Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 72


Sudah 20 menit mobil mewah milik Elrick berhenti di depan laundry, dan kedua anak manusia itu masih berada di dalam.


"Sudah dong, jangan nangis lagi," ucap Elrick lembut, yang kini menghadap ke arah Raya. Sepanjang jalan, gadis itu masih melanjutkan tangisnya.


Elrick takut, kalau gadis itu terus menangis, maka akan jatuh sakit, dan dia tidak mau hal terjadi. Elrick tidak menyangka kalau dia akan tahan menghadapi gadis cengeng itu. Selama ini dia sangat benci dan tidak peduli dengan air mata wanita yang pernah berkencan dengannya, tapi berbeda dengan Raya. Air mata gadis itu terlalu berharga.


Apa lagi alasan gadis itu menangis karena merasa sedih melihat dirinya yang hingga saat ini masih tidak dianggap anak oleh ibunya.


"Diam, dong Ray. Apa gak capek nangis terus? wajahmu udah jelek makin gak enak dipandang," ucapnya dengan tersenyum, berharap gadis itu akan tertawa dan tangisnya berhenti.


Raya menengadah, menatap ke arah Elrick. Wajahnya bahkan sudah penuh dengan lelehan air mata. Elrick menarik beberapa helai tisu dari kotaknya yang ada di dasboard lalu menghapus air mata Raya.


"Mas Elrick yang kuat, ya. Mas Elrick bukan anak terkutuk. Mas Elrick adalah pria yang baik, dan aku bisa menjadi saksi bagi Bu Silvira kalau mas Elrick anak yang sangat membanggakan," tutur Raya. Elrick yang diam sembari menatap gadis itu.


Hidungnya saja sudah memerah begitu pun matanya bengkak karena menangis. Perasaan sedih Raya sangat nyata, dia seolah bisa merasakan apa yang dirasakan Elrick saat ini.


Kondisi kejiwaan Silvira saat ini tidak memungkinkan untuk menjelaskan hal itu padanya. Seberapa keras pun Raya akan menjelaskannya. Bagi gadis itu, Saat Elrick membawanya melihat hal paling pribadi dan sensitif dalam hidupnya, terlebih hal yang mungkin bisa disebut aib, maka Raya menganggap kalau Elrick sangat mempercayai dirinya, dan dia janji akan menjaga kepercayaan Elrick.


"Mas Elrick, kalau pun seluruh dunia bilang mas Elrick gak baik, sombong dan juga arogan bagi aku, mas Elrick pria yang paling baik yang pernah aku kenal," ucapnya dengan air mata yang menetes lagi. Dia ingat, dibalik sikap dingin Elrick, pria itu sudah beberapa kali menolongnya.


Elrick menatap dalam wajah sendu yang penuh ketulusan itu. Hatinya bahagia atas apa yang didengar, sekaligus dihinggapi rasa takut.


Ketakutan Elrick berubah menjadi mimpi buruk. Bagaimana kalau Raya sampai tahu bahwa dia lah pria yang sudah merenggut kesuciannya? apa penilaiannya saat ini terhadap Elrick akan tetap sama?


Dia tidak yakin hal itu. Rasa cuek yang dulu dia tunjukkan pada gadis itu berubah menjadi rasa peduli, bahkan ingin memiliki. Dan bertambahnya hari semakin kuat. Elrick begitu sesak bernafas jika terjadi hal buruk pada Raya seperti yang pernah dilakukan Meyra.


Tapi sampai kapan Elrick mampu menutupi semua itu dari Raya? Dia juga ingin membangun hubungan dengan gadis itu dengan landasan kejujuran.


Elrick takut, itu sudah pasti. Hal yang paling dipertaruhkan kala dia harus jujur perihal malam itu adalah dengan kehilangan hubungan mereka saat ini. Raya pasti akan sangat membencinya, dan pastinya akan meninggalkan setelah tahu kebenarannya.


Diliputi kebimbangan harus jujur atau tidak, yang saat ini Elrick lakukan mengulurkan tangannya. Mengelus pipi Raya yang masih terasa lembab karena bekas air mata.


