Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 28


"Menurut lo, kenapa semua orang ngeliatin gue? atau cuma perasaan gue aja?" Sidney melirik ke kiri-kanan setiap melewati siswa ketika menuju kelasnya bersama Scot.


"Mungkin rok lo sobek kali? Atau lo tembus?" Tanya Scot mundur selangkah demi melihat rok Sidney, tapi nyatanya tidak ada yang aneh di sana.


"Gimana?" tanya Sidney yang memang masih datang bulan.


"Aman, kok. Udah, cuekin aja." Scot merangkul pundak Sidney, mempercepat langkah mereka menuju kelas.


"Akhirnya lo datang juga ya. Sekarang cerita sama gue, sejak kapan lo pacaran sama Paris?"


Sidney tercekat, susah payah menelan salivanya. "Dih, malah diam. Kenapa lo? Lagi mikir alasan buat ngelak?" rongrong Agnes menunggu jawaban Sidney.


Pagi ini dia tiba di sekolah dengan suka cita. Namun seketika, keceriaan itu hilang kala melihat kerumunan orang yang sedang sibuk melihat papan pengumuman di pintu masuk belakang. Amarahnya memuncak, menunggu kedatangan yang bersangkutan untuk klarifikasi, dan kini saat melihat Sidney, wajar dia berang, seolah ingin melahap Sidney hidup-hidup.


"Sidney....!" Pekiknya semakin kesal karena melihat terdakwa malah diam bergeming.


"Kalian kenapa sih? Kenapa menyerang sobat gue?" Hardik Scot merapatkan tubuhnya di samping Sidney. "Kalau dia pacaran sama Paris emangnya kenapa?"


"Jadi ini semua benar?" Agnes semakin histeris, melihat kembali kertas yang tadi ditempel di papan pengumuman.


Scot mengambil, lalu melihat dengan seksama. Satu senyum melengkung di bibirnya.


"Lo terkenal, Sid." Scot tersenyum seraya memperlihatkan selebaran yang tadi ditunjukkan Agnes.


Gambar Sidney yang menangis di pundak Paris saat di parkiran kemarin. Momen itu ternyata ada yang mengabdikan hingga membuat brosur dan menempel di sana.


"Nes..." Sidney menemukan lidahnya. Ditatapnya wajah teman sekelasnya yang dulu menjadi musuhnya itu. Beberapa waktu lalu mereka jadi dekat karena Sidney menghiburnya setelah mendapat penolakan dari Paris saat menyampaikan perasaannya.


"Apa? Gue pikir lo ada di pihak gue. Jadi tim yang hanya bisa memuja Paris tanpa bisa menjadi kekasihnya. Tapi ternyata, lo pacaran sama dia? Lo nipu gue, Sid?" Agnes masih menatap marah padanya.


Dia pikir, kalau dia kalah dengan senior untuk mendapatkan Paris, masih dimaklumi, tapi kalau teman sekelasnya yang jadian sama Paris, tentu dia tidak akan terima merasa statusnya lebih rendah dari Sidney, dan Agnes tidak terima hal itu.


"Sorry, Nes. Gue gak ada maksud buat nipu lo."


"Gue benci teman kayak lo. Asal lo tahu, sejak berita ini beredar, bukan gue aja yang benci sama lo, tapi semua anak cewek di sekolahan ini. Kalau tadi yang jadi saingan itu kak Cici, kita masih terima. Nah, ini elo?"


"Eh, lo pada berisik ya. Jangan salahkan Sidney. Yang nembak dia justru Paris. Kalau mau nyalahin, salahi tu si Paris. Dia yang ngebet pengen jadian sama Sidney!" Scot sudah tidak tahan, ingin memaki para gadis yang berisik hanya karena Paris punya pacar baru.


"Scot, sana dulu. Lo duduk aja, gue mau ngomong sama Agnes."


Scot melihat Sidney, ingin bertanya apa dia yakin kalau Scot membiarkannya diantara penyamun wanita itu. Sidney mengangguk, dan akhirnya Scot berlaku dari sana.


"Mau apa lo?"


