Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 21


Dua hari setelah Dika mengambil surat dan sertifikat harta benda mereka, pria itu kembali datang menemui Raya untuk membawa gadis itu melakukan penandatanganan transaksi jual beli tanah dan rumah. Raya juga sempat ikut menjenguk Bu Titin ke rumah sakit.


Wanita itu berbaring lemah setelah di operasi. Menurut dokter keadaannya sudah lebih baik, namun kini sudah tidak boleh beraktifitas yang membuatnya lelah.


Demi bakti pada ibunya, Dika memutuskan agar Titin tinggal bersamanya saja di Jakarta untuk sementara waktu ini. Hal itu tentu menjadi boomerang bagi Lani, yang baru dinikahi Dika secara sirih.


"Terima kasih, kau sudah mau jenguk ibu, Ray," ucap Dika ikut menatap ibunya dari balik dinding kaca. Titin masih belum sadar, dan memang belum bisa dijenguk, jadi cukup hanya melihat dari luar.


"Iya, Mas. Aku pulang dulu. Sampaikan salam pada ibu." Dika hanya mengangguk, dan tersenyum lembut pada Raya.


"Oh, iya Mas. Kapan surat cerai kita itu keluar?"


"Kenapa Ray? kau sudah ingin sekali menyandang status janda rupanya?" delik Dika tersenyum kecut. Ada kesedihan di sudut hatinya. Setelah kepergian Raya, Dika semakin menyadari tindakannya salah karena mau bercerai dengan mantan istrinya itu.


"Aku cuma ingin tenang dengan kejelasan statusku. Aku tidak ingin dianggap menjadi pihak pengganggu rumah tangga Mas dan juga Lani." Raya sudah bisa menyebut nama mantan sahabatnya itu. Walau belum sepenuhnya ikhlas melepas Dika, keluar dari rumah dan menjalani suasana dengan lingkungan dan orang-orang yang baru membuat Raya lebih bisa menerima kenyataan. Dia lebih tenang dan juga semangat hidupnya kembali muncul.


"Selamanya kau akan ada di hatiku, Ray. Kau tahu benar akan hal itu."


"Mas, aku mohon. Jangan ucapkan hal itu lagi, hargai Lani yang saat ini sudah jadi istrimu. Kau tahu betul kita berdua tidak bisa bersama lagi. Ingat Mas, kau sudah menjatuhkan talak tiga padaku. Tahu kan artinya?"


Dika diam seribu bahasa. Matanya sudah mulai berkabut. Dia sungguh tidak bisa menerima perpisahannya dengan Raya. Jelas hatinya sangat mencintai wanita itu. Ah, na*fsu sudah mengambil kesadaran dan rasionalnya.


"Kalian ngapain?" suara teguran dari belakang punggung mereka membuat jantung Raya berdetak hebat. Jangan sampai melihat Lani lagi amarahnya tersulut. Ini pertemuan pertama mereka setelah Raya keluar dari rumah itu.


"Lani, kau sudah datang," ucap Dika dengan santai. Dia tidak perlu menjaga perasaan Lani saat ini, karena toh Raya hanya menjenguk ibundanya yang tengah sakit. Diambilnya tas yang berisi pakaian gantinya dari tangan Lani.


"Kenapa? merasa terganggu? apa kalian ingin aku lebih lama lagi di rumah, hingga tidak bisa menangkap kelakuan bejat kalian ini? Eh kau, sadar tidak kau sudah dicerai, kau mantan istri Mas Dika. Jadi pahami, jangan dekati suamiku lagi. Dasar wanita gatal!"


"Lani! Jaga omongan mu!" Bentak Dika hampir mengangkat tangan ke wajah Lani.


"Mas belain dia? Mas mau balikan sama dia? Hah? jangan harap. Sampai mati pun aku tidak akan melepaskan mas Dika." Bola mata Lani sudah memerah, begitupun wajahnya. Amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun.


"Aku salah sudah melepaskan Raya. Aku akan jalani takdirku dengan mu. Aku tidak akan meninggalkan mu. Cukup kau berubah sikap!"


"Berubah sikap? seperti siapa? seperti jala*ng ini? yang masih berusaha merayumu meski sudah ditalak?"


Raya hanya tersenyum ke arah Lani. Wanita itu tetap saja jadi rubah betina. Begitu pun Dika, tetap jadi pria yang tidak punya hati dan prinsip. Pasangan yang cocok, pikir Raya. Satu langkah Raya mendekat ke depan Lani. Keduanya saling tatap, dan senyum Raya semakin melebar pada Lani.


