Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 94


Malamnya, tubuh Elrick tidak bisa diajak kompromi lagi. Berjam-jam dia menemani beberapa kerabat yang datang dari jauh untuk menyalami mereka karena tidak bisa datang kemarin. Perutnya mual, dan badannya rasanya begitu lemas.


"Sudah malam, beristirahat lah. Besok kita akan ziarah ke makam ibunya Raya lagi," ucap Darma. Sebelum menikah kemarin, Elrick sudah diajak Darma ke makam istrinya. Elrick ikut terharu, kala melihat Raya menangis terisak di makan ibunya.


"Ibu, aku rindu..." isaknya. Elrick bergegas mendekat dan merangkul gadis itu.


"Sudah, Ray..."


"Ibu, ini Mas Elrick. Dia akan menikahi besok," lanjutnya sambil terisak.


Sesaat pikiran Elrick melayang ke satu tempat. Raya jauh lebih beruntung darinya. Walau ibunya sudah tiada, tapi gadis itu pasti sangat puas merasakan kasih sayang dari ibunya hingga akhir hayat wanita itu. Sementara dia, ibunya masih hidup, tapi sejak kecil hingga saat ini, dia tidak pernah merasakan kasih sayang bahkan hingga kini setelah menemukan ibunya.


Sebisa mungkin Elrick membuka pintu kamar tanpa suara. Sudah jam sebelas malam, Raya pasti sudah tertidur, jadi dia tidak ingin membangunkan istrinya itu.


Tapi justru dia yang terkejut, kala membuka pintu, Raya yang duduk di tepi tempat tidur menatap ke arahnya.


"Kenapa belum tidur?"


"Penghuni kamar belum masuk, gimana mau dikunci kamarnya," jawab Raya ketus, hanya untuk untuk menutupi rasa khawatirnya. Setelah makan malam tadi, Raya yang sedang mengambil air hangat mendengar Elrick yang muntah di kamar mandi.


"Maaf, kau bisa tidur kembali tidur," ucapnya membaringkan tubuhnya di sofa. Dia sudah tidak kuat lagi. Tubuhnya bahkan sudah menggigil. Agar tidak dilihat Raya, keadaannya yang menyedihkan itu, Elrick balik badan, memunggungi Raya. Matanya juga sudah sepat ingin tidur.


Raya yang dicueki justru menjadi merasa bersalah. Dia memang tidak peduli akan apa yang dimakan Elrick. Bahkan saat dia muntah, Raya gengsi memberikan minyak kayu putih padanya.


Samar sebelum jatuh tidur, Elrick mendengar suara pintu kamar yang dibuka, tapi dia tidak ingin melihat ke arah sana. Dia menyerah. Mungkin kalau segera tidur, besok dia bangun bisa lebih segar lagi.


Raya kembali dengan satu gelas berisi air hangat ditangan kanan dan piring kecil berisi minyak goreng bercampur bawah merah yang sudah di geprek, dibawa di tangan kiri.


"Mas... Mas... bangun, minum dulu air hangatnya," ujar Raya menggoyangkan tubuh Elrick yang sudah hampir terlelap dalam mimpi.


Telapak tangan Raya menerima rasa panas dari tubuh pria itu yang semakin buat Raya khawatir. Pasti karena pria itu tidak nyaman tidur di sofa, hingga buatnya tidak lelap dan juga jatuh sakit.


"Mas... bangun...."


"Apa sih, Ray?" sahutnya lemas.


"Ini air hangatnya diminum dulu." Tanpa menunggu bola mata pria itu terbuka penuh, begitu duduk, Raya menempelkan gelas ke bibirnya. Elrick mengikuti perintah Raya meminum segelas air hangat lalu mencoba kembali merebahkan tubuhnya.


"Pindah ke kasur, Mas..."


Bola mata Elrick terbuka setengah. Dia takut kalau yang sedang bicara itu bukan istrinya. Bukannya Raya yang meminta mereka pisah tidur, lalu kenapa sekarang gadis itu memintanya untuk naik ke ranjang?


"Aku di sini ajak Ray. Kita gak usah tukar tempat. Aku tidur dulu ya, Sayang..."


"Pindah ke sana, Mas..." ucap Raya lembut, menahan tubuh Elrick yang akan tidur di sofa.


