
Sinar matahari yang menerobos masuk membuat tidur raya terganggu. Dia masih ingin memejamkan mata, namun silau yang masuk menembus, hingga menggerakkan matanya untuk terbuka. Hal pertama yang ditatap tubuh telentangnya adalah langit-langit kamar yang dihias indah.
Kesadarannya sedikit kembali kala mendapati itu bukanlah kamarnya. Lalu ditarik lagi, diingat lagi dan...aaaaaacckkk.. pekikkannya yang kencang membuat pintu kamar terbuka.
"Ada apa?"
"Ini dimana?" tanya menatap Elrick. Pria itu hanya mendengus kasar. Dia pikir Raya menjerit karena terjadi hal buruk padanya.
"Di apartemen gue!"
"Kenapa bisa sampai di sini? kenapa aku tidur di kamar ini?"
Ingin rasanya Elrick menggoyangkan kepala Raya agar kesadaran kembali. Dia kesal melihat tatapan wanita itu padanya saat ini, seolah menatap curiga, menganggap dirinya berbuat hal buruk padanya.
"Lo gak ingat, lo diculik, mau dibuat jadi sate, gue tolongi, bawa lo kemari, dan saat gue lagi beli obat buat lo, yang ada lo malah mabuk minum beer dari kulkas!"
"Iya, sesi diculik itu aku ingat, Mas. Tapi kenapa aku bisa sampai ma- buk..." ucapnya pelan, ingatannya kembali. Merasa haus, dia buka kulkas dan mengambil satu minuman. Rasa malu menjalar hingga buat wajahnya memerah. Diliriknya ke arah pintu, pria itu masih ada di sana, menatap tajam ke arahnya.
"Tapi gak terjadi apa-apa kan sama... kita?" Sepolos-polosnya Raya, dia masih tahu apa yang akan terjadi, jika dalam keadaan mabuk.
"Sorry, gue gak na*fsu sama lo! cepat turun, rapikan tempat tidur gue, baru lo gue antar pulang!"
***
Raya sudah keluar dari kamar. Wajahnya sudah tampak cerah setelah mencuci muka. "Maaf, Mas, tadi facial washnya aku minta dikit, ya," ucap Raya tersenyum kaku. Elrick yang tengah menghadap laptop, tidak menanggapi tetap serius pada apa yang dia kerjakan.
Demi menunggu Raya bangun, dia terpaksa tidak pergi ke kantor. Dia takut, ketika bangun, wanita itu akan histeris atau kesakitan pada bagian tubuhnya yang lain, sementara dia tidak ada di sini.
"Kenapa bos gak masuk? hari ini ada jadwal meeting dengan anak-anak," ucap Bagas heran akan sikap bosnya. Elrick dikenal sebagai pria yang disiplin, dan workaholic, jadi saat menerima telepon dari pria itu dan mengatakan kalau hari ini dia tidak ke kantor, tentu sesuatu yang mengejutkan bagi Bagas.
"Mmm... aku pamit pulang ya, Mas," ucap Raya kaku. Sudah 10 menit menunggu, tapi Elrick masih cuek, fokus pada laptopnya.
Lima menit berlangsung, pria itu menutup layar laptopnya, dan menyambar kunci dia atas meja. "Ayo..." deliknya melihat ke arah Raya yang masih terbengong.
Dasar aneh... wajahnya jutek terus, buat aku ketakutan aja tiap berada di dekatnya...
***
"Makasih udah diantarin, dan buat semalam, terima kasih banyak ya, Mas," ucap Raya membuka sabuk pengamannya.
Tidak ada jawaban tentu saja. Polar bear itu masih menutup rapat bibirnya. Cuek, tidak menanggapi perkataan Raya.
Tidak mendapat sambutan, Raya memilih untuk turun, dan setelahnya mobil itu berlalu.
***
"Mbak, ada telepon," Nana menyodorkan ponsel Raya yang sejak tadi bergetar. Gadis itu satu hari ini sama sekali tidak sempat membuka ponsel, karena sibuk mengurus pakaian pelanggan.
"Assalamualaikum, Ayah," sapanya setelah menggeser tombol hijau.
"Walaikumsalam. Bagaimana kabarmu? sulit sekali menghubungi belakangan ini," jawab Darma. Suara berat itu begitu Raya rindukan. Sudah lama Dia ingin menghubungi, tapi ada rasa takut, takut kalau ayahnya nanti bertanya masalah pernikahannya dengan Dika.
