Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 62


Tidur Raya sangat pulas, hingga paginya bangun dengan penuh semangat. Hal pertama yang dia sadari, kalau saat ini dia ada di kamar Elrick, dia masih ingat ruangan ini. Semua masih sama, seperti kala dia pernah menginap di sini dulu.


Jarum jam di atas dinding menyadarkannya kalau hari sudah siang. Biasanya paling lama dia bangun pukul enam pagi, ini bahkan sudah hampir pukul 10 pagi.


Dengan langkah pelan, Raya keluar kamar dan tidak mendapati siapa pun di sana. Ingin mengecek satu persatu ruangan, namun, Raya merasa kurang pas, karena dia hanya tamu yang tidak diundang di rumah itu.


Satu stel pakaian yang dia kenali sebagai pakaiannya membuat gadis itu tersadar kalau dirinya saat ini memakai pakaian Elrick, dan juga celana pria itu, parahnya, dia bahkan tidak memakai dalaman!


"Ya Allah, apa Mas Elrick yang sudah mengganti pakaian ku?" ucap Raya lebih pada dirinya sendiri. Wajahnya memanas dan ada rasa kesal di hatinya karena Elrick sudah lancang membuka pakaiannya saat dirinya tidak sadarkan diri.


"Dasar Mas Elrick brengsek! Gak sopan!" umpatnya menghapus wajahnya dengan kedua tangannya.


Buru-buru disambarnya pakaiannya, lalu mandi dengan handuk bersih yang juga disiapkan Elrick untuknya.


***


Raya sama sekali tidak tahu harus berbuat apa, ingin pulang, tapi tidak enak hati karena tidak pamit pada Elrick.


Tapi karena tidak tahu harus apa, dan perutnya terasa lapar, Raya memutuskan untuk pulang saja. Tapi mendadak pundaknya turun dengan helaan nafas. Bagaimana dia bisa keluar dari apartemen itu, kalau dia sendiri tidak tahu password nya dan pintu itu tertutup dengan sempurna. Seperti Elrick memang sengaja menguncinya di dalam.


kruuuuk... krrruuuk...


Suara perutnya yang sejak tadi bergemuruh membuatnya membuang rasa enggan, dan bergegas menuju kulkas. Ada beberapa bahan makanan yang bisa dia olah. Dia tebak mungkin Meyra sering datang dan masak di sini. Menimbang apakah boleh dia masak di sana atau tidak, dan rasa laparnya membuatnya memilih untuk memasak.


Baru selangkah, ponselnya berdering. Nama Nana muncul di layar ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Na. Ada apa?"


"Wa'alaikumsalam, Mbak. Si mbak nya dimana ini? kok belum pulang sampe sekarang. Kita khawatir, sejak semalam ponsel Mbak, aku hubungi gak aktif. Aku khawatir sekali." Terdengar suara cemas di seberang sana yang buat Raya merasa tidak enak hati. Dia bertindak sesuka hatinya, pergi tanpa kabar hingga membuat anggotanya khawatir akan keberadaannya.


"Sorry, Na. Hape aku kemarin mati. Ini baru bisa diaktifkan kembali," terangnya yang baru menyadari ponselnya kemarin malam memang mati, dan saat mencari pagi ini, dia mendapati ponselnya ada di atas nakas dan sedang di cas. Hatinya menghangat, menyadari kalau itu adalah perbuatan Elrick.


"Jadi, Mbak ada dimana? semua baik-baik saja kan, Mbak?"


"Aku... aku baik. Aku lagi di rumah teman. Kamu gak usah khawatir ya. Ratih sedang apa? kalian sudah sarapan?" tanya Raya mengalihkan pembicaraan. Setiap berbohong dia pasti merasa tidak enak hati dan merasa bersalah.


"Sudah, Mbak. Ya, sudah kalau begitu, Mbak jaga diri, ya."


"Iya, Na. Makasih, ya." Sambungan terputus, Raya memilih melanjutkan niatnya untuk masak karena perutnya sudah sangat lapar.


Ruang dapur Elrick tertata rapi dan juga lengkap, hingga Raya begitu nyaman di sana. "Enak banget ya punya banyak uang, bisa beli apartemen mewah kayak begini," cicitnya sembari mengupas bawang.


Dengan riang, Raya memasak beberapa menu masakan. Entah apa yang membuatnya riang, dia memasak dengan iringan lagu, bersiul dengan gembiranya tanpa dia sadari seseorang tengah mengamatinya di ambang pintu dapur. Bersandar di pada kusen pintu dengan yang dilipat di dada. Bibirnya tidak hentinya menyunggingkan senyum di bibirnya.