"Seriusan? terus kau tidur dimana? aku gak mau kalau kau tidur di sofa."


"Udah, ayo. Pindah sana."


"Ray?"


"Buka, buruan..."


"Kau serius, Sayang? besok aja ya, bukan aku gak mau. Kepalaku pening banget ini, takutnya nanti gak maksimal, kamu nya gak puas...," ucapnya dengan bola mata terbuka lebar.


"Kamu mikir apa sih, Mas? Buka aja kaosnya, buruan," ucap Raya dengan wajah merona di pipinya. Elrick selalu berhasil membuatnya tersipu malu.


Elrick membuka bajunya, lalu buru-buru menanggalkan celana panjangnya. "Udah, cukup!" pekik Raya dengan debaran jantung yang tidak karuan.


"Hah? gimana mau main kalau ini gak dibuka?"


"Mas Elrick, pikirannya mesum, ih!" Raya mengambil tapak yang sudah berisi minyak dan bawang, menunjukkan ke arah Elrick. "Mau urut. Telungkup, gih!"


"Hahahaha..." Suara tawa pria itu menggema. Dia sudah salah kira. Dia pikir istrinya ingin minta jatah. Tapi tidak jadi masalah, Raya yang sangat perhatian padanya saja seperti ini, Elrick sudah sangat senang.


Dengan lembut, telaten, Raya mengurut tubuh Elrick, walau pria itu terganggu dengan aroma bawang yang dioleh ke punggungnya. Elrick mengakui, pijitan tangan Raya begitu menenangkan dan membuatnya rileks. Matanya terpejam, dan beberapa kali bersendawa mengeluarkan angin. Kepalanya juga terasa ringan saat tangan terampil gadis itu memijitnya.


Sayup-sayup, Raya mendengar suara dengkuran dari Elrick. Pria itu tertidur pulas. Raya menyelimuti dengan selimut, lalu beranjak ke betis pria itu dan berakhir di tapak kakinya.


"Mas, balik badan, yuk. Oles minyak dulu ke perut."


Tapi Elrick benar-benar sudah terbuai mimpi. Sekuat tenaga Raya membalikan tubuh besar dan kekar itu, setelahnya mengoles minyak ke seluruh bagian perut dan dada. Debar jantung Raya kini semakin tidak karuan, bahkan dia pikir mengalahkan gendang yang ditabuh pada acara dangdutan.


Tangannya bergetar, menyusuri lekuk tubuh pria itu yang pada bagian pusar hingga ke bawah memanjang bulu-bulu halus. Dia segera mengalihkan pandangannya kala hatinya terdorong untuk melihat ke balik isi celana dal*am suaminya.


"Astagfirullahaladzim," batinnya malu.


"Mas, pakai dulu kaosnya ini," bisiknya memakaikan baju Elrick. Begitu susah hingga Raya sampai berkeringat, tapi akhirnya berhasil.


Raya beranjak, mengambil kaos kaki pria itu, dan memakainya pada Elrick, agar tapak kakinya hangat dan tidak masuk angin.


Kini dia gamang. Berdiri menatap suaminya yang sudah tidur dengan pulasnya. Diliriknya sofa. Kalau dia tidur di sana, Elrick akan marah besok paginya. Pria itu menyetujui tidur pisah ranjang, dengan catatan dirinya yang tidur di ranjang, dan tidak boleh di sofa, apapun alasannya.


Munafik kah dia, kalau sebenarnya dia juga sangat merindukan belaian pria yang kini sudah menjadi suaminya yang sah? Sejujurnya untuk melakukan hubungan suami-istri, Raya belum siap, tapi untuk menyentuh dan membelai pria itu seperti dulu yang pernah diajarkan Elrick padanya secara tidak langsung, Raya tidak keberatan, justru sangat rindu.


Tidak ingin menimbang ragu lebih lama, Raya merebahkan tubuhnya di samping Elrick. Menghirup aroma pria itu yang masih lebih terasa ketimbang wangi minyak dan bawang. Melihat dari dekat bayi besarnya itu tidur dengan pulas, hati Raya terasa tenang. Tanpa sadar gadis itu berbisik parau, "Aku merindukanmu, tapi aku juga masih kesal padamu!"


*


*


*


Mau dong gift nya 🤭🤭