"Nes, gue minta maaf. Harusnya gue cerita, ya? tapi karena satu keadaan gue gak sempat cerita. Lagi pula ceritanya panjang, lo pasti bosan dengarnya," ujar Sidney menyentuh lengan Agnes yang dengan cepat ditepis gadis itu.


"Nes, please jangan marah sama gue lagi..."


***


Benar apa kata Agnes, hampir semua anak perempuan menatap kesal padanya. Pantas saja tadi pagi dia menjadi tatapan sinis para siswi yang menjadi pengagum Paris.


Sidney terus melangkah menuju toilet, sepanjang jalan, siswi yang melihatnya pasti bergunjing, berbisik-bisik tentangnya.


"Dia gak cantik, demi apa masih kalau jauh dong sama kak Cici," ucap anak kelas sebelah.


"Benar. Dia pasti minta Scot buat bujuk abangnya biar mau sama dia. Dasar gak tahu malu!"


"Kasihan kak Cici, pasti dia merasa ditusuk dari belakang. Selama ini kan dia udah dianggap adik, tapi ternyata malah merayu pacar kak Cici."


"Paling juga dia melempar dirinya ke Paris dengan gratis, makanya kak Paris mau sama dia. Paling juga sebulan lagi udah ditinggal."


Dan masih banyak cibiran terselubung yang masih dapat dia dengar. Sidney terus berjalan, menunduk hingga sampai ke kamar mandi. Bukan tidak berani melawan, tapi omongan dan fitnahan anak-anak itu sungguh membuat hatinya jadi lemah.


Sidney membuka pintu dari toilet setelah selesai buang air kecil, tapi pintunya sudah terkunci.


Berulang kali Sidney menggedor, tapi tidak bisa terbuka dan tidak ada yang dengar panggilannya. Dia hampir menangis, dia tahu kalau ini perbuatan para penggemar Paris.


Penuh kesal, merasa ini bukan salahnya, Sidney tidak ingin ditindas. Dengan sekuat tenaga, Sidney menendang engsel pintu yang diganjal dengan kayu. Empat kali melakukan percobaan, akhirnya dia berhasil juga.


Saat keluar, rintangan masih ada menunggunya di depan kamar mandi. Sekelompok anak kelas XI datang untuk mencegatnya.


"Merasa hebat lo ya karena bisa keluar dari sana! Lo itu harusnya tahu diri, ngapain lo dekati Kak Paris? gak menghargai senior, Lo?" umpat Cindy, kapten cheerleader.


"Minggir, gue mau keluar!" Sidney mulai pasang kuda-kuda. Dia tahu kalau ini tidak akan mudah dia lalui. Ada enam orang yang saat ini mengeroyoknya.


"Bang*sat! Enak benar lo ngomong nyuruh kita minggir!" Salah satu sudah menarik kuncir rambutnya, hingga lehernya menjulang dengan kepala ditarik ke belakang.


"Lepas...!" serunya penuh emosi. Para siswi barbar itu sudah kehilangan kendali hanya karena tidak terima dia pacaran dengan Paris.


"Diam lo! Kita mau kasih pelajaran adik kelas yang sok oke kayak lo!" Hardik teman Cindy yang lain.


Keenamnya mengeroyok Sidney. Ada yang menarik rambutnya hingga acak-acakan, ada yang merobek bajunya hingga semua kancing terlepas. Keenam siswa itu tampak menikmati perbuatan gila mereka.


Dua kali tamparan di Pipi Sidney membuatnya meraung hingga saat punya kesempatan, dia menendang perut salah satu anak yang berada di depannya, yang ingin menggunting roknya.


"Berani Lo? Kita habisi gadis ja*lang ini!" pekik Cindy mencoba mengambil gunting dari tangan temannya yang terpelanting tadi.


Saat akan mendekati, pintu kamar mandi depan terbuka, dan muncullah tiga orang gadis yang Sidney kenal.


"Lepasin teman gue, Breng*sek!" seru Agnes menerjang gadis yang memegang tangan Sidney, yang terpaksa melepaskan Sidney saat menghindari amukan Agnes.


"Lo gak papa? Bela diri aja lo gak bisa, sok mau jadi pacar preman sekolah. Berdiri, kita habisi para ja*lang sekolahan ini!"