Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 8


Pipi Sidney memerah di kedua sisi. Dia begitu malu karena saat ini Paris menatapnya begitu intens. Debar jantungnya pasti sudah bisa didengar pria itu.


"Lo... itu..." Ucapnya gugup. Hatinya masih bisa berdebat apakah ucapan Paris benar-benar atau hanya ingin menggodanya.


Baru akan menjawab, Scot muncul dengan topi koboi nya. "Sid, kita ke mekdi, yuk."


Spontan kedua orang itu merubah posisi. Gelagapan menentukan sikap. "Kalian sedang apa?" lanjut Scot yang sempat menangkap kedekatan kedua orang itu.


Paris tidak mau menjawab, memilih untuk pergi dari sana. Kini pandangan mengintimidasi Scot tertuju pada satu-satunya makhluk hidup yang ada di ruangan itu. "Lo jelaskan. Lo ingat peraturannya, kan? Jangan sampai lo gue blacklist ya!"


"Apaan sih lo, Nyet," ucap Sidney menghindar. Dia bangkit dari duduknya, namun Scot langsung mendorong gadis itu untuk duduk kembali.


"Jelasin sama gue!"


"Itu Paris cuma ngancam gue. Bilang kita gak boleh ngomong sama om dan Tante perihal dia yang berkelahi lagi hari ini. Kalau sampai gue bocorin, katanya gue bakal diikat di pohon ceri, yang ada di belakang rumah." Wajah Sidney dibuatnya sangat menderita dan tertekan. Scot tidak sampai hati, menarik tangan Sidney untuk berdiri lalu memeluknya.


"Duh, kasihan sobat gue. Sini," ucap Scot memeluk Sidney. "Kalau sampai gue tahu lo bohong, gue hajar, Lo!"


***


Tita berulang kali mematut wajah dan penampilannya di cermin. Dia takut kalau penampilannya hari ini dinilai sangat berlebih, hanya karena akan bertemu orang tua siswa.


Dia hanya jaga-jaga saja, siapa tahu yang datang hari ini bukan orang tua Paris tapi Omnya. Eh, memangnya kenapa kalau om nya?


Begitu melihat sosok Dipa memasuki ruangan, Tita seperti kena serangan jantung. Gugup hingga ingin pingsan.


"Selamat pagi, Miss Tita," Sapa Dipa mempersembahkan senyumnya yang paling manis. Wajahnya tampak semakin tampan dengan senyum yang selalu mengembang di bibirnya.


"Pagi, Pak. Silakan duduk. Apa orang tua Paris tidak bisa hadir lagi?"


"Memangnya kalau saya yang datang, Miss keberatan?"


Wajah Tita bersemu merah. Buru-buru segera menggelengkan kepalanya.


Diskusi 20 menit terasa satu abad bagi Tita. Bukan fokus pada Paris, Dipa justru menyudutkannya dengan pertanyaan menjurus ke hal pribadi.


"Baiklah. Saya pamit dulu. Nanti akan saya nasehati anak itu. Tapi seperti yang saya katakan tadi, itu hanya gelora remaja, nanti juga akan sadar," ucapnya menutup pertemuan.


Tiba di dalam mobil, Dipa kembali menghubungi Paris. "Jam berapa bubar sekolah?"


"Jam tiga sore, Bro. Memangnya ada apa?"


"Jangan kelayapan, segera pulang!"


***


Tujuan Dipa tentu saja bukan karena mengkhawatirkan Paris, takut berkeliaran sehabis pulang sekolah, tapi karena punya tujuan lain.


Kurang dari jam tiga sore, mobil Dipa sudah parkir di depan pintu gerbang utama. Dari sana dia mengintai mangsanya.


Saat melihat orang yang dia tunggu sejak tadi keluar, Dipa langsung keluar dari mobil, menghampiri Tita yang tentu saja terkejut akan kehadiran Dipa di sekolah itu lagi.


"Bapak balik lagi, ada apa?"


"Ada yang ingin aku bicarakan. Ikut sebentar, yuk."


"Sebentar aja. Please."


Tita ingin kembali menolak, tapi beberapa pasang mata dari siswanya menatap mereka hingga Tita tidak punya pilihan lain mengikuti kemauan Dipa.


Dalam mobil, kedua anak manusia itu seolah kehabisan kata. Diam hingga mobil itu berbelok ke salah satu cafe di Kemang.


