Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 44


Segala cara digunakan Raya untuk menahan Sidney lebih lama. Alasan kesehatan digunakan wanita itu untuk mengikat Sidney di sampingnya.


Malam itu Sidney menempati kamarnya kembali setelah bertahun lamanya dia tinggalkan. Tidak ada yang berubah, kamar itu masih seperti dulu, rapi dan bersih. Tertata masih seperti semula, lengkap dengan fotonya di dinding kamar dan juga di atas meja belajarnya.


Pakaiannya juga masih ada di lemari, itu semua Raya yang membelikan, agar saat menginap di rumahnya, Sidney tidak perlu mengangkut barang-barang nya dari depan.


"Permisi, Non. Saya ganti dulu seprainya," ucap bi Juminten.


"Gak usah bi, ini nampaknya masih bersih, baru diganti kayaknya," ucap Sidney mengusap permukaan bantalnya.


"Bersih sih, Non, tapi apa gak papa ini bekas ditempati den Paris. Takutnya non gak betah tidurnya nanti."


"Paris? Dia tidur di sini?"


Juminten mengangguk dan mulai mengganti seprei ranjang. Pantesan Sidney masih mencium wangi parfum pria itu. Untuk apa dia menempati kamarnya?


"Iya, Non. Hampir setiap malam den Paris tidur di sini, sejak dia pulang dari London."


"Bi Jum, aku boleh tanya? Apa bi Inem masih di depan?"


Juminten menghentikan aksinya sesaat. Menghadap Sidney lalu mengangguk. Sidney ingin melanjutkan pertanyaannya, namun, ada ragu. Tapi jika tidak ditanyakan, dia akan penasaran.


"Apa... Papa... apa yang punya rumah itu tinggal disitu? Bi Jum udah lihat istri barunya?"


"Maksud Non, tuan Sandi, papanya non Sidney?"


Mendengar kata papa, kenapa hati Sidney terasa sakit. Tiga tahun kepergiannya, adakah Sandi mencarinya? Adakah dia khawatir? Saat pergi, dia memang tidak ingin ditemukan, tapi juga hati kecilnya berharap setelah sekian lama, tiba-tiba saja Sandi berdiri di hadapannya, meminta maaf dan mengajak pulang.


Tiga tahun yang kelam, sendiri tanpa ada yang menjadi sandaran.


Sidney mengangguk lemah. Darah yang mengalir di dalam tubuhnya membuatnya tidak bisa untuk tidak mengakui pria itu sebagai ayahnya.


"Setahu bi Jum, Papa non udah gak tinggal disitu lagi. Setelah non Sidney pergi, dua hari kemudian, Papa non datang bersama seorang wanita dan anak kecil, laki-laki. Sempat sih tinggal di rumah non, tapi..."


"Tapi apa, Bi?" tanya Sidney penasaran.


"Duh, gimana ya ngomongnya, bibi takut jadi salah."


"Ngomong aja, Bi. Gak papa, kok."


"Tapi gak lama tinggalnya. Tuan besar datang ke rumah itu, marah-marah sama papa non, dan menyuruh papa non bersama wanita dan anaknya itu pergi dari sana," terang Bi Jum memuaskan rasa penasaran Sidney.


"Tapi tadi, Bi Jum bilang, Bi Inem masih di sana. Kalau rumah itu kosong, untuk apa bi Inem tetap kerja di rumah itu?"


"Tuan besar yang nyuruh, Non. Katanya saat non pulang nanti, rumah itu harus selalu bersih dan rapi. Semua barang harus pada tempatnya, seperti dulu saat non pergi."


Hati Sidney menghangat. Elrick memperhatikan kenangan ibunya. Lalu atas dasar apa Elrick bisa mengusir ayahnya dari rumah mereka?


Bi Jum pasti tidak tahu alasannya. Hanya bertanya pada satu orang, maka dia akan mendapatkan jawabnya.


Hampir satu jam Sidney berendam di bathtub dengan menaburkan oil esensial ke dalamnya. Dia ingin merasa rileks sejenak. Setelahnya dia bermaksud tidak turun, tapi bi Jum memanggilnya atas perintah Elrick.


Sidney melangkah masuk ke dalam ruang kerja Elrick. Pria itu menunggunya, yang dia tebak ingin membicarakan sesuatu yang penting padanya.


"Om manggil aku?"


"Duduk Sid."


"Aku yang minta maaf, Om. Aku gak tahu kalau selama beberapa hari ini Oma kritis."


"Sudahlah, kita ikhlaskan Oma, dia sudah tenang di sisiNya. Om yakin kok kalau kamu akan datang. Kalau sampai kamu gak tiba hari ini, bisa habis Bayu sama Om!"


