
"Seperti sudah jelas, Raya tidak akan pergi kemanapun." Suara tegas Darma sempat membuat Elrick gentar walau sesaat. Pria itu tampaknya tidak bisa dibeli dengan uang, jadi niat untuk meninggalkan sejumlah uang untuknya agar diperbolehkan membawa Raya tampaknya tidak akan berguna.
"Tapi Oma sudah sangat menyayangi Raya, menganggapnya sebagai cucunya sendiri. Bahkan kepergian Raya hingga berminggu-minggu ini buat Oma jatuh sakit," ucap Elrick melebih-lebihkan.
"Maaf. Bukan saya tidak percaya atas kebaikan Omamu, tapi jujur saya tidak percaya padamu. Sekarang saya tanya, kau sendiri, menganggap Raya sebagai apa?"
Elrick terdiam. Pertanyaan yang tidak dia prediksi sebelumnya. Diamatinya Raya yang sudah duduk kembali di hadapannya, sesaat wajah gadis itu terangkat, ikut terkejut dengan pertanyaan ayahnya, namun kembali menunduk.
"Kau tahu keadaan Raya saat ini, bukan?"
Kini Elrick bertambah bingung. Keadaan Raya yang bagaimana maksud Darma? tapi demi menyelamatkan dirinya didepan pria itu, dia hanya mengangguk.
"Bagus. Jadi kau tahu, kalau seorang wanita, apa lagi yang kini berstatus janda bersama pria yang sama sekali tidak punya hubungan adalah hal yang tidak dibenarkan. Anak saya sudah cukup mendapatkan cibiran. Jadi, sebaiknya kau sampaikan pada Oma mu, kalau Raya tidak akan kembali ke Jakarta!" Tegas Darma.
"Maaf, tapi saya pikir, Bapak tidak bisa melarang keinginan Raya. Dia sangat ingin kembali ke Jakarta," ucap Elrick penuh percaya diri. Dia sudah membulatkan tekad untuk membawa Raya kembali. Karena Oma dan...
"Kenapa jadi kau yang mengatur. Sekarang saya mau tanya, sampean siapa Raya? suami?"
Elrick menggeleng.
"Kekasih?"
Kembali Elrick menggeleng lemah. Ada perasaan hampa saat mengharuskan dirinya menggelengkan kepala.
"Lantas, atas dasar apa kau memutuskan apa yang terbaik untuk Raya? Tampang-tampang playboy mu itu saja sudah buat saya tidak percaya menyerahkan Raya walau hanya untuk menemaninya di perjalanan hingga ke Jakarta. Tampang mu itu seperti buaya yang siap memangsa anak saya. Jadi segera pergi dari sini!"
Skak-mat.
Elrick mati kutu. Dalam hati bertanya-tanya apa Darma sudah tahu dia banditnya? tapi setiap penjahat bolehkan mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya? Eh, tapi memangnya dia mau?
"Ayah...," ucap Raya menengahi. Dia tahu kalau Elrick sudah sangat marah atas ucapan ayahnya. Dia kenal Elrick, pria yang tidak ingin direndahkan. Tapi Raya juga kenal tabiat ayahnya yang keras dan tidak bisa diintervensi kalau sudah mengambil keputusan.
"Apa? kamu juga mau bela penjahat kelamin ini?" ucap Darma menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Perlahan Raya menggeleng. "Bagus, pria seperti ini tidak pantas dibela. Pria yang arogan, hanya keinginannya sendiri yang penting, tidak bisa menghargai perasaan orang lain, dan selalu memandang rendah status orang dibawahnya!"
Mata Elrick semakin melotot, dan Raya sempat melihat hal itu. Pria itu ingin sekali memaki Darma, tapi diurungkannya. Selain karena perkataan pria tua itu memang tepat, dia juga tidak ingin memperkeruh keadaan. Nanti makin susah bawa Raya kembali.
"Sudah, hari sudah makin gelap. Kau pulang saja. Jangan ganggu kami lagi. Raya, siapkan makan malam, ayah lapar."
Darma sudah masuk ke dalam, tanpa mengatakan apapun lagi pada Elrick. "Maaf ya, Mas," ucap Raya merasa tidak enak hati. Tapi sebenarnya Raya tidak menyalahkan juga ayahnya. Apa yang dikatakan ayahnya benar semua. Raya saja sampai saat ini masih kesal pada pria itu mengingat perkataanya pada pertemuan terakhir mereka.