Aku terlalu takut kehilanganmu, Ray. Tapi aku juga tidak ingin menjadi pria brengsek yang menutupi kebenaran asal bisa bersamamu... Ray, apa yang harus aku lakukan? apakah kalau hari dimana kau tahu kebenarannya, Kau masih bisa memaafkanku?


Perlahan jemari Elrick turun ke bibirnya. Dengan jempolnya mengusap lembut permukaan bibir Raya.


"Mas Elrick...," bisik Raya dengar debar jantung yang berdetak cepat. Jantungnya bermasalah lagi tampaknya.


Penuh kelembutan lidah Elrick memaksa untuk masuk ke dalam mulutnya, mencercap rasa manis yang penuh damba. Elrick sudah terjerat akan pesona, kebaikan hati dan juga kepolosan Raya.


Raya mungkin sudah pernah menikah. Tapi bagaimana membalas gairah seorang pria walau hanya sekedar ciuman, Raya tidak punya pengetahuan banyak. Saat bersama Dika, sejujurnya Raya tidak nyaman untuk ciuman apalagi haru memainkan lidahnya.


Dan saat ini, kenapa dia justru diam, tidak menarik diri, seperti kala dicumbu oleh Dika. Otaknya mengatakan dia harus menarik diri saat itu juga, terlebih mengingat Elrick bukan siapa-siapa nya, tapi yang tidak dia mengerti hatinya ingin terus menikmati saat ini. Ada bersama Elrick.


Tidak perlu waktu lama bagi Elrick untuk memercikkan api gairah pada Raya. Kini gadis itu sudah membuka mulutnya dengan suka rela. Instingnya menggerakkan bibirnya untuk membalas ciuman Elrick walau masih kaku dan malu-malu.


Sementara Elrick yang kini bersuka cita karena sudah mendapatkan persetujuan dari Raya, mulai bertingkah liar namun masih tetap dengan kelembutan. Dia tidak ingin apa yang dia lakukan membuat Raya terkejut dan ketakutan.


Elrick terus mencercap, perlahan bayangan kejadian malam itu melintas di benaknya. Saat itu dia jelas mengingat ******* tertahan dari Raya. Dibawah pengaruh obat, ditambah ruangan yang sudah gelap, membuat Elrick begitu bersemangat mencumbu tubuh Raya.


Dia harus menghentikan kegiatan nikmat mereka. Sesuatu di bawah sana sudah meronta ingin dilepaskan. Kalau keinginan tubuh Elrick yang dia ikuti, pasti saat ini tangan Raya sudah dia tarik untuk membelai juniornya.


Raya menatap dengan sendu setelah ciuman itu diurai Elrick. Tatapan tidak mengerti dari mata Raya yang telah dipenuhi kabut gairah membuat Elrick semakin terpesona pada Raya.


Namun dalam pikiran Raya, dia sudah gagal dan tampak bodoh, sehingga Elrick menyudahi ciuman mereka. Dia rendah diri, karena tahu kalau pengalamannya tentang ciuman sangat minim. Sudah sewajarnya Elrick tidak menyukainya. Sialnya, Raya masih ingin merasakan bibir Elrick bermain di bibirnya. Beban pikiran Raya seolah bisa diketahui oleh Elrick.


"Maaf, karena aku sudah menciummu. Aku tidak bisa menahan diri. Aku melepaskan ciuman itu, bukan karena kau tidak menggairahkan atau pun tidak mampu membuat ku meradang, tapi karena aku takut tidak bisa menguasai diri, dan menuntut lebih banyak lagi. Percayalah, kau sempurna."


Raya memahami perkataan Elrick. Ada rasa malu menghinggapi dirinya. Rasa tidak percaya diri yang sempat hinggap tadi kini berubah menjadi rasa lega. Senyum malu kini samar terlihat di bibirnya.


Lamunannya tersentak kala Elrick menggenggam tangannya. Raya mengangkat kepalanya, karena sentuhan itu seperti setrum yang menggetarkan hatinya.


"Menikah lah dengan ku, Ray...."


*


*


*


Hai, hari ini aku mau kasih 3 bab, kasih hadiah dong, biar aku semangat 🙏☺️