Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 81


Bagas tahu apa yang harus dia lakukan untuk menyenangkan hati bosnya. Elrick sudah terlalu pusing memikirkan cara mendekati keluarga Raya agar bisa menerimanya lagi. Jadi urusan memberikan pelajaran pada Meyra dan teman-temannya rubah nya, biarlah Bagas yang turun tangan.


Langkah awal yang menjadi pembalasan, Meyra harus mendekam di penjara karena bisnis bodong yang dia lakukan bersama ketiga teman-temannya. Tidak sampai di situ, video asusila yang dulu sempat terendus awak media, kita tersebar di seluruh media massa dan elektronik yang ada di negeri ini.


Bahkan Gisel, bunga dan Luna yang memiliki video asusila di situs dewasa, diboikot oleh semua agensi model yang ada. Lani? wanita itu harus mendekam dibalik jeruji karena tersangkut produksi video por*no.


Bagi Elrick, cukup untuk menghukum mereka saat ini. Setidaknya jika mereka berada di tahanan, tidak akan mengganggu Raya.


***


Darma benar-benar marah. Sehari sebelum pulang ke desa, Nani sudah berupaya untuk bertemu dengan Raya, tapi Darma melarang tegas. "Maaf, Bu Nani, dia tidak bisa diganggu," ucap Darma tegas.


Alhasil, Raya pergi ke desa tidak pamit dengan keluarga Diraja.


Sudah sebulan Raya di desa, menutup diri dan tidak berkata apa-apa ke orang sekitarnya, hanya diam dan melakukan aktifitas rumah tangga, memasak masakan untuk Darma tanpa berniat untuk mencicipinya. Raya bukan sengaja mogok makan, namun memang tidak berselera makan.


"Makan lah sedikit, lihat badanmu sudah sangat kurus," ucap Darma memohon, menarik tangan Raya agar berhenti. Dia merasa sangat khawatir dengan keadaan putrinya.


Ini semua salah pria brengsek itu, hingga membuat Raya seperti mayat hidup seperti ini.


"Aku gak lapar, ayah. Aku ke pasar dulu," ucap Raya murung. Darma tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menuruti kemauan Raya, melepaskan tangan gadis itu.


***


Hal yang paling dihindari Raya selama di desa ini, adalah kegiatan belanja ke pasar, karena di sini, dia akan menjadi pusat perhatian dan juga bahan gunjingan oleh ibu-ibu warga kampung.


"Belanja, Ray...," ucap Markonah memulai misinya kala melihat Raya muncul.


"Iya, Bu." Raya hanya mengurai seulas senyum, demi sebuah kesopanan. Dia bukan tidak tahu apa tujuan Markonah menyapanya.


"Kau sudah ada di sini? Kenapa kembali ke desa?" Kali ini Marfuah yang nimbrung. Ibu-ibu di desanya, terlebih di dekat rumah dan sekitarnya memang terkenal bar-bar dan tukang gosip.


Raya hanya mengangguk sembari tersenyum. Dia tidak ingin memperpanjang pembicaraan dengan mereka. Segera pamit membeli beberapa jenis sayuran dan ikan, sebelum pulang ke rumah.


Dia tahu dibelakangnya, wanita-wanita kurang kerjaan dan biang gosip itu masih terus membicarakan dirinya.


"Kenapa wajahmu cemberut? ada apa?" tanya Darma yang baru akan pergi ke kebun.


"Gak ada ayah. Aku masuk dulu. Ayah mau ke sawah?"


"Iya. Kenapa lama ke pasar? apa ibu-ibu penggosip itu masih suka menyusahkan mu?"


Raya menengadah memandang ayahnya. Dari mana dia tahu kalau Raya sering diejek dan juga nyinyir padanya. "Gak kok, Yah. Tadi dijalan macet, katanya pemilik hotel yang akan dibangun di dekat simpang empat itu datang, jadi semua heboh menyambut kedatangannya."


"Bagus lah, ada investor yang mau menanam uangnya di desa ini, hingga bisa menyerap banyak tenaga kerja."


