Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 65


Elrick bangkit dari duduknya, berjalan ke arah balkon, guna melihat ke halaman depan. Dia mengenali mobil Dipa. Cukup sudah waktu dua hari untuk menenangkan diri dan hati diantara mereka. Elrick tidak ingin berlarut-larut dengan tuduhan Dipa padanya, hingga memutuskan lebih baik menghadapi Dipa.


Sepulang kerja tadi, dia langsung meluncur ke rumah Oma karena dia yakin pria itu akan datang ke rumah Oma mereka.


Dari tempatnya berdiri, Elrick bisa melihat dengan jelas Raya dan Dipa keluar dari mobilnya. Hati Elrick memanas. Raya bukan miliknya, dia sadar akan hal itu, tapi dia tidak suka bahkan benci jika pria mana pun berada di sekeliling gadis itu.


Setiap berurusan dengan Raya, entah mengapa dirinya seolah hilang kendali, hilang akal pikiran. Emosinya cepat tersulut dan paling kesal adalah tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang berdetak kencang.


Dia ingin sekali turun, menyeret tangan Raya ke kamarnya untuk diintrogasi, bahkan bila perlu memperingatkan gadis itu untuk tidak berdekatan dengan pria mana pun, kecuali... dirinya.


Tapi siapa Elrick? dia cuma pria yang hatinya sudah tersangkut pada senyum gadis itu, pada tatap teduh bola mata indah Raya, pada hati gadis itu, jauh sebelum dia tahu dia lah yang sudah merenggut kegadisannya.


15 menit mondar-mandir di dalam kamarnya. Mulai menghitung agar dia keluar dari sana pada saat yang tepat. Dia tidak mau siapa pun yang ada di bawah tahu, kalau dia cemburu.


Cemburu? Benarkah seorang Elrick Diraja cemburu?


"Aku pasti sudah gila!" umpatnya merasa tidak sabar ingin turun. Dia ingin tahu kemana kedua anak manusia itu pergi, ada pada diantara mereka. Awas saja kalau mereka sudah jadian!


"Kau sudah bangun, Nak?" sapa Oma menyantap rujak yang tadi dibawa oleh Raya dan Dipa. Setibanya di rumah, Elrick mengatakan ingin beristirahat, jadi memilih untuk naik ke atas.


"Mmmm...." sahutnya tanpa kata.


Memilih duduk di samping Omanya dan tepat di hadapan Raya. Tatapan matanya terang saja membuat Raya gelisah. Tatapan seorang mafia yang ingin menghabisi kekasihnya yang ketahuan selingkuh.


Elrick melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan, tidak menemukan Dipa, namun di di arah kanan ruangan itu, berbatasan dengan dinding pintu samping, suara Dipa terdengar sedang berbicara dengan seseorang.


Raya meremas jemarinya, gugup karena tatapan Elrick kembali lagi padanya. "Apa lagi salah ku kali ini? kenapa mata polar bear ini ngelihatin aku terus?" batinnya menusuk-nusuk buku tangannya.


"Ayo, El. Cicipi rujaknya, enak Lo," ucap Oma, yang tetap tidak mampu mematahkan tatapan mata Elrick pada Raya.


"Jangan makan terlalu banyak, Oma. Nanti Oma keguguran lagi," sahutnya asal yang membuat bola mata Raya membulat, sementara Nani sudah tertawa terpingkal-pingkal sembari memukul punggung Elrick pelan.


"Ikut aku," ucap Elrick melalui gerakan bibirnya yang tidak tertangkap lensa Oma.


Tubuh Raya menegang, dia pikir mungkin salah mengartikan gerak bibir Elrick, namun melihat pria itu berdiri dan melangkah pergi, Raya semakin gelisah. Dibiarkannya waktu berjalan lima menit, tapi pria itu tidak kunjung kembali, jadi dia memutuskan untuk ikut pamit ke belakang.


Raya berdiam di persimpangan. Kemana dia harus mencari Elrick. Di dapur, pria itu tidak ada, tapi melihat pintu ke arah kolam berenang terbuka, ada dorongan untuk melihat ke sana.


Benar saja, pria itu berdiri dengan melipat tangan di dada, bertumpu dengan satu kaki sementara tubuhnya di sandarkan ke tembok.


