Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 49


Elrick sudah yakin kini, kalau gadis bernama Lani itu adalah gadis yang sama dengan wanita yang sudah membantu Betty menjual Raya. Elrick begitu geram, gak tahu mengapa saat melihat Lani, dia ingin sekali mencekik leher wanita itu yang sudah berbuat jahat pada Raya.


Tidak tahu mengapa, mungkin sejak dia tahu kalau dia lah yang sudah merenggut kesucian Raya, tumbuh perasaan dalam hati Elrick untuk selalu melindungi gadis itu. Bahkan dalam hati, tertanam untuk membalaskan dendam Raya.


"Beb, kok kamu diam aja? mikirin apa? gak usah mikirin aku, aku kan ada di sini," ucap Meyra berlagak manja.


"Mmm... Mey, itu Lani lo kenal dimana?" tanya Elrick mulai masuk dalam interogasi. Dia harus tenang, agar Meyra tidak curiga kalau Elrick mengenal gadis itu.


Tapi otaknya Meyra hanya terbentur pada kecurigaan Elrick menyukai Lani, dan itu buatnya kesal. "Besok gue bakal melabrak si Lani. Awas aja kalau sampai dia menerima ajakan Elrick berkencan!" batinnya dalam hati. Ketakutan sudah muncul di wajah. Bagaimana mungkin dia yang primadona dikalahkan Lani, si gadis udik yang baru mengenal dunia para model.


"Kenal di salon. Kenapa sih Mas tanya dia? Dia perempuan gak benar. Bayangkan aja, dia masih punya suami, tapi malah jualan, simpanan om Broto, pemilik stasiun televisi BCTI," ucap Meyra membongkar kebusukan Lani, berharap hal itu akan buat Elrick menjadi tidak tertarik dan merasa jijik pada Lani.


"Punya suami?" susul Elrick semakin penasaran.


"Iya, Beb. Dia emang gak tahu malu gitu. Tahu gak, suaminya yang sekarang kan, suami sahabatnya sendiri, dirayu sampai si istri minta cerai. Bisa dibilang, Lani ini pelakor. Menjerat suami sahabatnya dengan hasratnya." Meyra semakin gembira melihat ekspresi Elrick yang percaya dan manggut-manggut mengerti.


Kini semakin jelas, Elrick menduga kalau Lani juga lah penyebab Raya bercerai dengan suaminya. Pria terkutuk itu sudah selingkuh dan meminta menikah lagi, hingga Raya meminta cerai. Tapi baguslah kalau mereka pisah, pria jahat seperti itu tidak pantas untuk Raya.


***


Tebakan Titin meleset. Kali ini bukan jam 11, tapi jam 12 malam baru Lani tiba di rumah. Dika sudah menunggu dengan amarah yang siap dimuntahkan.


"Mas belum tidur?" tanya Lani memasuki rumah. Dika sengaja tidak mengunci pintu, agar Lani tahu kalau dia memang sedang menunggu wanita itu.


"Kau masih punya malu untuk pulang? Kau itu punya otak gak sih? suami sakit dan kau malah kelayapan gak jelas dan pulang hampir pagi seperti ini? mau kau apa sih, Lan?" Dika sudah tidak bisa mengontrol amarahnya. Dia memang sudah pasrah. Dia menyerah, jika memang Lani tidak mau meninggalkan gaya hidup dan pergaulan malamnya, lebih mereka berpisah saja.


"Apa-apaan sih, kau mas? masa aku gabung sama teman-temanku gak boleh sih? aku juga butuh udara segar. Gak melulu harus di rumah aja."


"Tapi kau harusnya tahu batasan waktumu. Kau bukan anak gadis lagi, kau sudah menikah, harusnya kau sadar!"


"Ah sudahlah, Mas. Aku capek." Lani berlalu masuk ke dalam kamar. Namun, baru melangkah, tangannya sudah ditarik oleh Dika.


