
Raya terperangah mendengar ucapan Elrick, sekaligus kesal dengan becandaan pria itu. Entah apa yang kedua pria itu bicarakan, tapi mengapa harus membawa dirinya atas lelucon mereka?
"Maksudnya apa?" tanya Raya hampir menangis. Dia tahu sifat Elrick yang paling tidak suka bermain-main dengan orang. Dia takut, Dika salah ngomong, hingga membuat pria itu tersinggung.
Ya Allah, mereka bicara apa sih? kok Mas Elrick ngomong begitu?
Sejujurnya, Raya takut kalau Elrick salah paham dengan ucapan Dika, dan meninggalkannya.
"Maaf, Ray, tadi aku bilang sama tuan Diraja, kalau aku ingin mengundang beliau saat kita kembali rujuk, dan menikah lagi."
"Mas Dika, apaan sih. Kenapa ngomong begitu?" Riak air mata Raya sudah mulai muncul.
"Maaf, ya Ray. Aku kan gak salah kalau berharap kita bisa balikan lagi," sambar Dika.
"Ngomong apa sih, Mas Dika," rungut Raya kesal, menoleh ke arah Elrick dengan rasa takut.
"Oh, jadi begitu ya. Kalau sampai hal itu terjadi, mmm... aku akan beri kado yang istimewa," tukas Elrick masuk dalam permainan yang dia ciptakan. Semua ini hanya untuk mengerjai Raya dan juga memberikan kepuasan semu bagi Dika.
Mana mungkin Elrick mau melepaskan Raya untuk pria lain. Bahkan kalau Raya suatu hari ingin meninggalkannya, lebih baik dia mencekik wanita itu hingga mati, lalu menembak kepalanya sendiri, agar cinta mereka benar-benar abadi, sehidup semati.
"Mas, Elrick...!" pekik Raya mulai menangis. Air mata nya meluncur di pipi.
"Loh, Ray... kamu kok nangis?" ucap Dika panik.
"Mas Dika juga apa-apaan sih ngomong gitu sama mas Elrick, nanti kalau dia pikir itu benar, gimana?" bulir air mata Raya berjatuhan lagi. Dia kesal bahkan benci pada Dika yang seenaknya saja bicara seperti itu. Lagi pula, apa dia gak mikir kalau dulu Raya sudah ditalak tiga olehnya, jadi mengharapkan rujuk yang bagaimana lagi?
Elrick merasa bersalah, niatnya menggoda Raya justru ditanggapi serius oleh kekasihnya. Pria itu bangkit, dan duduk di samping Raya. "Hei... aku cuma bercanda, jangan menangis. Sampai kapan pun, aku tidak mungkin melepaskan mu untuk pria lain maafkan aku, Sayang."
Raya mengangkat wajahnya menatap Elrick dengan matanya yang lebih linangan air mata. "Aku gak mau, mas pikir aku ada omongan kayak gitu sama mas Dika, sumpah aku..."
Elrick mengecup kening Raya, hingga wanita itu berhenti bicara. Maunya sih di bibir, tapi Elrick paham, ada orang lain di sana, dia tidak ingin keintiman mereka jadi konsumsi orang luar.
Mulut Dika menganga. Tidak percaya atas apa yang dia lihat. Seorang Elrick Diraja bisa bersikap selembut itu pada Raya? dan dari apa yang dia lihat, itu sudah menjelaskan kalau diantara mereka ada hubungan yang spesial.
"Maaf, kalian..."
"Raya adalah calon istriku. Aku tahu kau dulu adalah mantan suaminya. Tapi itu hanya masa lalunya. Jadi, aku minta padamu, jauhi Raya. Aku adalah orang yang sangat pencemburu, tidak siapapun boleh mendekati, menyentuh, atau sekedar berbicara dengan orang yang aku cintai. Aku harap kau paham sampai di sini!"
Dika paham apa yang diucapkan Elrick. Mana mungkin dia berani menentang pria itu. Jika dibandingkan dengan dirinya, Elrick ibarat langit luas, yang tinggi dan susah disentuh. Beruntung Raya bisa mendapatkan Elrick, pria yang paling diminati abad ini.
Tapi bukan berarti Elrick tidak beruntung mendapatkan Raya. Dia gadis baik dan sangat lembut. Hatinya suci dan tidak pernah dendam pada orang yang sudah menyakitinya. Dika lah yang tidak tahu menghargai Raya. Dia sudah membuang emas murni demi kilau imitasi.
