Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 37


Setelah mendapatkan keterangan dari Nana, Nani menyusun rencana, dan kali ini harus berhasil. Dia tahu orang yang tepat dan harus menyelesaikan masalah ini, dan semoga saja berhasil.


"Ada apa, Oma?" tanya suara dingin di seberang sana, yang sudah menjadi ciri khasnya.


"Segera ke rumah. Ada hal penting," jawabnya singkat.


"Iya, tapi ada apa?"


"Gak usah banyak tanya. Oma mau kau datang ke rumah, sekarang juga."


"Gak bisa gitu dong, Oma. Ini masih banyak kerjaan, aku har-"


"Oma gak mau tahu, datang sekarang juga atau kau gak usah bertemu Oma lagi sampai kapan pun!"


Sambungan telepon terputus, dan Elrick hanya bisa menatap layar ponselnya. Ingin sekali dia mengabaikan permintaan Omanya, tapi nanti akan susah mengambil hati wanita itu lagi. Bergegas ditutupnya layar laptopnya, menyambar jas yang tersampir di sandaran kursi dan berlalu pergi.


"Bapak mau keluar?" tanya Tasya sekretarisnya yang cantik molek yang sangat tergila-gila pada Elrick, tapi hanya bisa menyimpan dalam hati.


"Iya, batalkan schedule hari ini. Mungkin saya tidak akan kembali ke kantor lagi," terang Elrick dan berlalu pergi.


***


Setengah jam mondar-mandir di ruang tamu, baru Elrick tiba dihadapan Nani. "Apa kau tidak bisa lebih cepat lagi?" hardiknya mendelik tajam.


Wajah Elrick tercekat, dia bahkan hampir terbang karena mengendara dengan kecepatan tinggi, tapi neneknya justru mengatakan tidak bisa lebih cepat lagi. Hal penting apa hingga dia didesak untuk muncul dalam hitungan menit!


"Katakan ada apa, Oma? hal gawat apa hingga kedatanganku tidak bisa ditunda lagi?"


"Kumpulkan pakaianmu, kau akan segera berangkat ke desa Mekar untuk menjemput Raya!"


"Apa?!" Dari semua dugaan Elrick akan alasan neneknya memintanya datang, sama sekali tidak ada kaitannya dengan Raya, tapi kenyataannya justru kebalikannya.


"Iya, kau yang sudah membuatnya menangis terluka tempo hari, hingga dia memutuskan untuk pulang ke desa dan tidak ingin kembali ke Jakarta lagi!" ucap Oma sudah menyiapkan amunisi untuk pembahasan yang alot ini, karena dia sadar, tidak mudah memenangkan perkara ini, terlebih kalau lawannya adalah Elrick.


"Jangan bercanda, Oma. Jangan menyuruhku melakukan hal yang tidak masuk akal."


"Tidak masuk akal bagaimana? kau sudah melukai hati cucuku, sudah sewajarnya kau juga yang mengajaknya kembali."


"Oma, tolong berpikir jernih. Ini tidak mungkin. Lagi pula siapa dia? Hanya orang luar!" Nada suara Elrick sudah mulai meninggi. Baginya ini tidak masuk akal. Untuk apa mengurusi masalah Raya.


Apa katanya tadi? karena dialah yang sudah membuat Raya menangis? melukai perasaan wanita itu? Ck... dia memang pantas menerimanya! Wanita gatal seperti itu memang pantas menerima hal itu.


"El..."


Desakan Nani membuatnya tersadar kembali. "Aku gak mau, Oma. Kenapa tidak minta cucu Oma yang satu lagi pergi menjemputnya?"


"Aku pun sebenarnya lebih setuju Dipa yang menjemput, sekalian saja aku jodohkan mereka. Tapi karena saat ini Dipa lagi ada di Belanda, maka aku tidak punya pilihan lain selain mengutusmu. Ini mandatku, tanggung jawab mu, jadi harus kau patuhi!"


"Aku tetap tidak mau, Oma!" tegas Elrick. Datang ke desa itu membuatnya harus mengingat semua yang terjadi di masa lalu. Hal yang ingin dilupakan, tapi selalu mengganggu pikirannya.