"Baik, ayah. Kabar Ayah gimana? ayah sehat?" Raya bahkan hampir menangis karena sangat merindukan pria itu. Semua yang terjadi padanya membuat Raya ingin berlari ke pelukan ayahnya, menangis sejadi-jadinya, memuaskan rasa sesaknya. Jujur, dia sudah jenuh ada di kota ini. Kalau nanti ayahnya bisa menerima keadaannya, dia lebih baik tinggal di desa, bersama ayahnya, merawat dan berbakti pada pria itu.
Tes... air mata itu jatuh. Raya merasa bersalah. Dia sudah seperti anak durhaka, yang melupakan orang tuanya. Padahal alasan dia tidak pulang, karena tidak sanggup menanggung gunjingan orang di desanya atas apa yang terjadi pada dirinya.
"Aku..."
"Ayah mohon, pulanglah. Seharu atau dua hari saja. Apa kau tidak rindu pada ayahmu ini? apa kau tidak sedih kalau ayah meninggal padahal kita belum bertemu lagi?" ucap Darma diselingi batuk pria itu.
"Ayah jangan ngomong seperti itu. Ayah akan panjang umur. Aku janji akan segera pulang menjenguk ayah secepatnya," sahut Raya menghapus air matanya.
***
Raya melangkah masuk ke dalam ruang yang hampir setiap dia kunjungi, karena kalau tidak datang, Nani akan menghubungi, meminta segera datang, dan sesekali menuntut untuk ditemani.
"Hai Oma cantik," sapa Raya mendapati Nani yang sedang menonton sinetron di televisi bersama Juminten, dan langsung sigap berdiri, mengambil kain yang dibawa Raya.
"Kau datang, sini duduk dekat Oma," ucap Nani. Apalagi yang mereka lakukan kalau tidak saling bercerita.
"Oma, di luar ada mobil Dipa, dia di sini?" tanya Raya.
Nani mengangguk. "Dia ada di kamarnya. Wajahnya murung, sejak tadi mendiami Oma. Raya, coba kau pergi melihatnya."
Tok.. tok.. tok...
Raya mengetuk daun pintu yang sebenarnya sudah terbuka setengah. Dipa di sana, duduk di tepi tempat tidur, menatap sebuah frame. Menyadari keberadaan Raya, pria itu tersenyum padanya. "Masuklah, Ray."
Raya menurut. Walau sedikit segan, tapi mendung di wajah Dipa membuatnya ingin menghibur pria dengan memiliki lesung pipi itu.
"Duduk, Ray. Sini..." ucap Dipa menepuk tempat di sampingnya. Pria itu menunjukkan foto yang sejak tadi dia amati.
"Pa, Ma, ini Raya. Cantik, kan? dia punya mata yang indah dan tatapan yang teduh, lembut, mirip sekali seperti mama. Ma, seandainya mama masih ada, pasti senang banget ketemu sama Raya," ucap pria dengan suara parau. Raya tahu, dia menahan diri untuk tidak menangis.
Raya tidak mengatakan apapun, hanya menyentuh lengan Dipa, mencoba menenangkan pria itu.
"Ray, ini Mama dan Papa ku. Hari ini adalah hari kematian mereka. Kejadian naas yang merenggut nyawa mereka 12 tahun lalu." Ada jeda. Dipa tidak sanggup untuk melanjutkan ceritanya, memilih diam mengamati bingkai foto itu.
Tes...! Butiran bening jatuh di atas kaca bingkai foto kedua orang tuanya. Raya bisa merasakan kesedihan Dipa, spontan mengulurkan tangannya untuk menghapus punggung Dipa, agar pria itu lebih tegar.
Perlakuan lembut Raya membuatnya semakin sedih. Dipa terisak, dan tanpa diduganya, pria itu sudah memeluk Raya. Menangis di bahu gadis itu. Seolah bahu itu tempat aman dan ternyaman untuk dirinya bisa membuka hati, menumpahkan kesedihannya. Tempat dia bisa menunjukkan kalau dia juga pria rapuh, yang memiliki tangis dan kesedihan.
Dua anak manusia yang saling membalut kesedihan itu tidak menyadari, Elrick yang kebetulan lewat menuju kamarnya, menatap tajam ke arah mereka.
Dasar wanita murahan!!
*
*
*
Dih, polar bear salah paham 🤦
lanjut lagi gak malam ini?