lift, menekan tombol, menuju lantai 20.
*
*
*
Singa betina Elrick ngamuk nih...ðŸ¤ðŸ¤