
Tidak bisa dielakkan lagi, Paris akhirnya disidang dan Elrick harus menghadap kepala sekolah.
Orang tua Cindy dan kelima siswa lainnya pun ikut dipanggil dan menghadap kepala sekolah.
"Pokonya saya gak terima, anak badung ini harus dikasih pelajaran. Dia harus dikeluarkan dari sekolah ini dan saya menuntut ganti rugi," ucap pria gendut yang diketahui adalah ayah Cindy.
Elrick yang sejak tadi mendengarkan ocehan para orang tua silih berganti, hanya bisa diam. Dia membiarkan mereka mengeluarkan taringnya dulu, ingin melihat sejauh mana mereka bisa bercuap-cuap.
"Iya, saya minta dia dilaporkan saja ke polisi. Lihat anak saya, kukunya rusak, kulit tangannya apalagi, rusak karena direndam dengan air cabe. Ini sudah termasuk tindak kriminalitas!"
"Iya, benar..."
"Iya benar..."
Ruangan kepala sekolah berubah menjadi pasar, gaduh oleh suara yang memekakkan telinga.
"Sabar bapak ibu, kita dengarkan dulu pendapat tuan Diraja."
Elrick mendengus, bosan sekaligus muak dengan drama di ruangan itu. Dia menganggap para orang tua yang sejak tadi berkoar hanya ingin menuntut ganti rugi dalam jumlah yang besar. Dia tidak masalah akan hal itu kalau saja kelakuan anak mereka benar. Elrick hanya mendengar dari versi mereka, tapi walau begitu dia kenal Paris, anaknya itu tidak mungkin menghukum orang lain jika tidak diganggu.
Ibarat kata, dia tidak mungkin menggigit kalau tidak disenggol. "Saya ingin anak-anak itu dipanggil ke sini. Sejak tadi hanya para orang tua yang bicara, padahal pelaku dan korban tidak ada di sini!"
Tekanan suara Elrick nyatanya bisa membungkam mulut nyinyir para orang tua itu.
Kepala sekolah yang mengenal siapa Elrick Diraja hanya mengangguk hormat. Sekali lagi, Kepala sekolah harus berurusan dengan keluarga menakutkan ini.
Padahal sebisa mungkin, dia sudah menahan emosi melihat setiap laporan anak-anak yang sering kena hantam Paris, semata-mata karena dia tidak ingin memanggil Elrick. Lagi pula siswa nakal itu adalah siswa paling pintar di sekolahan.
Beberapa kali menyabet gelar juara pada perlombaan Olimpiade sains dan juga matematika. Aset sekolah yang membuat kelakuannya dimaklumi.
Lagi pula, kenakalannya tidak berlebihan, masih di koridor aman. Hanya saja emosi pemuda itu meledak-ledak, hingga mudah terpancing.
Atas permintaan Elrick, anak-anak yang bersangkutan dengan masalah ini datang bersama pak Matondang. Tapi kali ini dia tidak ingin mempersulit atau cari masalah dengan Paris, karena mengetahui Elrick Diraja ada di sana.
"Paris, mereka adalah orang tua dari siswa yang kau botak rambutnya, memintamu untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mu pada anak-anak mereka. Apa tanggapan mu?" Tanya Elrick santai, menumpu satu kakinya di atas kakinya yang lain.
"Aku bersedia, bahkan aku tidak takut kalau harus di penjara, asal... anak-anak mereka juga mendekam di balik jeruji!"
"Apa maksudmu? Kenapa anak-anak kami harus ikut masuk? Kamu yang sudah menzolimi anak kami, harusnya kamu yang di penjara."
"Tanyakan pada anak-anak ibu, apa yang sudah dilakukan mereka terhadap siswi bernama Sidney!"
Semua hening. Saling melihat satu sama lain. Saat anak-anak mereka mengaduh, tidak ada yang menceritakan soal anak bernama Sidney.
"Pak Matondang, tolong bawa Sidney kemari," pinta Kepala sekolah. Cindy dan teman-temannya tampak pucat, jelas mereka tahu kalau mereka salah.
Sidney datang dengan menatap satu persatu wajah orang yang ada di dalam, dan kala melihat Elrick, dia ikut meringis.