Sakit hati dan kecewanya semakin besar pada pria itu. Jauh di lubuk hati Raya, dia pikir pria itu akan datang menyampaikan penyesalan, tapi ternyata sampai sebulan berlalu tidak ada kabar berita.


Di Minggu pertama bahkan sampai Minggu ketiga, setiap malam, Raya selalu menghabiskan malamnya dengan tangisan hingga lelah tertidur. Tidak ada lagi senyum di wajah cantiknya.


Melihat kondisi putrinya seperti itu, Darma semakin membenci Elrick dan bersumpah tidak akan memaafkan pria itu.


***


Raya baru selesai mandi, berniat merapikan lemarinya ketika ketukan di pintu didengarnya.


Ayahnya baru saja pergi ke warung kopi bi Ice, jadi tidak mungkin ayahnya yang pulang, karena ini masih terlalu sore.


Daun pintu terbuka, dan saat itu juga sekujur tubuh Raya menggigil. Bukan karena udara yang dingin, tapi karena sosok yang berada di depannya. Buru-buru dia menarik kembali daun pintu untuk menutupnya, tapi pria yang tidak ingin dia temui itu, ( walau selalu dia rindukan) menahan dengan tangannya hingga terjepit dan berpura-pura mengaduh.


"Aduh, Ray... sakit..." ucapnya mulai melakoni perannya.


Refleks Raya kembali membuka pintu, dan mengamati tangan Elrick yang memegang pintu dengan penuh rasa khawatir.


"Lepaskan pintunya!"


"Gak mau. Nanti kau pasti akan menutupnya kan. Aku mau masuk," ucapnya mendorong tubuh Raya yang segera mundur dan menyingkirkan tangan pria itu dari tangannya.


"Anda tidak diterima di sini. Segera pergi dari sini!" ucapnya marah. Seenaknya saja datang tanpa beban setelah sebulan lebih tidak ada kabar, setelah meninggalkannya di pelaminan.


"Ck... seram banget. Ray, aku rindu..." ucapnya maju ke arah Raya, ingin memeluk wanita itu.


Bola mata Raya melotot. Enak benar pria itu mengatakan rindu padanya. Apa dia tidak tahu bagaimana hancurnya perasaannya saat ini. Bola mata Raya mulai mengenang, namun sebisa mungkin ditahannya untuk tidak jatuh turun.


"Ray, aku ingin kita bicara. Aku mohon..."


"Lepaskan! Gak ada yang perlu kita bicarakan lagi," ucap Raya menepis uluran tangan Elrick. Tapi pria itu tidak mau menyerah, terus maju hingga Raya terpojok ke dinding. "Kau mau apa?"


"Mau dirimu, kau tahu betul akan hal itu," ucap Elrick menggoda Raya sembari tersenyum.


"Gak lucu. Kau pikir, kau bisa mempermainkan ku lagi. Kau memang orang kaya yang tidak pernah bisa menghargai orang lain. Aku hanya kau jadikan mainan mu, dan..."


Elrick menutup bibir Raya dengan satu ciuman di bibir, hanya sekilas dan mampu membuat Raya kehilangan kata-kata. Elrick tahu, dia seharusnya lebih dulu mendapatkan maaf dari gadis itu baru setelah menyentuh gadis itu karena luapan rindunya. Tapi tidak ada jalan lain selain mengecup bibir merah itu agar pemiliknya diam.


Elrick menarik tangan Raya, duduk di kursi yang ada didekat mereka. "Aku akan biarkan kau memakiku, memarahiku bahkan mengusirku, tapi aku mohon kau dengarkan penjelasan ku lebih dulu. Aku tahu aku salah, ini sudah terlalu lama untuk muncul, tapi aku punya alasan yang semoga bisa kau mengerti," ucapnya lembut.


Pria itu mengajak Raya duduk di dekatnya, tapi gadis itu memilih untuk duduk di seberang saja. Dia perlu menyelamatkan jantungnya dari pesona pria tampan yang dirindukannya itu.