
Sidney terpaksa kembali ke apartemen Paris. Dia tidak ingin Paris membuat keributan karena masalah mereka.
Sidney menunggu Paris yang sedang berganti pakaian. Dia hanya memberi waktu pada pria itu 15 menit untuk menjelaskan apa yang ingin dia katakan. "Sayang..." Paris menelan salivanya saat melihat bola mata Sidney yang melotot padanya karena panggilan sayang.
"Aku gak ada hubungan apa-apa dengan Hana. Foto itu diambil saat aku diminta ayahnya untuk datang ke rumah. Sahabatnya yang ambil foto itu tiba-tiba."
Sidney tidak mempermasalahkan foto itu lagi, setidaknya untuk saat ini. Dia hanya ingin kejelasan mengapa Hana bisa 'menyetir'nya. Apa yang terjadi pada Paris yang dulu tidak peduli pada apapun?
Kalau hanya balas budi, cukup mengucapkan terima kasih dan suatu saat kalau membutuhkan bantuannya, maka akan dia lakukan. Bukan begini, Paris diminta jadi baby sitter Hana.
"Aku pernah berkelahi dengan anak pejabat di kota ini. Anak itu sampai harus masuk rumah sakit karena ku hajar. Ayah Hana menolongku, mengamankan ku dari amukan warga sini. Saat itu aku sudah bertanya aku harus balas kebaikannya dengan cara apa. Dia hanya minta aku menjaga putrinya yang kebetulan teman satu jurusanku."
Sidney puas. Paris masih jujur untuk tingkat ini, karena Elin juga mengatakan hal itu. "Kenapa gak kasih tahu masalah ini sama om Elrick?"
"Aku gak mau terus berada di belakang nama besar dan kekuasaan papaku, Sid. Aku gak mau kabar ini membuatnya kecewa padaku. Kau ingat saat aku berantam di sekolah karena membelamu, papa sudah mengingatkan itu adalah pertengkaran terakhir. Jadi bagaimana mungkin aku membebani pikiran mereka. Lagi pula, aku pikir kamu juga nanti kuliah di sini, aku gak mau ada yang mengganggumu selama kuliah di sini nanti, jadi aku harus bersabar menghadapi tingkah Hana."
Sidney terdiam. Di satu sisi, alasan Paris masuk akal, kalau terus mengandalkan nama besar ayahnya, kapan dia bisa dewasa menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Aku pulang dulu, Ris. Aku perlu waktu memikirkan semuanya. Memikirkan hubungan kita ini akan dibawa kemana nantinya."
"Aku tahu saat ini kamu sedang marah padaku, tapi aku mohon Sidney, jangan pulang hari ini, redam dulu amarahmu, setelah tenang baru pulang ke Indonesia," ujar Paris memohon. Dia takut kalau nanti sudah pulang, Sidney akan memutuskannya.
"Paris, hubungan itu dijalani dua orang. Aku bisa mendengarkan mu, tapi kamu juga harus mendengarkan aku. Jangan egois. Aku pulang hari ini."
Paris melepas kepulangan Sidney. Dia mengantar sampai pesawat itu berangkat. "Sayang, aku akan menunggu kabar dari mu. Jangan marah lagi ya, Sayang." Paris mencium pipi kiri kanan dan kening Sidney, lalu puncak kepalanya dan ditutup dengan menyapukan bibirnya pada bibir gadis itu.
"Jaga dirimu baik-baik, aku pamit."
***
"Lo udah balik? Bukannya Lo seharusnya balik lusa? Mana oleh-oleh buat gue? " Sosor Scot mendatangi Sidney ke kamarnya saat mengetahui dari Raya kalau Sidney sudah pulang.
Tidak sempat membeli oleh-oleh, Sidney hanya membeli beberapa di bandara, dan sudah dia antarkan ke rumah Diraja. Ngobrol sebentar dengan Raya dan Oma yang berbaring lemah di kamarnya, lalu tidak lama, Sidney pamit ke rumahnya.
"Sorry best, gue gak bawa apa-apa. Gak sempat kemana-mana," sahut Sidney coba melepas senyumnya.
Scot mengenal Sidney selama umur Sidney saat ini, jadi tidak mungkin kalau dia sampai tidak mengetahui jika apa yang saat ini terjadi pada gadis itu.
"Apa lo berantam sama abang gue?"