***


Elrick mengalah. Penuh rasa dongkol dan kesal, Elrick pun berangkat. Dia tidak ingin mencari masalah dengan Nani.


Pukul tiga sore, Elrick tiba di desa Mekar. Tidak susah baginya untuk mencari desa Mekar karena dia pernah ke sini.


Hal pertama yang dia lakukan adalah mencari hotel untuk tempatnya beristirahat. Menyusuri jalan desa membawa kenangan tersendiri padanya.


Melintasi hotel tempatnya dulu menginap, membuat Elrick meminta supir taksi untuk berhenti. Seperti malam ini dia akan bernostalgia dengan kenangan itu.


Banyak yang berubah dari hotel itu. Selain desain hotel juga orang-orang yang bekerja di sana. "Selamat malam, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang resepsionis yang sejak melihat kedatangan Elrick begitu terpukau dan berharap bisa memberi kesan menarik pada Elrick.


"Saya pesan kamar. VIP..."


"Baik, sebentar saya periksa, tuan."


Setelah meminjam kartu tanda pengenal, resepsionis centil itu memberikan kunci dengan nomor kamar 321. Elrick mengamati sesaat kunci yang ada di tangannya, seolah menimbang sesuatu, dia berkata, "Mmm.. Apakah kamar 123 sudah ditempati?"


"Hah? Oh, sebentar saya cek." Kembali wanita itu tersenyum. "Belum tuan, mau dibooking sekalian untuk temannya?" tanya sang resepsionis tidak menyadari mengapa Elrick menanyakan kamar itu, seolah dia sudah sering saja menginap di sana.


"Boleh aku tukar dengan kamar itu?"


"Tapi yang saya berikan jauh lebih baik, tuan."


"Aku butuh kamar itu!" Suara Elrick yang tegas membuat sang resepsionis tidak mampu berkata apapun lagi.


Elrick berlalu tanpa senyum saat mengucapkan terima kasih pada wanita itu. Bergegas menuju kamar itu. Dia pasti sudah gila! Mengapa dia harus kembali ke kamar ini?! Dari sekian banyak kamar mengapa dia menginginkan tidur malam ini di sini?


Begitu pintu dibuka, sekelebat bayangan kejadian malam itu muncul kembali. Dia masih bisa mendengar ******* lemah gadis itu. Elrick bukan pemain baru, saat itu dia tahu kalau wanita yang dibawa untuknya saat itu berada dibawah pengaruh obat. Tapi karena malam itu dia sudah diujung, makanya dia tidak peduli. Bagaimana rupa gadis itu pun dia tidak tahu. Hanya suara erangan gadis itu terdengar begitu pelan saat Elrick sudah mulai bergoyang dalam tubuhnya.


Suasana gelap di dalam kamar itu membuatnya tidak mengenali siapa korbannya kala itu. Hanya satu yang dia ingat hingga saat ini, rasa gadis itu begitu nikmat, karena dialah yang pertama bagi gadis itu.


Dia ingat, hari itu seseorang yang juga bekerja di hotel ini, menemuinya. Menawarkan pelayanan ranjang dari gadis malam di desa itu.


"Aku ingin gadis yang masih pera*wan. Aku akan bayar tinggi!" ucap Elrick menolak setiap gadis yang ditawarkan pria itu.


Tidak berapa lama, pria itu menemui Elrick yang tengah berada di bar hotel. "Tuan, wanita yang anda inginkan sudah berada di kamar Anda, dan siap melayani tuan kapan pun yang Anda inginkan."


***


Hari sudah gelap saat Elrick terjaga. Diliriknya jam tangannya. Pukul tujuh malam. Perutnya lapar, hingga memutuskan untuk turun ke restoran hotel.


Di lobi hotel, langkahnya dicegat seorang pria yang masih jelas diingat Elrick. "Tuan, kita bertemu lagi. Aku pikir aku salah mengenali orang, ternyata benar, anda Tuan Diraja."


Elrick memicingkan mata. Mengamati pria itu dari atas hingga ke bawah. "Tuan butuh selimut tidur? biar saya bawakan," ucap pria itu tersenyum penuh makna. Berharap mendapatkan keuntungan besar dari Elrick malam ini.


"Kau tahu dimana gadis yang dulu bersamaku? Aku ingin dia!"