Tepat saat Raya berbalik dan mendapati Elrick di sana, dia terkejut dan hampir telur dadarnya jatuh dari teflon. "Ih, Mas Elrick, ngagetin tahu!"


"Sedang apa lo?" tanyanya mengubah wajahnya, menyembunyikan senyum yang tadi selalu menghiasi wajahnya.


"Menurut lo? ya, dari kantor lah. Lagi apa?"


"Oh, aku masak. Tadi kan udah aku bilang. Makan bareng yuk? Eh, tapi Mas Elrick mana suka masakan sederhana kayak gini, ya?"


Raya sudah menata di atas meja makan. Mengambil nasi dan juga telur yang dia dadar tadi. Wangi masakan Raya sebenarnya menggugah selera, tapi dia gengsi untuk ikut duduk di sana.


"Sini. Mau makan gak?"


"Gak usah."


"Yakin? ini enak banget, loh," ucap Raya tersenyum menggoda. Melihat tidak ada reaksi, Raya berinisiatif untuk mengambilkan nasi untuk Elrick, yang kemudian ditunjuknya lewat tatapan matanya, yang memerintahkan Elrick untuk mendekat.


Bak kerbau yang dicucuk hidungnya, Elrick mendekat. Dalam hening keduanya menikmati makanan itu, Elrick terpaku penuh haru. Makanan itu begitu sederhana tapi mengapa memberikan sensasi yang lain di hatinya. Diam-diam diangkatnya kepalanya melirik Raya yang juga menunduk.


Mereka berdua, dia orang asing yang belum kenal terlalu lama, kini duduk berdua makan di apartemennya, memakan makanan yang dimasak Raya seolah mereka adalah suami istri.


Ini kehangatan keluarga. Yang pernah dia lihat di keluarga Dipa. Saat kecil Tante Intan nya sering mengajaknya makan bersama. Mereka berempat, seolah satu keluarga dan Elrick begitu bahagia saat itu karena bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari tantenya sendiri. Semua makanan yang mereka makan saat itu semua hasil olahan Tante Intan, mamanya Dipa. Makanya sejak awal dia sudah iri pada Dipa yang punya orang tua yang begitu mencintainya.


Elrick tersedak hingga kala malu saat ketahuan oleh Raya, yang mengamati gadis itu diam. "Kenapa ngelihatin aku, Mas? makanannya gak enak?"


"Bukan. Udah, habiskan makananmu!"


Raya hanya bisa mengerutkan kening kala mendengar balasan Elrick. "Dasar polar bear, ditanya bagus-bagus malah jutek. Dia ini kenapa sih sama aku kok kayak mau cari ribut aja?" ucapnya yang bisa dia katakan dalam hatinya.


Selesai makan, Raya bergegas mengumpulkan piring kotor bekas mereka makan. Raya mencuci di wastafel sementara sang mandor mengawasi di kursi tempat dia makan tadi.


"Terima kasih kau sudah datang ke sini. Walau itu tindakan bodoh. Harusnya aku marah, karena kau sudah membahayakan dirimu. Apa kau tidak takut kalau kau bisa saja diculik untuk ketiga kalinya?" ucap Elrick tetap fokus pada punggung Raya.


Tangan Raya terhenti. Kata terima kasih yang diucapkan Elrick terdengar tulus.


Elrick tahu, tanpa bertanya, Raya ingin tahu keadaan sebenarnya. Dan entah mengapa pada Raya, Elrick ingin membagi kisahnya, hal yang tidak pernah mau dia lakukan pada Meyra.


Mungkin bercerita dengan saling membelakangi seperti ini, membuat Elrick tidak perlu melihat rasa iba di wajah Raya.


"Aku tidak tahu masalah sabotase kecelakaan itu. Saat itu aku masih kecil, masih duduk di sekolah dasar. Aku hanya ingat, hari itu terjadi pertengkaran yang sangat hebat antara papa dan... wanita itu. Aku sudah memohon padanya untuk tetap tinggal, tapi nyatanya, dia tetap memilih pergi dengan selingkuhannya."


Ada luka, dan ada air mata yang dijaga Elrick untuk tidak mengalir. Tubuh Raya kaku. Tangannya sudah dibilas. Tapi dia merasa ini bukan waktunya untuk berbalik.


*


*


*


Jadi mewek kalau nulis kisah si polar bear ini. Padahal dia dingin hanya untuk menutupi luka di hatinya.😥