
Raya langsung berlari begitu melihat suaminya tiba diambang pintu. Memeluk erat tubuh Elrick dan tidak bisa menahan air matanya. "Sudah, Sayang, aku gak papa kok. Sudah jangan nangis lagi," bisik Raya.
"Memangnya papa sama big Bro dari mana sih?" Tanya Paris yang duduk di depan televisi.
"Mission possible, pokoknya," sahut Dipa mengedipkan sebelah mata.
Di sampingnya, Tita yang tampak malu hanya bisa menunduk. Bagaimanapun, muridnya ini belum tahu kalau dia punya hubungan dengan om mereka.
"Loh, Tita?" Raya baru menyadari kalau Tita ikut bersama mereka, dan parahnya wajahnya penuh luka lebam dan penampilannya awut-awutan.
Mendengar nama gurunya disebut, Scot dan Paris segera menoleh kembali ke arah om nya. Benar, itu guru BP mereka, sedang apa di rumah mereka dan ada apa dengan wajahnya?
"Ibu? Sedang apa di rumah kami?" Lontar Scot sampai berdiri. Paris hanya mengamati, lalu saat melihat jarak Dipa dan Tita begitu intens, pahamlah dia kini.
"Mending lo ikut gue ke atas. Ada yang mau gue tanya," ucap Paris berdiri dan menarik tangan Scot. Dia tahu saat ini Tita sangat malu dengan keadaannya. Harusnya dia tidak boleh berhubungan dekat dengan keluarga siswa, apalagi sampai pacaran, ada dalam peraturan sekolah.
Mau bagaimana lagi, namanya cinta kan tidak bisa memilih pada siapa dia akan berlabuh.
"Ris, itu kenapa bu Tita ada di rumah kita? Wajahnya babak belur udah kayak dihajar massa, kasihan banget," cerocos Scot.
"Udah lo diam. Ingat lo gak usah cerita sama siapapun kalau Bu Tita ada di rumah kita."
Scot masih ingat bertanya kenapa harus begitu, tapi melihat rahang tegas Paris, akhirnya diundurkan juga niatnya. "Betewe, si Unyil kemana ya? Kok udah beberapa hari gak nongol di rumah?"
"Nah, itu lagi satu. Mulai sekarang lo jangan cariin dia atau ganggu Sidney lagi!"
"Kenapa gitu?"
"Om Sandi gak suka."
"Dih, bukannya dari dulu, kita temenan. Malah kita dianggap twins. Kita juga udah pernah sama-sama. Mandi bareng, tidur bareng, semua bareng," protes Scot. Dia gak mungkin bisa terima dipisahkan dari sahabatnya itu. Tapi kalau mau jujur, waktunya juga sudah banyak tersita buat Gladys hingga jarang hang out bareng Sidney lagi.
"Itu kan waktu kalian masih bocah. Masih Sekolah dasar! Sekarang udah gak boleh!"
Untuk kali kedua Scot ingin protes buka mulut, tapi Paris langsung menaikkan alisnya hingga Scot diam.
***
Tita sudah dibawa masuk ke kamar tamu. Sebelum ke rumah, mereka sudah lebih dulu ke rumah sakit, untuk mengeluarkan peluru dari tubuh Dipa. Untung hanya mengenai kulit lapisan luar pinggang Dipa, jadi hanya perlu jahitan tanpa harus operasi besar.
Dokter juga sudah mengobati luka lebam di wajah Tita dan mengatakan kemungkin tiga hari baru lebam dan sobekan di bibirnya akan sembuh.
Dipa sengaja membawa Tita ke rumah Nani karena tidak ingin ada yang mencelakainya kalau tinggal sendiri di apartemen. Kini gadis itu sudah tertidur pulas.
"Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Elrick yang masih merangkul istrinya yang tidak mau jauh darinya.
Ruang tamu tampak hening, hanya ada mereka bertiga. Beruntung saat mereka kembali, Nani sedang ada di kamarnya. Kesehatannya memburuk hingga harus banyak beristirahat.
"Aku mau menikahi Tita secepatnya. Aku gak mau ada orang lain yang menyakitinya lagi. Kalau dia sudah menyandang namaku, siapa yang akan berani menjahatinya?
"Aku setuju. Lebih baik kalian menikah, dan berikan pengawalan untuknya," ucap Raya menegakkan tubuhnya. Dia menyukai Tita, malah sifat mereka hampir sama, jadi pasti kalau Tita sudah menikah dengan Dipa, mereka bisa menjadi teman baik nantinya.
***
Tapi Dipa menolak. Mereka tidak akan meninggalkan rumah itu sebelum mereka menikah.
