
Pintu ruang BP sudah tertutup. Steve menjadi orang pertama yang diadili, sementara Sidney dan Paris duduk menunggu dengan sebuah meja dan vas bunga yang menjulang tinggi menjadi pemisah diantara mereka.
"Kenapa kau lakukan itu? Kenapa harus berkelahi, sih?" ucap Sidney menatap kesal ke arah Paris. Pria itu selalu tidak bisa mengontrol emosinya.
Sejak kecil selalu mengatur apa dan tidak boleh Sidney lakukan, hingga anak-anak kompleks takut bermain dengannya. Kalau satu Minggu ada tujuh hari, maka Paris akan adu jotos selama 5 kali.
"Kau tahu alasannya. Aku tidak suka melihat pria tidak sopan pada wanita, terlebih wanita itu adalah kau."
Hati Sidney mengembang lagi. Paris adalah pangeran di hatinya. Sejak kecil, ketika pria itu menolongnya turun dari atas pohon saat mengambil buah ceri liar di dekat tanah lapang komplek rumah mereka.
Sidney menatap Paris dengan sorot mata yang sulit dia jelaskan, yang pasti hatinya saat ini berdetak kencang sekali. Dia melambung tinggi mendengar ucapan Paris. "Karena kau sangat berarti bagi mamaku dan juga sudah ku anggap seperti adik perempuan ku sendiri."
Gubrak!
Sidney kembali jatuh ke lantai paling dasar mendengar kalimat terakhir Paris. Dia benci kenyataan itu, tapi apa daya, dia memang seperti putri keluarga Diraja.
Selian meminta para siswa pria berjanji untuk tidak berkelahi lagi, Pak Matondang juga menghukum mereka bertiga dengan menyalin isi buku yang menceritakan sejarah berdirinya sekolah Bhineka ini dan meminta orang tua atau wali Steve dan Paris datang ke sekolah.
"Hei, aku menyesal. Aku minta maaf. Maukah kau memaafkan ku?" ucap Steven yang mengejar Sidney untuk kembali ke kelasnya.
Sidney menghentikan langkahnya, menoleh pada Steve, lalu mengangguk seraya tersenyum.
Sejak saat itu, beredar rumors kalau Steve, ketua basket menyukai Sidney si anak baru. Sewajarnya berita itu turun, Steve sudah terang-terangan memberikan perhatiannya. Memberikan banyak hadiah, mulai dari coklat, bunga bahkan yang lebih ekstrim memberikan duplikat kunci apartemennya.
"Scot... Kenapa lo ninggalin gue? udah gak bestie lagi sama gue?"
Sidney menghentikan mengejar langkah Scot di koridor kelas. "Gue pikir lo udah gak mau temanan sama gue lagi, sejak lo dekat sama si bintang lapangan," sahut Scot berhenti di depan kelas mereka.
Dia memang sengaja tidak mengajak Sidney pergi sekolah bersama karena kesal sahabatnya itu tampaknya sudah melupakan aturan yang mereka buat.
"******, Lo. Sekate-kate lo kalau ngomong ya. Gue gak ada hubungannya dengan Steve. Plis berhenti menekuk wajah lo yang jelek itu!"
"Lo lupa aturan nomor 5?"
Sidney diam sesaat. Banyak aturan yang mereka buat, hingga Sidney tidak mungkin mengingat semuanya. Tapi otak encernya cepat mengingat. 'Jangan menyembunyikan rahasia sekecil apapun dari sahabat mu.'
"Gue ingat. Tapi apa hubungannya dengan lo ninggalin gue?"
"Ya karena lo udah gak jujur sama gue. Lo jadian ya sama Steve?"
"Gak lah. Gue gak ada hubungan apapun sama dia. Dia minta maaf soal kejadian kemarin di kantin, ya gue maafin. Kalau sekarang dia cari perhatian sama gue, Bodo amat," terang Sidney.
"Seriusan lo gak jadian sama dia?" Sidney mengangguk mantap. Dia bukan tipe cewek yang langsung suka hanya karena si pria ganteng atau kapten basket di sekolah.
Mata pelajaran pertama hari ini, matematika. Sidney memang tidak pintar tapi tidak bodoh juga. Dia bisa mengikuti, tapi ketika guru selesai menerangkan, dia akan kesusahan mengikuti rumusnya kembali.
