
Raya sangat gembira, siang tadi Dika mengabarinya, ada perusahaan besar yang sudah mendatangi ke kantor, menawarkan kerjasama memperbaiki keperluan kantor mereka sebanyak lima cabang.
"Kau gak tahu bagaimana gembiranya aku, Ray. Ini sebuah berkah. Aku yakin ini karena doamu juga. Aku sama sekali tidak mengenal perusahaan itu, yah... aku pernah dengar nama Diraja Corp, aku tahu itu perusahaan besar, tapi tidak menyangka kalau mereka melirik perusahaan kecil seperti milikku," cerita Dika penuh semangat.
Raya terharu. Dia ikut gembira karena Bu Titin akhirnya bisa berobat, dan semoga saja penyakitnya diangkat.
Tunggu dulu, bukankah tadi kata Dika perusahaan Diraja? Jadi ini semua berkat bantuan Dipa?
Raya merasa berhutang budi pada pria itu dan nanti dia akan mengucapkan terima kasih.
"Syukurlah kalau mas sudah punya jalan keluar untuk menyelesaikan masalah pengobatan ibu."
***
Raya datang ke rumah Nani dengan wajah berseri-seri. Dia sengaja membawakan kue yang dia buat dari olahan ubi talas ungu. Dia akan memberikan pada Dipa sebagai ucapan terima kasihnya.
"Wah, kelihatannya enak sekali. Oma boleh coba?" tanya Nani menelan air liurnya.
"Silakan, Oma. Aku memang membuatnya untuk dimakan, kan?" Seperti biasa, Raya tersenyum gembira. Ada rasa bangga di hatinya jika Oma menyukai masakannya.
"Kali ini dalam rangka apa?"
"Mmm... sejujurnya Oma, aku ingin mengucapkan terima kasih pada Dipa," ucap Raya memotong kue dan menghidangkan pada Nani.
"Memangnya hal apa yang sudah dia lakukan?" tanya Nani menengadah.
"Perusahaan Diraja sudah membantu temanku, Oma. Memakai jasanya untuk penyediaan furniture di kantor."
"Diraja? itu bukan perusahaan Dipa, tapi Elrick. Kalau Dipa nama perusahaan La Lumiere," ucap Nani memasukkan potongan kue ke dalam mulutnya.
Raya terperangah. Jadi yang bantu Dika adalah Elrick? tapi dari mana dia tahu mengenai masalah Dika?
Ingatan Raya kembali berputar, kemarin saat dia berbicara dengan Dipa, Elrick berarti mendengarkan pembicaraan mereka.
Hati Raya bergetar, sekaligus menghangat. Tidak percaya, dibalik sikap dingin dan cuek bahkan seperti mafia berdarah dingin, ternyata dia pria yang begitu baik. Penilaian Raya terhadap pria itu berubah. Dia adalah dewa penolong bagi Bu Titin.
Orang yang bermain dalam pikirannya muncul. Dan entah mengapa melihat wajah tampan itu hatinya berdebar-debar. Kerongkongannya tercekat, dan terasa susah untuk bernapas.
"El, sini. Coba cicipi kue buatan Raya. Enak sekali."
Buru-buru Raya mengambil sepotong, meletakkan dalam tapak kaca, lalu menyerahkan ke hadapan Elrick dengan diiringi senyum manisnya.
"Lo ulang tahun?"
Raya menggeleng cepat, masih tersenyum manis. Kini melihat reaksi Raya justru membuat Elrick yang menjadi berdebar.
"Ini aman? gak lo kasih sianida, kan?"
Senyum Raya buyar. Bibirnya mengerucut, dan tahu tidak, hal itu membuat Elrick ingin sekali menarik gadis itu dan mengecup bibir merah itu sekedar untuk menghilangkan cemberut diwajahnya.
Elrick melahap kue itu tanpa berniat memberikan komentar, tidak peduli Raya sedang menunggu tanggapannya.
***
'Gue tunggu lo di restoran Kenanga.'
Pesan itu diterima Raya ketika dia baru selesai mandi sore. Senyumnya mengembang. Sejak mengetahui bantuan Elrick untuk Dika, Raya terus memikirkan pria itu. Elrick itu terus bertamu dalam pikirannya, dan membuat Raya pagi ini bangun dengan senyum malu-malu bahkan berdebar, Elrick datang ke mimpinya. Dia bermimpi dia dan pria itu duduk di salah satu bangku di taman bunga, keduanya hanya diam, tapi Elrick menggenggam tangannya.
Mengingat hal itu, ada perasaan sedih. Terlebih statusnya yang sudah janda membuatnya sangat tidak percaya diri untuk membuka hati pada pria.
"Mbak mau kemana?" tanya Nana yang sudah melihat Raya terlihat rapi.
"Na, aku izin keluar sebentar. Mau ketemu sama teman," ucapnya pamit.