"Kita ngapain ke sini?" tanya Tita merasa tidak enak. Bagiamana kalau ada yang melihat mereka?


"Sebentar saja. Kita makan siang dulu, please," ucap Dipa memohon. Dia kaku, tidak jago dengan urusan mendekati seorang wanita. Tapi jika ada wanita yang mendekati dirinya yang notabene tidak dia suka, justru dia yang akan menjauh.


Tatapan lembut Dipa menghangatkan hati Tita. Dia pun mengangguk dan mengikuti langkah pemuda itu masuk menuju cafe itu.


Banyak jenis makanan yang Dipa pesan, karena Tita menolak untuk memesan, alasannya karena dia sudah makan siang.


"Kamu gak kasihan sama aku? Ini sudah tiga setengah jam telat dari jam makan siang, hanya untuk menunggumu pulang, dan bisa makan siang bareng kamu." Dipa melayangkan tatapan matanya pada Tita yang berhasil buat gadis itu salah tingkah.


Kembali Tita menurut, akhirnya piring steak yang sudah dipotong terlebih dahulu oleh Dipa dia sentuh. Tita begitu tersentuh melihat perhatian Dipa yang sampai mengiris steik untuknya sebelum menyodorkan piring itu ke hadapannya.


"Terima kasih."


"Kembali kasih," sahut Dipa tersenyum. "Kamu suka makanannya?"


Tita hanya mengangguk, lalu kembali keduanya diam. Dipa mengutuk dirinya yang saat seperti ini justru kehilangan kata-kata. "Kenapa makan siang terlalu lama? Jaga kesehatan, nanti bisa sakit mag," ucap Tita mengimbangi obrolan.


"Aku kan udah bilang tadi, mau nungguin kamu pulang, biar bisa makan siang bareng."


"Kenapa kamu lakukan itu?" Susul Tita. Mereka tidak punya hubungan spesial, lantas mengapa harus menunggunya pulang dan mengajak makan siang?


"Karena aku menyukaimu. Aku gak tahu caranya mendekatimu, jadi inilah cara yang aku tahu untuk memulai," sahut Dipa jujur, bahkan pria itu mengatakan hal itu sembari menatap lekat wajah Tita.


"Aku gak suka bercandaan seperti itu. Aku harap bapak jangan bicara seperti itu lagi," ucap Tita setelah sekian lama diam. Dia perlu mengambil waktu untuk menenangkan dirinya sebelum menjawab ucapan Dipa. Apa pria itu tidak tahu kalau jantungnya hampir copot mendengar ucapan pria itu?


Dipa meletakkan pisau dan juga garpunya. Mendorong kursi ke belakang, lalu mengambil tempat duduk di sebelah Tita.


Menopang kepala dengan tangannya hingga bisa santai menatap wajah cantik yang kini memerah itu. "Dengar, aku sama sekali tidak bercanda. Dan benar adanya, aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Apakah aku salah menyukaimu. Aku sudah mencari informasi dari Sidney, kau belum menikah, jadi apa aku salah mendekatimu?"


"Salah," Jawab Tita tegas.


"Alasannya? kau sudah punya pacar? Kau sudah punya calon suami? kalau itu alasanmu, perlu kau ketahui aku tidak peduli. Sebelum kau sah menjadi istri pria lain, maka jangan harap aku akan berhenti mendekatimu!"


Suara Dipa tegas, tidak ada kebohongan dalam ucapannya itu. Hanya saja Tita tidak mungkin menerima cinta pria itu.


"Katakan padaku, apa kau tidak menyukaiku?"


Tita menggeleng. Di bawah tatapan mata Dipa yang tajam, jangankan untuk bersuara, untuk bernapas saja dia sulit.


"Benarkah?"


Wajah Dipa kembali mendekat, gadis itu tidak mengelak. Debaran jantungnya begitu mengganggu. Harusnya dia mundur, menjauh dari godaan pria itu, tapi mengapa hatinya justru ingin tetap di dekat Dipa?


Tita tidak ingin menjadi wanita yang munafik, dia menyukai Dipa. Sama halnya dengan pria itu, dia sudah menyukai sejak pertama kali mereka bertemu, lalu dilanjut dengan obrolan singkat di telepon. Tapi apa gunanya semua itu kalau mereka tidak bisa bersama?