
Hati Lani panas. Dari balik gorden dia mendengar pembicaraan ibu dan anak itu. Mertuanya bersikeras agar Dika mengajak Raya rujuk. Lani ingin sekali mendatangi Raya kembali, memaki gadis itu bahkan kalau bisa mencekik hingga mati.
"Baik, Bu. Aku janji akan membujuk Raya pulang, asal ibu tidak kembali ke kampung dulu, sampai benar-benar sehat."
***
Beberapa hari ini, banyak pelanggan yang datang mengantar kain ke laundry. Lima bulan berjalan, Raya belum juga menemukan karyawan tambahan.
"Istirahat dulu, Mbak. Dua hari ini Mbak sudah tidak tidur cukup waktu. Jangan sampai karena menyetrika, Mbak jatuh sakit," ucap Nana.
Kelelahan mengerjakan semua kain masuk, Raya tertidur pulas setelah mandi sore itu. Nana menawarkan diri menggantikannya mengantar ke pelanggan laundry.
"Mbak, bangun. Makan dulu," ucap Nana selepas mandi. Sudah pukul 7 malam, dan Raya belum juga bangun sejak sore tadi.
"Kamu makan aja duluan ya, Na. Aku masih ngantuk. Gak selera makan," ucapnya kembali menjatuhkan kepala ke bantal.
Nana pergi, menuruti perkataan Raya karena perutnya memang sudah minta diisi.
Prak... prak.. prak...
Terdengar suara pukulan di rolling door laundry. Nana menajamkan pendengarannya, siapa tahu dia yang salah dengar.
Prak... prak... prak...
Kembali terdengar. Kali ini Nana yakin dia bukan sedang berhalusinasi. Nana bangkit, menuju wastafel untuk mencuci tangannya, lalu bergegas melihat siapa yang datang malam-malam begini. Tidak mungkin pelanggan, karena semua tahu jam beroperasi nya ruko.
Tidak berpikiran buruk pada apapun, Nana membuka pintu sedikit, namun segera tangan kekar dari luar mendorong hingga Nana mundur kebelakang dan mereka leluasa membuka pintu ruko itu.
Nana terbelalak. Ada empat pria berbaju hitam. Hanya diantaranya memakai jaket kulit, dan dua lagi hanya mengenakan kaos lengan pendek, hingga Nana bisa melihat tatto yang menjalar di tubuh dua pria lainnya.
"Siapa kalian? mau apa kalian?" tanya Nana gugup, namun tetap seolah masih bisa bersikap berani.
"Mana bos lo?" hardik salah satu dari pria yang tubuhnya paling besar.
"Kalian mau apa? pergi dari sini atau aku panggil polisi," pekik Nana.
"Bacot! Sekalian saja kita habisi dia!" imbuh pria yang lain.
"Tolong... tolong..." Teriak Nana berlari ke dalam, namun hanya dua langkah, dua pria sudah berhasil mendapatkannya kembali.
Menyeret tubuh Nana, dengan mulut dibekap. Nana diikat di kursi dengan tali yang sudah mereka bawa tadi.
Dua orang lagi menyusuri ruangan dan naik ke atas, mencari keberadaan Raya. Bunyi pintu yang buka dan dihempaskan ke dinding membuat Raya terbangun. Matanya terbelalak saat dia pria asing masuk ke kamarnya dan tanpa mengatakan apapun segera menarik paksa Raya turun ke tempat Nana berada tadi.
"Mmmphmm... Mmmmpph... Nana meronta di tempatnya. Mulutnya yang disumbat dengan kain membuatnya tidak bisa berkata apa pun lagi. Dengan uraian air mata, Nana melihat Rata dijambak, diseret ke luar dengan mulut yang sudah dibekap dengan tangan.
Setelah mencapai pintu luar, kawanan bandit itu menutup pintu lalu segera bergegas pergi membawa Raya.
Mobil itu melesat, bergegas meninggalkan komplek itu. "Siapa kalian? mau apa menculik ku?" ucap Raya ketakutan.