"Sidney, kamu ada masalah dengan Cindy dan teman-temannya?"
Sidney tidak langsung menjawab, melihat ke arah Paris yang mengangguk. Tadi malam mereka sudah membahas masalah ini. Sidney marah hingga tidak mau membuka pintu kamarnya.
"Bibi sudah panggil, tapi non Sidney tidak mau membuka pintu kamarnya."
Paris yang tidak menerima penolakan, membuatnya memutuskan untuk naik ke atas. "Sid, buka pintunya. Kita harus bicara," ucap Paris lembut, tapi tetap tidak diindahkannya.
"Buka Sid, kalau gak aku dobrak!"
Sidney percaya akan kegilaan pria itu, kalau sudah marah, dia tidak memikirkan apapun juga akan melakukan apa yang dia katakan.
"Mau apa?"
"Sayang, jangan marah. Aku kan udah minta maaf. Aku gak sengaja..." ucap Paris masuk ke dalam kamar gadis itu, dari pada nanti ditutup lagi dia tidak bisa bicara dengannya.
"Gak sengaja? botakin lima orang anak, kamu bilang gak sengaja? Rendam tangan sama kaki mereka dengan air cabe kamu bilang gak sengaja? Kamu itu psikopat tau gak!" Seru Sidney emosi. Sejak dulu Paris memang sangat sulit mengontrol emosinya.
Karena gemar baku hantam lah, anak-anak di komplek mereka tidak ada yang mau bermain dengan Sidney dan Scot. Beberapa kali saat ada anak menjaili mereka, Paris akan maju membela mereka memukul tanpa ampun.
"Iya, aku psikopat! Aku akan menjadi gila kalau ada yang berani menyakitimu. Bahkan kalau aku sendiripun yang menyakitimu, aku akan menghilang!"
Sidney menatap mata merah itu. Dia tahu semua Paris lakukan karena pria itu ingin melindunginya, mencintainya. Mengetahui hal itu ada perasaan hangat di hati Sidney.
Dia mendekat dan masuk dalam pelukan pria itu. "Jangan pernah menghilang dariku, kalau gak aku akan mati," ucap Sidney menenggelamkan wajahnya di dada Paris.
Setelahnya mereka mengatur semua yang harus mereka katakan nanti karena Paris yakin mereka akan dipanggil besok.
"Saya gak ada masalah dengan mereka, Pak."
"Tapi kata Paris dia melakukan hal ini pada Cindy dan teman-temannya karena ingin membalas perbuatan jahat mereka padamu," susul Bapak kepala sekolah.
Orang tua siswa yang merasa menjadi korban menatap penuh selidik pada Sidney, berpikir kalau kemungkinan mereka itu mengatur agar terlihat anak-anak mereka mengalami penganiayaan.
"Justru itu pak, saya merasa tidak ada masalah dengan mereka, tapi mereka mengeroyok saya di kamar mandi. Bahkan merusak pakaian sekolah saya, dan juga melukai tangan saya sehingga harus dirawat dokter Moh," ucap Sidney menunjukkan tangannya yang masih diperban.
Semua orang tua itu saling melihat satu sama lain, tidak menyangka kalau anak mereka bisa begitu sadis.
"Apa benar itu Cindy?" tanya kepala sekolah.
"Saya ingatkan, Sidney ini adalah kelahiran saya, sudah saya anggap sebagai putri saya dan sangat berarti bagi keluarga kami, jadi jika keterangan yang diberikan oleh putri saya terbukti, maka anak-anak kalian harus di penjara dalam waktu yang lama. Tidak usah mencari alibi dengan penangguhan anak masih dibawah umur karena saya pastikan ada cara lain untuk menghukum anak kalian!"
Elrick angkat bicara, menutup mulut para orang tua yang tadinya begitu ribut mengenai penuntutan Paris.
"Maaf, Bapak kepala sekolah, tuan Diraja, kalau begitu kita anggap saja masalah ini impas. Saya mohon jangan jebloskan anak saya ke penjara," ucap Ayah Cindy ketakutan. Taring yang tadi dia tunjukkan seketika menjadi tumpul.