"Bagaimana rasanya? kau takut, gelisah, khawatir suamimu direbut wanita lain? itu yang dulu aku rasakan. Aku pernah di posisi itu. Menyakitkan, bukan? Ingat Lani, karma itu ada. Dibayar tunai! Bersiaplah. Tapi kau tidak perlu mengkhawatir aku, karena aku tidak berniat mendaur ulang sampah!"


Tanpa berkata apapun lagi, Raya pergi, meninggal kedua manusia itu yang menatap tidak percaya kepadanya. Lani tidak menyangka kalau Raya akan berkata seperti itu padanya. Dika lebih terperanjat, kata-kata Raya begitu menusuk relung hatinya. Menganggapnya sampah, berarti akan sulit mengambil hati Raya kembali nantinya.


***


Perdebatan dan kalimat kasar dari Lani tadi membuat kepala Raya pusing. Berjalan sempoyongan menuju jalan raya, tempatnya akan menunggu taksi datang.


Tidak melihat kiri kanan, Raya hampir terserempet mobil yang baru saja meninggalkan area rumah sakit. Syok karena decitan ban mobil, Raya terjatuh, terduduk di tanah. "Woi, punya mata gak sih, Lo? jalan asal terobos aja!" Hardik pria yang sudah keluar dari mobil dan kini menatap tajam ke arah nya.


"Maaf, tapi kan situ juga harusnya lihat dong orang lagi jalan!" jawab Raya mengangkat wajah.


"Kau...?!"


"Kau...?!"


Pria itu menatap tajam punggung Raya yang menjauh. Ini pertemuan ketiga mereka. Ada yang bersarang dalam pikiran pria itu, tapi dia juga tidak mengerti.


***


Sebulan sudah Raya tinggal di ruko, dan mulai menjalankan usahanya dengan satu pegawai. Walau tidak enak hati, Raya tidak bisa menolak bantuan Dipa dan hal itu lah yang membuat keduanya semakin dekat.


"Nih, makan siang dulu. Kerja udah kayak kuda, gak ada hentinya," ucap Dipa yang siang itu kembali datang mengantar makan siang untuk Raya dan Nana, karyawannya.


"Makasih ya, Dip. Nih," Raya menyodorkan satu lembar uang merah pada Dipa.


"Apa nih?"


"Ganti duitmu lah."


"Lo buat gue tersinggung kalau gini."


"Aku gak enak sama mu, Dip. Terima aja lah."


"Gak. Gue gak mau. Udah. Gue malas. Harusnya semuanya dihitung dengan uang?"


Raut wajah Dipa tampak kesal dan Raya menyesal telah menyinggung perasaan Dipa. "Sorry kalau begitu. Makasih, ya." Raya memberikan senyum terbaiknya. Dia beruntung mengenal Dipa. Mungkin bisa dibilang, Dipa lah satu-satunya sahabat pria yang Raya punya selama ini.


"Dip, kau gak balik? Maaf kalau aku lancang, kau... gak kerja?" ragu-ragu Raya melepas pertanyaan itu. Pasalnya Dipa loyal sekali memberikan waktunya pada Raya. Hampir setiap hari Dipa menyempatkan datang ke laundry nya.


Kalau sudah begitu, Nana akan masuk ke dalam menebalkan riasannya untuk menarik perhatian Dipa. Pelanggan Raya yang juga sudah mulai banyak, suka bertanya pada Raya atau Nana mengenai sosok Dipa. Apakah hari ini datang ke laundry, lumayan lah untuk cuci mata.


Kebetulan di samping laundry nya juga ada toko roti dan juga warung kopi kekinian, tempat anak-anak muda nongkrong. Juga tidak jauh dari sana, ada perumahan elit, yang juga sudah mulai menjadi langganan tetap Raya. Jadi, selalu ramai dan membuat Raya bersyukur bisa membuka usaha di sana.


"Siang, Mas. Mau laundry?" sambut Nana melihat seorang pria tampan mengantarkan satu tas penuh.


"Apa kurang jelas?" ucapnya menatap sini dari balik kaca matanya.


"Maaf, Mas, namanya juga menyapa." Bibir Nana mengerucut. Dia penggemar pria tampan tapi tidak yang sombong seperti pria di depannya ini. Tanpa bicara, Nana mengecek barang pria itu yang ternyata hanya dua potong kemeja putih dan celana yang Nana kenali barang berkelas.


"Mbak, aku kesal sama pelanggan di depan, Mbak aja deh yang buat notanya," ucap Nana masuk menemui Raya.


"Maaf menunggu, saya buatkan notanya dulu ya, Mas," ucap Raya pada pria yang membelakanginya. Saat berbalik, mata Raya hampir mau keluar menatap wajah pria itu.


"Kau?"


"Kau lagi?" ucap keduanya serentak tanpa aba-aba.


***


Hayo, siapa yang ngelaundry? bagi hadiah dong 🙏😁 mampir ya