"Dipa, pria yang sangat overprotektif, tapi itu karena dia sayang padamu. Kenapa kau keberatan untuk menikah dengannya dalam waktu dekat ini?" Tanya Raya menemani Tita duduk sambil minum teh sore hari.
Tita diam. Dia bukan tidak mau, tapi rasa bimbang begitu saja hinggap di hatinya. Ucapan Regal saat menculiknya, yang mengatakan akan menghabisi Dipa sungguh mengganggunya. Keluarganya akan menghancurkan bisnis dan juga kehidupan pria itu. Tita takut, karena dirinya, kehidupan Dipa jadi berantakan.
"Ta..." tegur Raya karena gadis itu hanya menunduk.
"Aku bukan gak mau, Mbak. Aku cuma takut, karena aku, hidup Dipa jadi hancur. Keluarga Samertha akan mencari cara menghancurkan Dipa."
"Untuk hal itu kau gak usah pikirkan, Ta. Kau belum kenal keluarga Diraja. Semua ancaman keluarga Samertha tidak akan terjadi atas diri Dipa. Percayalah."
Tita menatap Raya, seolah ingin menguatkan hatinya untuk percaya apa yang dikatakan wanita itu. Kalau Raya mengatakan hal itu, pasti itu lah yang benar.
"Lantas, kenapa kau ingin pergi dari sini? Kenapa gak mau tinggal di sini sampai menikah?"
"Aku segan, Mbak. Aku seorang guru, tapi tinggal di rumah orang tua siswaku, terlebih karena punya hubungan dengan pamannya. Belum lagi harus tinggal satu atap dengan Dipa.
"Ta, kau mencintai Dipa?"
"Sangat, Mbak." Air mata gadis itu turun. Bagaimana mungkin dia tidak mencintai pria itu. Dia adalah malaikat penyelamat hidupnya.
"Kalau begitu, buktikan kalau kau mencintainya. Terimalah lamarannya."
***
Keluarga Diraja heboh kocar-kacir menyiapkan pesta pernikahan untuk Dipa dan Tita. Mendapatkan kabar menggembirakan itu, Nani yang merasa kurang sehat kini tambah bersemangat.
Raya yang paling dipusingkan dalam hal ini. Dia yang mengurus segalanya, mulai dari pakaian seragam mereka, pakaian pengantin dan juga gedung serta sejenisnya.
Tapi dia tidak keberatan. Dia ikhlas bahkan sangat bangga diberi mandat oleh Nani untuk mempersiapkan pernikahan Dipa karena dia adalah kakak iparnya.
"Gimana, Sid. Keluarlah, Nak," ucap Raya yang membawa Sidney fitting gaun yang akan dia pakai di pesta Dipa dan Tita nanti.
"Aku malu Tante. Apa ini gak terlalu ketat?" sahutnya dari dalam ruang fitting. Gaun itu sangat indah. Raya sengaja kompakan memilih bahan yang sama untuk gaunnya dan juga Sidney. Dia ingin di pesta itu, semua tahu kalau dia punya anak perempuan, yang nantinya akan menjadi menantunya.
"Coba sini Tante lihat. Itu udah ukuran kamu, loh. Masa iya kesempitan?"
Sebenarnya gaun itu tidak sempit, pas di tubuh Sidney, tapi karena bagian dadanya yang tampak besar karena model gaun tidak berlengan dan membentuk lekukan tubuhnya, membuat Sidney tidak percaya diri. Mungkin. Sidney tidak tinggi seperti gadis SMA pada umumnya, tapi dia juga tidak pendek. Tingginya hanya 158cm, tapi Raya selalu bilang, kalau nanti dia akan semakin tinggi seiring berjalannya waktu, tapi tetap saja Sidney tidak percaya diri.
"Keluar dong, Sayang...." Bujuk Raya kembali. Akhirnya karena tidak enak hati pada Raya yang sudah mengurus dan memperhatikannya di setiap detil kebutuhannya, Sidney keluar dari bilik itu.
"Nah, kan cakep. Cantik banget, udah kayak princess di negri dongeng," puji Raya jujur.
Sidney memiliki kulit putih gading, hidung yang mancung dan bibir tipis yang mengemaskan. Ditambah kalau tersenyum, lesung pipinya sebelah kanan pasti akan menambahkan kecantikannya. Jadi, harusnya gadis itu tidak punya alasan untuk minder.
Dipuji oleh Raya, membuat wajah Sidney memerah. "Sumpah demi apa, lo cantik banget, Nyet," ucap Scot yang datang bersama Paris.