***
Meyra baru tiba di tempat dia dan teman-temannya janji untuk bertemu. Mobil Elrick baru saja pergi setelah menurunkan dirinya di tempat itu.
"Gimana? beres?" tanya Gisel antusias. Dia sudah tidak sabar menunggu laporan dari Meyra.
"Aman. Gue udah minta dia datang. Sumpah, gue benar-benar harus kasih pelajaran buat gadis sialan itu. Lo tahu, Elrick bahkan udah bilang sama gue, untuk segera mencari penggantinya. Karena dia tidak ingin melanjutkan kontrak kebersamaan kami!" ucap Meyra keceplosan.
"Hah? jadi selama ini lo bukan jadi kekasih Elrick karena dia mencintai lo? Gue udah tebak sih, mana mungkin sekelas Elrick mau terikat," sambar Luna dengan congkak.
"Diam, Lo. Gak bisa lo pungkiri kalau gue adalah gadis yang paling lama bareng dia. Dan kalau seandainya kemarin gue hamil, dia juga bakal nikahin gue!" Sambar Meyra bela diri. Wajahnya sudah sangat memerah. Malu hingga ke ubun-ubun.
"Udah deh, gak usah debat. Gue juga kesal sama itu cewek. Gue yakin, si kampungan itu pasti yang buat Elrick memutuskan buat mencampakkan lo, Mey!" Lanjut Bunga.
"Memang janda gak tahu diri si Raya. Aku akan bantu kalian buat kasih pelajaran buat dia."
Kali ini Lani ikut menambahi. Dia tentu saja dengan senang hati memberikan pelajaran untuk Raya. Dia tidak akan sudi jika melihat Raya bisa menggaet pria seperti Elrick.
Pernikahannya dengan Dika sudah kandas, dan dia juga sudah terjerumus ke dalam lingkaran pergaulan mereka, ke dunia hitam. Dia sudah menjelma menjadi ibunya, dalam balutan busana yang lebih mewah. Nuraninya sakit, mengingat dirinya kini berpredikat sebagai wanita bayaran. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dia tidak bisa mundur lagi, dan dia juga memang tidak ingin menyesalinya.
"Bagus. Di depan kita lo bantai dia, biar dia sadar siapa dirinya dan dimana tempat yang pantas untuk nya!" imbuh Meyra geram.
Dia terpaksa membujuk Elrick, mengatakan ingin bertemu demi membahas hal penting, setelah pertengkaran mereka kemarin. Meyra tentu saja tidak terima akan permintaan Elrick yang ingin menyudahi hubungan mereka.
Setelah konsultasi dengan para sahabatnya, Meyra mengirimkan pesan pada Raya melalui ponsel Elrick, seolah pria itu lah yang memintanya untuk bertemu.
"Itu dia datang," ucap Bunga menyudahi perdebatan diantara para sahabatnya. Semua mata tertuju pada langkah Raya yang mencari sosok Elrick.
Sesuai arahan, Meyra bangkit, menjemput Raya. Keterkejutan Raya akan sentakan tangan Meyra menjadi hiburan tersendiri bagi pada tim rubah betina.
"Mbak, kenapa saya diseret ke sini?" tanya Raya mengamati satu persatu orang-orang yang berada di sekelilingnya.
"Lani?" pekikkannya kaget.
"Kenapa? Kau kaget? Iya benar, ini aku! Dasar murahan kau ya! Setelah jadi janda, sekarang kau mau menggoda tunangan temanku? sadar diri, lihat siapa kau dan siapa Meyra!" Lani mulai menjalankan misinya. Dia akan mengerahkan semua kemampuan liciknya untuk menyakiti hati Raya.
Jika dia tidak mendapatkan kebahagiaan, maka Raya yang sama-sama gadis desa sepertinya, juga tidak berhak mendapatkan pria sesempurna Elrick!
"Apa maksudmu? Aku gak merebut kekasih Mbak Meyra."
"Alah, dasar wanita murahan, lo memang tidak tahu malu. Kenapa? punya lo udah gatal pengen di pompa? Sana jual diri aja lo!" maki Gisel ikut nimbrung.
"Sadar, lo gak semenarik itu, hingga merasa bangga kalau Elrick baik sama lo! Jangan mimpi lo," sambar Luna.
"Maaf, tapi aku gak merasa mengambil kekasih siapa pun. Bagi aku mas Elrick pria baik, dan aku menghormatinya."
"Alah, bacot lo!" ucap Meyra melayangkan tangannya untuk menampar pipi Raya. Namun sigap, Raya memegang pergelangan tangan wanita itu di udara.
"Jangan pernah berani menyentuh pipiku dengan tangan Mbak. Aku diam, bukan berarti bisa kalian tindas sesuka hati kalian! Aku diam, tidak melaporkan penculikan yang kalian lakukan tempo hari itu, karena memandang mas Elrick. Jadi, aku ingatkan, jangan coba-coba menyerang atau pun mengusik hidupku!" ucap Raya tegas sebelum melangkah pergi.