"Ayah lo udah kayak singa, tau gak. Gak ngasih celah buat orang, main hantam aja," ucap Elrick menatap tajam pada Raya.
"Mas Elrick juga gitu, gak jauh beda sama ayah. Kalau ayahku Singa, Mas Elrick itu Polar bear, beruang kutub yang warna putih itu. Menakutkan, dingin tapi menggemaskan," ucap Raya tanpa sadar menjelekkan sekaligus memuji Elrick.
"Apa lo bilang? gue beruang kutub?"
"Lo itu ya..." Raya belum sempat membuka mulut kembali, teriakan dari dalam menggema.
"Raya... kenapa lama sekali. Cepat kemari! Ayah lapar."
Raya bangkit, dan segera melangkah masuk. "Mas, sudah pulang sana, sampaikan salam ku pada Oma ya. Oh iya, makasih udah mau pakai kemejanya. Cakepnya makin maksimal," ucapnya malu-malu dan segera berlalu pergi.
Untuk mengatakan hal itu saja, Raya perlu mengumpulkan keberaniannya. Saat membuka pintu untuk Elrick, Raya sudah menyadari hal itu. Dia bahkan tersenyum, walau sekilas, takut Elrick melihat senyumannya.
Ada rasa bangga di hatinya pria itu ternyata mau memakai pemberiannya.
Ayah dan anak itu sudah mulai bersiap makan, nasi berbagai lauk sudah terhidang di atas meja makan. Karena desa mereka menyuplai ikan-ikan segar, maka Raya selalu memasak banyak jenis ikan dengan cara masak yang berbeda. Raya memang suka sekali memasak. Makanya ketika menikah dulu, Dika selalu memuji masakannya.
"Raya, tamu itu sudah pulang?" tanya Darma setelah menerima piring berisi nasi yang diberikan Raya.
"Udah kayaknya, Ayah."
"Lihat kan, dasar pria tidak punya sopan santun. Kamu jangan pernah mau sama pria yang tidak punya akhlak seperti itu, ya!"
Raya hanya mengangguk lemah. "Ayah gak usah khawatir, aku juga bukan tipe, Mas Elrick," batinnya.
Suara piring beradu, keduanya mulai makan setelah membaca doa. "Kok, perasaan ayah tidak enak, ya? coba lihat ke depan, siapa tahu pintu depan belum ditutup," kata Darma.
"Aaach..." pekik Raya saat diambang pintu ruang tengah dan ruang depan.
Darma bergegas menyusul, lalu melihat apa yang Raya lihat. Elrick masih ada di sana. Duduk manis di tempatnya semula. Mendengarkan semua percakapan ayah dan anak dari ruang makan yang memang satu dinding dengan ruang depan. "Kau masih di sini? kenapa belum pulang?" hardik Darma maju. Membersihkan minyak ikan di sudut bibirnya.
"Saya harus bawa Raya kembali, Pak." Elrick masih bertahan dengan pendiriannya. Kasihan Oma saya pak, takut kenapa-kenapa. Dia ingin sekali bertemu dengan Raya." Perkataan Elrick dengan wajah sendunya membuat sedikit hari Darma bergetar, muncul seujung kuku rasa percayanya pada pria itu.
"Kau sudah makan?" ucap Darma lari dari topik. Elrick adalah tamu, tapi mereka makan hanya berdua tanpa mengajak Elrick rasanya tidak sopan sebagai tuan rumah. Darma tidak ingin menambah dosanya. Prinsip dalam hidupnya, saat dia makan, orang yang ada di dekatnya juga harus mendapatkan makanan. Harus berbagi agar rejeki semakin lancar, dan senantiasa dapat berkah dari Allah.
"Ya, sudah. Sini makan dulu," tawar Darma.
"Tapi Raya boleh ikut pulang ke Jakarta kan, Pak?"
"Nanti kita bahas lagi. Sekarang saya tanya, kamu mau ikut makan atau tidak?"
"Mau, Pak," ucap Elrick mengikuti langkah Darma dan Raya ke ruang makan.
*
*
*
Bapak Raya galak. Elrick ketemu tandingannya😁😁