Bola mata Sidney membola. Bayu? Maksudnya Bayu yang menjadi bos pemilik cafe tempatnya bekerja?


"Maksud Om, Pak Bayu, bos tempat aku bekerja?"


Elrick tersenyum lalu mengangguk. "Kamu gak berpikir, kan setelah berhasil meminta tante kamu untuk merahasiakan kepergianmu, Om akan diam saja? Sejak kamu pergi, tante mu terus saja menangis, hingga membuat Om berinisiatif untuk mencarimu."


Sidney masih diam, terlihat antusias menanti kelanjutan ceritanya.


"Om tidak senaif Paris, yang menggeledah isi rumah nenekmu di Jogja. Om kenal kamu. Kamu tidak akan mungkin mau ke rumah nenekmu apalagi dari keluarga ayahmu yang sudah membuatmu kecewa."


"Jadi, Om yang mengatur ini semua? Bahkan mensetting perampok yang hampir memperko*Sa aku?"


"Dasar gadis bodoh. Om gak sejahat itu menakutimu. Pria yang ingin mencelakaimu memang orang jahat, tapi Om lah yang meminta Bayu untuk mengikuti mu. Jadi, sejak Om tahu posisimu ada di Bandung, Om segera menghubungi Bayu, mantan anak buah Om yang dulu bekerja di perusahaan Om, resign karena ingin buka usaha. Meminta padanya, untuk menawarkan mu pekerjaan."


Sidney begitu tidak menyangka selama menjalani hidupnya yang tiga tahun ini, Elrick punya andil besar di balik layar.


"Pantas, Pak Bayu sering kali ngasih tips yang besar, tidak membiarkan aku bekerja berat, dan bisa kuliah nyaman tanpa takut dipecat karena terbentur oleh shift. Ini semua karena Om?" Air mata Sidney menetes haru.


"Kamu gak akan mengira kami melupakanmu, kan? Sejujurnya, Om membiarkan kamu pergi karena Om sadar kamu butuh waktu untuk menenangkan diri. Masalahmu dengan Paris juga perlu waktu, buat kalian berpikir lebih dewasa, mau kalian bawa kemana hubungan kalian ini? Ditambah lagi persoalan ayahmu. Maafkan, Om karena sudah mengusirnya bersama istri dan anaknya yang ingin menguasai rumah mu."


"Bagaimana bisa Om mengusir mereka sementara rumah itu atas nama... papa?"


"Papamu pria buruk. Selama ini perusahaan yang dia kelola sudah memburuk, hampir pailit dan ditutup. Om menanamkan modal di sana, dan membuat atas namamu, yang artinya 70 persen kamu punya saham di perusahaan ayahmu. Tapi ternyata di belakang Om, dia mengambil dana perusahaan, menggelapkan untuk kepentingan sendiri. Hingga operasional perusahaan terganggu. Om mendatangkan audit, dan terbukti miliaran rupiah habis dia gelapkan."


Sidney tampak terperangah mendengar penuturan Elrick. Ternyata kelakuan ayahnya tidak hanya bejat di naf*su tapi juga seorang penipu dan koruptor.


"Om ingin menjaga kenangan ibumu di rumah itu, hingga memintanya untuk menandatangani penjualan rumah itu pada Om, sebagai bayaran untuk penggelapan uang yang dia lakukan. Setelahnya, rumah itu Om pindahkan atas namamu, dan meminta bi Inem tetap bekerja di sana menjaga dan merawat rumah itu."


"Apa semua orang tahu aku di Bandung, Om?" Sidney ingin tahu, selama tiga tahun ini apakah pria tersebut... iya, Paris maksudnya ikut mencarinya atau berusaha menemuinya.


"Tidak. Siapapun, gak ada Om kasih tahu. Kalau maksudmu Paris, Om tidak ingin ikut campur dengan urusan kalian. Om dan tante tentu ingin sekali kamu menikah dengan Paris, tapi kami tidak akan memaksakan keinginan kami. Kamu selamanya akan menjadi bagian keluarga ini, menjadi putri kami, dengan menikah ataupun tidak menikah dengan Paris."


"Jadi, Om panggil kamu ke sini, selain ingin memberitahukan mu mengenai ayahmu, juga karena ingin membahas hal penting lainnya."


Demi apapun, Sidney tegang. Dia takut kalau yang mau dibahas Elrick adalah masalahnya dengan Paris. "Sidney, kamu tahu kalau kami semua menyayangimu, kan?"


Sidney hanya mengangguk. "Kalau begitu kembali lah pada kami."


*


*


*


Nih, yang pada penasaran kenapa Sidney gak dijemput, papa Elrick mana mungkin berpangku tangan, gais. Udah... mana sawerannya? Btw, mampir ke novel keren temanku dong. Pasti suka deh... makasih



🙏😘😘