Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 35


Sidney duduk di ruang tamu menunggu Paris berpakaian, dan melihat Hanna dengan cekatannya beraksi di dapur mini milik Paris membuat teh untuknya. "Diminum, Sid," ucapnya seraya tersenyum.


"Terima kasih. Kamu gak minum?"


"Oh, tadi baru makan bersama Paris. Lapar setelah apa yang kita lakukan, jadi masih kenyang."


Lapar setelah apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka lakukan sampai membuat mereka lapar?


Sidney selalu perang batin saat ada hal yang membuatnya tidak nyaman.


"Kamu teman kuliah Paris?"


"Iya... kita teman. Dia sering cerita sama aku tentangmu. Kamu baru tamat SMA, ya? Mau kuliah dimana?"


"Di sini." Paris keluar setelah memakai pakaian lengkap. Celana jeans dan kaos putih oblong. Sidney mengikuti langkah Paris dengan bola mata yang memancarkan rasa terpesona yang dia rasakan.


"Pacar gue ganteng banget... Ris, gue kangen..." ucapnya dalam hati.


Tapi ternyata bukan hanya Sidney yang saat ini tengah melihat ke arah Paris dan dengan tatapan terpesona juga, Hana pun melakukan hal yang sama.


"Beneran kamu mau kuliah di sini? Di Oxford? Ngambil jurusan apa?"


Sidney hanya diam. Menimbang apa Paris malu kalau dia hanya akan kuliah di universitas di Indonesia? Atau bisa jadi dia tidak lulus universitas negeri, apa Paris akan malu mengakuinya sebagai kekasihnya?


"Itu..."


"Terserah di kampus mana aja, asal dia di London, dekat denganku," ujar Paris merangkul pundak Sidney. "Han, lo gak pulang? Gue mau berduaan sama cewek gue. Pulang gih!"


Paris memang terkenal dengan cara bicara yang sesukanya, membuat Sidney yang mendengar justru tidak enak hati. Tapi Paris tampaknya tidak peduli.


"Iya, Aku pulang dulu, ya," ucap Hana berdiri dari duduknya. Menatap sekilas pada Sidney seolah jadi malu karena diperlakukan seperti itu.


"Kenapa gitu sih cara ngomongnya sama Hana?" tanya Sidney setelah pintu apartemennya di tutup.


"Ah, gak usah dipusingkan. Aku udah biasa kok ngomong kayak gitu sama dia. Gak bakal sakit hati deh. Udah, gak usah bahas dia. Aku rindu banget sama kamu. Masih gak percaya kamu ada di sini," ucap Paris membelai wajah cantik Sidney.


Gadis itu hanya tersenyum malu. Tanpa kata, Paris menyentuh bibir mungil itu dengan jempolnya, lalu mengangkat dagu Sidney, ingin memuaskan pandanganya menatap mata indah yang selalu dia rindukan itu.


Tida ada kata, hanya aksi yang dia lakukan untuk membuktikan perasaannya, rasa rindu mereka yang sudah menggunung.


Ciuman itu berubah lum*Atan, dalam dan juga menyiksa, karena begitu merindu. Bibir Paris mulai merambah ke leher jenjang nan mulus milik Sidney.


"Aku ingin sekali menjadikanmu milikku seutuhnya," bisik Paris melepas ciuman mereka.


"Kamu menginginkannya?" bisik Sidney yang juga sudah terbuai, dia sudah pasrah kalau mereka harus melakukan hal itu.


Paris menggila. Tubuhnya panas. Selama ini dia hanya melakukan olahraga tangan jika sudah di ujung, dia akan mengambil ponselnya memandangi semua foto Sidney di Instagram gadis itu.


Kini ada orang nya, mereka juga jauh dari orang tua, sudah selesai sekolah, jika pun kalau Sidney hamil, mereka tinggal melaksanakan pernikahan saja. Orang tuanya juga pasti akan paham.


Kepala Paris sudah mulai naik, tubuhnya bergetar, hingga memutuskan untuk membawa Sidney ke kamarnya. Di gendongnya gadis itu dengan bibir mereka masih tetap bertautan.


