Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 44


"Lan, bangun... bangun Lani." Dika yang sudah berpakaian rapi, bersiap berangkat ke kantor, menggoyangkan tubuh Lani yang masih tidur dengan pulasnya. Matahari sudah mulai tinggi, sudah hampir pukul sembilan pagi.


Dika sudah terbiasa berangkat ke kantor tidak diantar istrinya hingga ke depan pagar rumah seperti yang dulu dilakukan Raya. Lani akan tidur dengan nyenyak tanpa mempedulikan Dika sudah sarapan apa belum sebelum berangkat, bahkan pakaian pun Dika yang siapkan sendiri.


"Lani... Lani... aku bilang, bangun!" Nada suara Dika semakin tinggi. Begitu kesal dengan melakukan istrinya.


"Apaan sih, Mas. Ganggu tidur aku aja!" Lani menggeliat, menepis tangan Dika dan kembali memeluk guling.


"Aku bilang bangun dulu!" Dika sudah habis kesabaran. Dia juga sudah terlambat ke kantor. Dengan kesal Dika membantu Lani duduk agar bisa dengan jelas mendengarkan omongan suaminya.


"Ada apa sih, Mas? ganggu aja!" Lani membenarkan rambutnya, menarik rambut yang membingkai wajahnya ke belakang telinga, walau matanya masih tertutup karena masih mengantuk.


"Mana uang berobat ibu?"


Bola mata Lani melebar, terbuka dengan sempurna. Semalam dia pulang larut, kecapean seharian bersenang-senang dengan Meyra dan teman-teman barunya hingga lupa mempersiapkan drama untuk menjawab hal yang satu ini.


"Mana uangnya Lani? Aku sudah terlambat ke kantor, mau sekalian bawa ibu berobat. Ibu harus kontrol dan juga cuci darah hari ini," ucap Dika hampir habis kesabaran.


"Mmm... itu... Mas, uangnya hilang," jawab Lani malas memikirkan alasan lain. Biarlah dia dimarahi, yang penting dia bisa gabung dengan teman-teman modelnya.


Biarin deh aku dimarahi, paling Mas Dika marahnya bentar, paling kalau ntar ngangkang juga dimaafin sama dia. Mana tahan sih dia sama goyangan ku...


"Apa katamu, hilang? jangan bercanda, Lan. Mana uangnya?"


"Beneran, Mas. Hilang. Aku juga gak tahu, aku taruh di tas tanganku, mungkin pas creambath di salon kemarin, karyawan salon atau pelanggan yang ngambil dari dalam tas. Aku juga shock waktu itu."


"Kau gila ya, ngapain uang berobat ibu kau bawa pergi? kan aku suruh simpan di lemari, sebelum aku setor sisanya sebagian ke rekening. Itu uang banyak, Lan. Dengan gampangnya kau bilang hilang?!" Bentak Dika semakin marah. Dia sudah tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap istrinya ini.


"Maafkan aku, Mas. Aku tahu aku salah. Lain kali, aku gak akan buat seperti itu lagi," ucap Lani turun dari ranjang dan memeluk Dika. Salah satu trik yang dianggapnya jitu untuk meluluhkan amarah Dika.


Mungkin selama ini berhasil, tapi tidak untuk kali ini. Muak dengan tingkah Lani, Dika pun melempar tubuh gadis itu ke atas ranjang. "Aku sudah muak denganmu! Ini adalah kesempatan terakhir mu untuk berubah kalau masih mau tetap bersamaku, kalau kau memang tidak bisa mengubah tabiatmu itu, aku akan menceraikanmu!"


Dika menghempaskan daun pintu dengan kasar. Wajah Lani pucat. Dia pasti salah dengar. Dika yang begitu jinak selama ini sudah berani buka mulut memarahinya, bahkan mengancam akan menceraikannya.


"Apa katanya? menceraikan ku?" desisnya setelah kembali dari keterkejutannya. "Gak, Mas Dika gak boleh menceraikanku. Aku gak mau jadi miskin lagi. Tapi kalau aku gak punya uang, Meyra, Bunga, Gisel, dan Luna gak akan mau berteman denganku. Aku harus apa? harus cari uang dimana?" umpat Lani kesal.