Sidney tidak langsung menjawab, malah beranjak dari meja belajarnya menuju tempat tidur, tengkurap menenggelamkan wajahnya ke bantal. Menahan napas hingga 10 detik, berharap dia saat dia mulai kembali buka mata dan menghirup udara, dia bisa lebih baik, bisa lupa masalahnya.
Scot ikut menyusul, melakukan gerakan yang sama, telungkup di samping Sidney. "Nih..." Scot mendekatkan bahunya pada Sidney, yang dilihat gadis itu dengan pandangan bertanya.
"Lo mau nangis, kan?"
Sidney paham kini. Scot selalu tahu kapan dia harus ada jadi sandaran Sidney.
Sidney melakukannya. Dibenamkan wajahnya di bahu pria itu. Menangis sejadinya. Dia selalu terbuka hal apapun pada Scot, bahkan hal paling sensitif, seperti kapan dia mulai dapat haid pertama, dan betapa sakit saat mendapatkannya.
Hanya masalah hubungannya dengan Paris yang enggan dulu dia ceritakan. Setelah berhenti menangis dan merasa lega, Sidney menceritakan semuanya dengan memegang perjanjian nomor lima, rahasia teman tidak boleh dibuka pada orang lain.
"Gue mau ambil yang di Jakarta, komunikasi sama manajemen kayaknya," ucap Sidney yang dipeluk Scot.
"Oke, gue ikut sama lo."
"Bukannya lo mau ngambil seni?"
"Pilihan kedua. Bisa mampus gue dihajar bokap gue kalau gak ambil manajemen."
***
Sudah dua hari tiba di Indonesia, selama itu pula Sidney enggan mengangkat teleponnya, tapi setelah tenang, akhirnya Sidney mau berbicara lagi dengan Paris.
Semua kembali normal, pacaran LDR-an dengan telepon atau video call seperti yang biasa mereka lakukan dulu. Tapi entah mengapa, kini terasa hambar di hati Sidney.
Setelah apa yang dia hadapi di London, Pikirannya selalu dipenuhi pikiran yang menyakiti jiwanya. 'Apakah Paris setia di sana? Apakah dia selingkuh?' dan masih banyak pertanyaan di kepalanya.
Tapi melihat Paris yang menghadapinya dengan lembut membuat Sidney ceria kembali walau tidak senyaman dulu lagi.
"Lo yakin kan kalau kita bakal lolos?" tanya Scot saat mereka diperjalanan menuju ke rumah dari tempat ujian seleksi masuk PTN.
"Yakin dong," sahut Sidney tersenyum dan menepuk pundak Scot, memberikan semangat pada sahabatnya itu.
"Gue turun di rumah gue, ya," ucapnya setelah mobil berhenti di antara rumah keduanya.
"Lo gak mau ketemu nyokap dulu? Tadi beliau pesan kalau lo diundang mencicipi kue buatannya."
"Iya, gue ganti baju dulu, baru ke sana. Udah ya, gue turun dulu."
Sidney melangkahkan kaki dengan santai ke dalam rumah. Wajahnya berubah ceria saat melihat wajah Sandi yang sudah lama tidak dia temui.
"Papa pulang?" sapanya memeluk leher Sandi.
"Iya, baru saja. Kamu dari mana?" Tanyanya dingin. Sidney melepas pelukannya. Semakin hari ayahnya semakin berubah, tidak lagi menunjukkan kasih sayangnya pada Sidney. Datang dan pergi sesuka hatinya.
Bahkan Sidney lulus dan mendaftar ke kampus mana pun, dia tidak peduli. Pulang hanya dua hari, dan pergi berminggu bahkan pernah berbulan, hanya kalau dia suka saja dia akan pulang dan menanyakan keadaan Sidney. Kalaupun jarang pulang karena kesibukannya, yang menurut Sidney terlalu berlebihan, setidaknya Sandi bisa menghubungi lewat telepon, tapi ini malah tidak pernah kecuali Sidney yang lebih dulu menghubungi.
"Habis ikut ujian seleksi masuk PTN, Pa."
"Oh," ucapnya seolah tidak tertarik akan hal itu. "Sidney, ada yang mau papa bicarakan serius denganmu. Ini penting, dan papa harap kamu bisa mengerti dan menerimanya."
*
*
*
Kesal gak sih punya bapak kayak Sandi? Pengen getok rasanya.🙄🤣