Dengan kakinya Paris membuka pintu dan menutupnya kembali. Penuh perasaan, Paris membaringkan tubuh Sidney, lalu mengikis jarak dengan melahap dengan rakus bibir Sidney. Paris bahkan menahan kepala Sidney, dengan meletakkan tangannya di atas kepala Sidney, menikmati makan malam pembuka yang terhidang.


Tangannya mulai bergerilya, membelai dan juga membuat satu persatu kancing baju Sidney.


Dinginnya suhu di kamar itu di tambah sentuhan tangan Paris membuat Sidney menegang, beku dengan debar jantung yang berdetak kencang. Wajah Paris turun lalu menjelajah hingga ke miliknya yang lembut. Permukaan itu sudah basah oleh jilatan Paris tidak hanya di atas, di bawah pun juga sudah basah.


Paris memutus kontrak mereka. Menarik tangan gadis itu, membantu Sidney membuka pakaiannya, melepas penutup si kembar hingga menyembul, membusung indah menantang.


Paris melihat wajah Sidney yang memerah. Cantik dan sangat menggoda. Bola mata Paris juga sudah menghitam, ingin segera menguasai Sidney.


Paris kembali menyelimuti tubuh polos Sidney dengan tubuhnya. Menyapu kembali bibir gadis itu, lalu mencercap kulit mulus Sidney. Bermain dengan dua buah kenyal yang ujungnya tampak pink kecoklatan.


Dia rindu, dulu mereka juga sempat sampai tahap ini saat sekolah, tapi tida sampai membuka baju dan b*ra Sidney.


Kini seolah akses dimiliki Paris, dia ingin melahap keduanya. Milik Sidney cukup besar, dia heran mengapa Sidney selalu menyembunyikan di balik baju kaos kebesarannya.


Paris menikahi keduanya, hingga lenguhan Sidney terdengar begitu indah di telinganya. Lidahnya mulai memainkan puncaknya hingga Sidney harus menutup mata karena rasa nikmat yang tidak terperi.


Milik Paris sudah mengeras di bawah sana, dia menginginkan Sidney saat itu juga. Sigap Paris bangkit, menatap wajah Sidney, mencari apakah ada tanda penyesalan di wajah gadis itu, tapi nyatanya tidak ada. Paris menunduk untuk membuka celana jeans Sidney, hingga hanya tampak satu tempat miliknya yang paling inti.


Paris yang sudah diambang kewarasannya, menarik bajunya dari belakang kepala hingga terpampang dada dan ototnya yang terbentuk sempurna. Lalu tanpa malu karena sudah menganggap Sidney miliknya, Paris membuat celananya, hanya tinggal boxer dan saat melihat ketakutan di mata Sidney yang tiba-tiba muncul, Paris menghentikan gerakannya. Mata itu membawanya pada saat Lia diambang akhir hidupnya. "Paris jaga Sidney, ya. Sayangi dan cintai Sidney. Tante ingin Paris bisa berjodoh dengannya. Kalau Paris suatu hari mencintainya, Paris pasti bisa membuatnya merasa dihargai, dan dicintai walau Tante sudah tidak ada. Titip Sidney, ya..."


Tubuh Paris kaku. Sidney duduk dan mengulurkan tangan Paris hingga berada di sampingnya. "Ada apa, Sayang?"


"Aku melihat rasa takutmu sekilas. Membawaku pada malam Tante Lia akan pergi. Ada ketakutan di matanya. Dia takut kalau kau tidak akan dicintai, disayangi, dijaga dan dilindungi. Aku belum pernah cerita padamu kalau Tante Lia memintaku menjagamu, dan suatu hari menikahimu kalau aku merasakan cinta padamu. Satu hal yang kusadari, harusnya kalau aku mencintaimu, aku bisa menjaga naf*su ku. Tidak mengambil kehormatan mu, tanpa adanya pernikahan."


Paris menarik tubuh Sidney ke dalam dada telan*jangnya. "Maafkan aku, Sayang karena tidak bisa menguasai diri. Jaga kehormatan mu untukku, sampai kita menikah nanti."


Sidney mengangguk. Lalu mencium dada pria itu. "Sayang, jangan pancing lagi, ini masih bangun," ucap Paris menarik tangan Sidney untuk menyentuh mister P yang masih menegang dibalik Boxernya.