"Eheem..." Hanya itu yang bisa Raya lakukan untuk memberikan kode akan kehadirannya.


"Ke sini!" Ucap Elrick dengan suara baritonnya. Raya mendekat, lebih baik menyerahkan diri dari polar bearnya, eh, salah bukan miliknya, belum...


Raya berdiri tepat di depan tubuh pria yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya. Raya sadar diri terkesan bodoh, mau saja datang saat Elrick memintanya datang, seolah sudah memasrahkan hidupnya di tangan pria itu.


"Mmm... ada apa Mas?"


"Menurut lo?"


"Hah?"


"Karena... aku juga gak tahu. Harusnya aku gak usah datang aja ya? Oke, baik, aku pergi..." Raya melangkah, namun tubuhnya sudah di kurung oleh satu tangan Elrick yang menyatu di dinding.


"Aku salah apa kali ini?" tanya Raya frustrasi. Jantungnya kumat lagi. Setiap di dekat Elrick pasti seperti itu, gugup dan juga jantungnya berdebar-debar.


"Dari mana lo dengan Dia?"


"Hah?"


"Hah?" Ejek Elrick mengulang reaksi dan perkataan Raya.


"Siapa? Dipa? Oh, kami baru dari taman kota," sahut Raya gugup. Apa yang salah dengan pergi bersama Elrick?


"Dari taman? Enak dong jalan-jalan. Cuma dari taman? Ngapain di taman?" susul Elrick tidak memberi ruang pada Raya untuk mencari jawaban jika ingin mengarangnya.


"Iya ngobrol aja kok. Dipa bilang mau ngobrol, soal... soal masalah kecelakaan itu."


"Terus?" Elrick mulai tertarik. Dia juga ingin tahu saat ini apa isi pikiran Dipa tentangnya setelah sepupunya itu tahu kalau ibunya lah dalang dari semuanya.


"Aku bilang sama dia, kalau mas Elrick juga gak bisa disalahkan, karena mas Elrick juga gak tahu menahu. Lagi pula, kepergian kedua orang tuanya juga membuat mas Elrick bersedia, kan?"


Ada rasa bangga di hari Elrick. Raya sudah berusaha membersihkan namanya di depan Dipa. Mengetahui Raya berada dipihaknya membuat pria itu menjaga gembira dan ada rasa bangga di hatinya.


"Terus?" susulnya semakin mendekat, suara Elrick nyaris seperti bisikan.


"Terus apa? semuanya sudah aku katakan."


"Yakin...?"


Raya berpikir sejenak, menimbang dalam hati, apa mungkin pria itu tahu kalau Dipa mengungkapkan rasa sukanya pada dirinya bahkan meminta untuk menikah dengannya? Apa iya, hal seperti itu harus juga dia katakan pada Elrick?


"Mmm... Dipa cuma sampaikan kalau dia suka padaku, dan... memintaku untuk menikah dengannya." Raya menunduk. Dia malu harus mengatakan hal itu. Tapi tunggu dulu, sebenarnya untuk apa dia harus menjelaskan apa yang dia dan Dipa lakukan tadi. Siapa Elrick baginya? mereka bukan sepasang kekasih, kan?


"Apa?" suara Elrick meninggi. Melihat Raya terkejut, Elrick menahan diri. Melembutkan kembali nada suaranya saat bicara. Dia tidak ingin Raya ketakutan padanya. "Lo terima ajakannya?"


Lama Raya diam. Mengangkat wajahnya menatap mata pria itu. Mengikuti pusaran arus di matanya Elrick yang siap menenggelamkannya.


"Gak..."


Ada senyum terselubung di bibir Elrick. Senyum kemenangan yang tidak mungkin dia wujudkan dalam bentuk selebrasi.


Mungkin dia egois, mencoba menguasai Raya tanpa berani mengatakan yang sebenarnya. "Tunggulah sebentar lagi, Ray. Gue akan mengatakan kebenarannya, yang mungkin sudah lama lo cari atau bisa saja justru tidak ingin lo dengar, yang pasti, gue akan selalu melindungi lo."


*


*


*


Duh, melted gue sama sikap polar bear...