Dering ponselnya menghentikan monolognya. Telepon dari Gisel. Buru-buru dia atur napas dan juga membersihkan kerongkongannya.


"Iya, Sel?"


"Mmm... iya. Eh, Sel. Ada yang mau aku omongin sama kamu."


"Udah, kemari aja dulu, ntar kita obrolin."


***


"Udah mau dua Minggu loh kamu di sini, gak balik lagi apa ke Jakarta, Ray?" tanya Bu Wati, tetangga samping rumahnya, yang berlari menghampiri pagar rumah Raya saat melihat wanita itu baru kembali dari pasar.


"Oh iya, Bu. Masih betah di sini. Ngurus ayah," sahut Raya pendek. "Permisi, Bu."


"Eeeh... tunggu dulu. Memangnya suami kamu gak marah kamu tinggal begitu lama? nanti diambil orang,oh," lanjutnya mengejek. Raya tahu, basa-basi ini hanya untuk mempermalukannya. Masyarakat di desanya memang terkenal culas. Begitu senang mengurusi hidup orang lain. Hendak kembali pamit, tanpa menjawab pertanyaan Bu Wati, seorang wanita yang tadi ada di rumah Bu Wati pun mendekat.


"Ya elah, memangnya Bu Wati gak tahu kabar Raya terkini. Mana mungkin dia dimarahi suaminya, wong udah gak punya suami, alias dicerai alias sudah janda," ucap Munaroh dengan suara lantang disusul tawa mencemooh kedua orang itu.


Satu orang teman mereka yang lain ikut datang menghampiri. "Mungkin setelah dua tahun, Dika baru sadar, kalau dia sudah salah memperistri mantan pela*cur." Kali ini Markonah yang angkat bicara.


Mata Raya sudah panas, ingin menangis, tapi ditahannya. Dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan ibu-ibu yang tidak punya akhlak ini!


"Lagian, kau sendiri sih yang salah, udah beruntung, diperistri Dika, anak Bu Titin dan pak Bejo, juragan empang, malah banyak tingkah, ya diceraikan lah," lanjut Bu Wati.


Raya mengangkat wajahnya, menatap satu persatu wajah wanita berlidah culas itu. "Tampaknya ibu-ibu semua banyak mendapat berita yang tidak benar. Saran aku nih ya, Bu. Maaf sebelumnya, sebaiknya kalau mau berkomentar tentang hidup orang, kita sebaiknya introspeksi diri dulu, apa kita udah benar, apa anak kita sudah benar kelakuannya, apa kita sudah sempurna hidupnya. Saya memang memang sudah bercerai dengan Mas Dika, tapi bukan diceraikan karena aku kurang baik seperti pendapat ibu tadi, aku yang minta cerai, karena memegang prinsip sendiri. Dan tolong... tolong sekali, tarik kata-kata kalian, yang mengatakan aku pela*cur, atau aku akan melaporkan kalian atas tuduhan palsu dan tindakan tidak menyenangkan!" ucap Raya tegas, menatap tajam pada mereka.


Harga dirinya tidak boleh lagi diinjak-injak siapa pun. Dia akan melawan siapa saja yang coba menyakitinya. Raya melangkah masuk setelah menutup kembali pagar rumahnya.


"Ih, Raya kok gitu ya, Bu. Katanya mau melaporkan kita ke polisi. Aku gak mau ikut-ikutan lagi lah. Aku takut," ucap Markonah menatap Wati, karena penyerangan ini diprakarsai oleh dirinya.


"Loh, kok ibu cuci tangan. Tadi katanya berani, sekarang digertak begitu saja ibu sudah mundur," ucap Wati melirik kesal pada Markonah.


"Iya, saya juga gak mau ikutan lagi ngulik hidup Raya. Saya tobat. Gimana kalau dia sampai ngatain anak saya yang sudah janda dia kali? udah ah, saya mau balik aja, pulang mau masak," ujar Munaroh meninggalkan Wati begitu saja.


*


*


*


Suka sebal lihat mak-mak rempong emang ya... minta gift dong, biar up lagi aku😁🙏