Kalau Scot, dia lebih tidak peduli. Dia lebih tertarik dengan bidang seni. Impiannya adalah membuka sekolah musik, dan mengadakan pagelaran lukisan.
"Cha, gue pinjam catatan lo kemarin dong, pas gue di hukum karena telat," bisik Sidney yang merasa akan segera datang bahaya. Dia yakin sebentar lagi pak Hotman akan memintanya ke depan, mengerjakan soal matematika. Sidney tak tahu, pak Hotman tidak akan membiarkannya kali ini setelah kemarin bolos pelajarannya.
"Siapa yang bisa mengerjakan soal nomor tiga?" Semua anak menunduk pura-pura sibuk dengan buku yang ada di hadapannya.
"Jangan gue, please jangan gue," cicit Sidney komat kamit. Scot yang duduk di sebelah nya hanya tertawa tanpa suara, menahan suara agar tidak keluar dari mulutnya.
"Tidak ada yang mau tunjuk tangan? Oke kalau begitu, Sidney, silakan maju ke depan!"
10 menit di depan, akhirnya soal itu bisa dia kerjakan, tapi naasnya tetap saja salah.
"Makanya, kamu jangan bolos pelajaran bapak. Mengerjakan ini saja kami jadi gak bisa, kan?!"
***
"Mama, kami pulang..." teriak Scot yang sudah menjatuhkan tubuhnya di sofa. Sidney juga tidak ketinggalan, ikut merebahkan tubuhnya.
"Ma.... mama..."
"Hush, jangan teriak lagi. Mama kamu di cafe, belum pulang," ucap Oma yang baru saja keluar dari dapur.
"Omaaaa..."pekik Sidney, memeluk wanita tua itu. Nani baru saja tiba dari Jogja, ke rumah adiknya yang mengundangnya untuk berkunjung ke sana. Nani sebenarnya sudah tidak kuat lagi melakukan perjalanan jauh, tapi berhubung itu permintaan terakhir adiknya yang sedang sakit parah, maka Oma terpaksa berangkat.
"Aduh, cucu Oma, baru pulang sekolah. Makan dulu sana."
"Ntar aja deh, Oma. Kita berdua capek banget." Kali ini Scot yang menjawab untuk Sidney.
"Ya, sudah. Oma tinggal dulu, ya. Oma masih lelah karena baru sampai juga."
Keduanya mengangguk, dan kembali larut dengan ponselnya setelah Oma naik. Bi Juminten segera membawa air jeruk peras untuk mereka tanpa diminta, karena sudah jadi tradisi kedua makhluk itu sepulang sekolah.
"What's up twins..." Mendengar suara itu sontak kedua remaja itu menegakkan tubuhnya. Senyum gembira muncul di wajah mereka dan serentak menyapa pria itu.
"Om Dipaaaaaa."
"Om Dipaaaaa."
"Om kapan balik dari Paris?"
"Kemarin. Tuh, di mobil, pesanan kalian berdua. Semua lengkap sesuai list."
"Asyik..."
Keduanya berlari ke luar, menuju mobil Dipa yang diparkir di halaman rumah. Tepat saat itu, Paris pulang, dan hanya tersenyum melihat tingkah konyol kedua adiknya.
"Om Dipa udah lama datang?" tanyanya bersemangat. Ini yang namanya pucuk dicinta ulam pun tiba.
"Barusa . Tapi kayaknya hadiah ini untuk kita berdua aja. Sorry big bro," ucap Scot menaikkan satu alisnya.
Paris tidak peduli. Dia bahkan tidak mengharapkan hadiah apapun dari Om nya karena ada yang paling dia inginkan dan memerlukan bantuan Dipa.
"What's up, Giant!" Seri Dipa kala melihat Paris memasuki ruang tamu. Keduanya TOS, seperti setiap kali bertemu sejak dulu.
"Kapan datang, Big Boss?" tanya Paris yang sejak dulu tidak memanggil Dipa dengan sebutan Om. Kadang big bos atau big bro, terserah asal jangan Om. Itu atas permintaan Dipa sendiri agar merasa tetap muda.
"Kemarin. Apa cerita?"
"Boss, aku mau minta tolong nih, please. Urgent banget."
"Jangan bilang kau berantam lagi, dan diminta mendatangkan orang tuamu ke sekolah," ucap Dipa menebak, karena yang sudah-sudah begitu.
"Kali ini, wali juga boleh kok bos datang," sahutnya cengengesan.