"Aku belum selesai ngomong. Tolong kau hargai. Aku belum selesai bicara. Dengar Lani, kalau kau ingin rumah tangga kita bertahan, kau harus meninggalkan teman-teman mu dan juga gaya hidupnya yang terlalu berlebihan. Aku lagi susah, Lan. Banyak proyekku yang dibatalkan dan dialihkan pada yang lain. Tolong mengerti aku," ucap Dika menggenggam tangan Lani.


Reaksi Lani tentu saja berbeda. Dia terkejut. Tidak menyangka kalau saat ini keadaan Dika sangat menyedihkan. Selama ini suaminya itu tidak pernah mengatakan apapun perihal masalah pekerjaan.


"Iya, Mas. Aku akan coba berubah," ucapnya menunduk. Ada kalanya dia memang ingin mengurus rumah tangganya. Sejak menikah dengan Dika, Lani sudah berkecukupan. Sejak dipercayakan pegang ATM, Lani jadi kalap melihat banyaknya uang Dika di dalam sana, hingga tergoda untuk membeli barang-barang branded yang bahkan tidak terlalu dia butuhkan.


Ditambah lagi, setelah mengenal Meyra dan teman-temannya, matanya semakin terbuka, menyadari kalau hidup itu begitu indah untuk dinikmati asal punya banyak uang.


"Besok, ibu pulang ke desa," ucap Dika yang masih bersimbah keringat sehabis main kuda-kudaan dengan Lani. Mengalami hal yang sama, Lani yang dibalik selimutnya tidak mengenakan sehelai benangpun, merebahkan kepalanya di dada telan*jang Dika. Permainan mereka begitu dahsyat hingga Lani berkali-kali keluar.


Lani memang gadis yang punya bira*hi tinggi. Padahal siang hingga sore harinya dia sudah bermain beberapa ronde dengan om Broto, tapi masih punya stamina yang kuat untuk melayani Dika.


Mengingat om Broto, Lani pun tersenyum manis, karena ingatan itu membawanya mengingat isi tabungannya. Om Broto pria hidung belang yang sudah tidak bertenaga lagi. Tidak tahan lama, bahkan menuju impo*ten. Lani tentu saja tidak mendapatkan kepuasan dari Om Broto. Tapi ada baiknya juga menurut Lani, dia tidak perlu lagi menguras keringat, berlama-lama bermain dengannya.


"Lan, kau dengarkan?" ulang Dika lembut. Mencium puncak kelapa Lani.


"Dengar Mas. Maaf ya, Mas, kalau aku gak bisa akur sama ibu. Aku tuh gak benci ibu, cuma ya gitu, dari awal ibumu memang gak suka sama aku," ucap Lani mencium dada Dika, bahkan lidahnya bermain di sekeliling pu*ting Dika hingga buat pria itu menggelinjang hingga memejamkan mata.


"Iya, Mas tahu, kau tidak bermaksud seperti itu. Jadi demi kebaikan kita bersama, ibu pulang ke desa. Mas akan mengantar ibu pulang, kau gak papa kan Mas tinggal beberapa hari?"


Lani berpikir. Baru saja dia janji mau berubah, tapi kini justru Dika yang memberinya kesempatan untuk menjadi liar lagi. Sudah bisa dia bayangkan, berapa yang akan dikirim Om Broto, jika selama kepergian Dika, dia menemani pria itu.


"Iya, Mas, gak papa. Lagi pula gak mungkin kan ibu pulang sendiri. Aku ingin sekali ikut pulang, tapi Mas tahu sendiri status aku dan ibuku di kampung itu. Maaf ya, Mas..." Lani menatap wajah Dika, membelai rambut yang jatuh di kening pria itu.


"Iya, Gak papa. Justru mas yang merasa tidak enak hati padamu, harus meninggalkanmu sendiri di rumah."


"Aku bisa jaga diri baik-baik. Mas gak usah khawatirkan aku. Sekarang, karena mas mau pergi besok, kasih aku jatah, biar gak terlalu kangen saat Mas berada di kampung," ucapnya mencengkeram senjata Dika yang sejak tadi dia belai dan kini mengacung tegak, siap membelah miliknya.


*


*


*


Hari ini aku bakal crazy up hingga 10 bab, jadi please biar aku semangat, kasih hadiahnya lagi...