Penyesalan selalu datang terlambat. Pupus sudah harapannya untuk mengajak Raya balikan. Merasa tidak punya kepentingan lagi, Dika pamit pulang.
"Jadi kalian ternyata mau rujuk, ya?" goda Elrick lagi, setelah kepergian Dika lima menit lalu.
"Iih, Mas Elrick, gak bosan-bosannya godain aku terus. Kalau mas ngomong gitu, aku benar-benar akan balikan sama mas Dika!"
"Jangan pernah kau berkata seperti itu lagi. Aku bisa gila kalau sampai kau pergi dengan pria lain. Ray, aku sudah memberikan hatiku padamu. Kau tahu, aku begitu sulit mempercayai orang lain, terlebih itu wanita, karena aku sudah pernah dikecewakan. Jadi, aku mohon, jangan pernah katakan hal itu lagi. Aku paling benci dengan pengkhianatan, Ray!" ucapnya tajam, seolah bisa menembus relung hatinya yang terdalam.
Raya ingat, luka ditinggalkan Silvira hingga kini masih membekas di hatinya. Mana mungkin Raya berani melukai pria ini, dia sudah cukup menderita sejak kecil, dibuang dan dikhianati.
"Aku bersumpah, aku akan selalu ada di sisimu, dalam keadaan apapun. Aku akan mendukung setiap keputusanmu. Aku tidak akan meninggalkan mu selam kau masih ingin bersamaku," ucap Raya mengulurkan tangan membelai pipi pria itu.
Elrick tidak bisa membendung suka cita dan rasa harunya, segera menyapukan bibirnya pada gadis itu. Menekan dalam keputusasaan lali membangkitkan gai*rah.
Elrick segera menarik diri, kala mendengar suara langkah yang semakin dekat. Dia tebak kali ini yang datang adalah Darma.
"Assalamu'alaikum...."
"Wa... Wa'alaikumsalam," sahut Raya dan disusul Elrick gelagapan.
Darma menatap keduanya yang tampak gugup, seolah pasangan yang kepergok berbuat mesum. Raya lebih panik, seolah mengingat apakah tadi sempat Elrick mengecup lehernya dan memberikan tanda di lehernya, sehingga dia sibuk memegangi lehernya dan merapikan bajunya.
Elrick yang sudah bisa menguasai diri hanya menarik kemejanya, lalu berdehem, dan duduk dengan gaya santai.
Tatapan Darma menyelidik, tapi Elrick masih berusaha tenang. Darma hanya seorang petani, tapi mengapa Elrick selalu canggung berhadapan langsung dengan Darma, padahal sepak terjangnya, dia sering bertemu dan dapat dengan pengusaha sukses tidak hanya di tanah air tapi juga luar negeri.
"Ayah... mau aku buatkan kopi?"
Darma hanya mengangguk, duduk di hadapan Elrick. Raya kembali menyeret langkah malasnya menuju dapur, walau dia masih ingin duduk di sana. Dia takut terjadi hal buruk di antara kedua pria itu. Kalau sampai terjadi baku hantam lagi, mungkin Raya akan pingsan.
"Terima kasih untuk bantuan mu tempo hari. Sore ini, pihak berwajib sudah mengambil keterangan dari Bejo, dan pelakunya saat ini sedang dilacak," ucap Darma dengan suara datar. Tidak bersahabat, tapi juga tidak mencari musuh.
"Iya, Om. Sama-sama. Memang sudah seharusnya nama baik om dipulihkan. Saya juga sudah meminta anak buah saya untuk membantu penyelidikan ini. Secepatnya, semua akan terungkap."
Tepat saat kalimat Elrick usai, Raya muncul membawa minuman ayahnya.
"Tapi kalau begini terus, nama baikku akan tercoreng lagi."
"Kenapa begitu, Om?" tanya Elrick yang tidak mengerti.
"Ya, karena perbuatan kalian ini. Hanya kalian dan Tuhan, yang tahu apa yang baru saja kalian lakukan. Kalau begini, sebaiknya kalian segera menikah saja!"
*
*
*
Dapat restu weeei... tim Raya dan Elrick menuju halal, mana suaranya?
Mau satu bab lagi? bagi hadiah dong...☺️