Tubuh Raya bergidik ngeri. Inilah mungkin akhir hidupnya. Kalaupun nanti dia menghilang bahkan mati, tidak ada yang akan mencarinya. "Ayah..." batinnya mengingat pria itu yang sudah memintanya untuk pulang ke desa, sekedar untuk bertemu. "Maaf ayah, aku belum bisa menepati janjiku untuk bertemu dengan ayah. Semoga di surga nanti kita bisa berkumpul kembali, Yah."
Angin malam itu begitu dingin, gerimis juga turun seolah ikut sedih melihat kejadian buruk yang tengah menimpa Raya saat ini. Jam delapan malam, jam sibuk orang-orang yang mau pulang ke rumah dari tempat tongkrongan atau pun yang baru akan memulai menjelajahi malam ini, membuat jalan menjadi macet. Baru beberapa menit berlalu, mobil para bandit itu berhenti kembali di lampu merah.
Pria yang duduk di sebelah supir membuka kaca, mengamati timer yang dalam hatinya ikut juga menghitung dalam hati. Saat itu lah, Raya maju ke arah depan, berteriak sekencang-kencangnya ke arah kaca yang terbuka.
"Tolong... Tolong..." teriaknya memberanikan diri. Namun, baru dua kali buka mulut, pria yang di sampingnya kembali menarik pundak Raya agar kembali duduk bersama mereka.
Lampu hijau menyala, mobil melesat meninggalkan kota Jakarta menuju pinggiran kota yang sepi, dingin dan menyeramkan.
Namun, tanpa disadari mereka, sebuah mobil sport mengikuti mereka, hingga berhasil memotong perjalanan mereka. Mobil warna merah itu berhenti tepat di depan mobil Rush milik para penculik.
Raya bertanya-tanya, mengapa mobil berhenti. Apa sudah tiba waktunya untuk dieksekusi. Inikah saatnya dia akan mati?
Dua kawanan bandit yang duduk di depan membuka pintu, keluar menghadapi dua orang yang baru keluar dari mobil sport di depan sana.
Raya tidak jelas melihat, karena kaca mobil yang gelap. Namun, tidak berapa lama, salah satu yang mengapit tubuhnya turun untuk membantu dua orang temannya yang sudah lebih dulu turun.
"Lo diam di sini, awas kalau lo sampai keluar, gue tembak, Lo!" Ancam pria yang tersisa bersamanya di dalam mobil. Kini hanya tinggal dirinya di dalam sini.
Merasa bingung dengan apa yang terjadi, Raya memberanikan diri melihat namun, pintu mobil terkunci, dan ikatan di tangannya membuat dirinya susah bergerak.
Raya ketakutan setengah mati. Apa mungkin kawanan penjahat itu berembuk untuk menetapkan dimana mayatnya akan dibuang. Air mata Raya meleleh. Tubuhnya bergetar hebat dan detak jantungnya kian kencang. Dia akan mati, itu pasti!
15 menit berlalu.... 20 menit... dan tiba-tiba Brak! pintu mobil dibuka paksa.
"Ampun, jangan bunuh aku. Aku salah apa, aku mohon lepaskan aku," ucapnya mengangkat pergelangan tangannya yang diikat ke atas, menutupi wajahnya.
Satu tangan kekar menangkup pergelangan tangannya, menarik keluar mobil. Raya meronta-ronta. Dia tahu kalau sudah dibawa keluar dari mobil ini, berarti dia akan segera dibunuh. Jeritan melengking keluar dari mulutnya, memohon untuk melepaskannya. Dia bahkan tidak berani membuka matanya.
Dengan satu gerakan cepat, ikatan di tangannya dilepas. Perlahan Raya membuka mata, mendapati pria yang ada di depannya tadi bukan salah satu dari kawanan penculik itu, melainkan Elrick. Keduanya saling menatap penuh makna.
Air mata dan isakan masih terdengar dari mulut Raya. Tatapannya seolah berkata, 'aku takut.. aku takut..'
Sementara tatapan Elrick menatap iba, bercampur amarah pada kawanan penjahat yang sudah mencelakai Raya.
"Mas..." Entah tuntunan dari mana, Elrick yang mendengar rintihan Raya menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. "Jangan menangis, aku di sini..."
*
*
*
Bang El kalau lagi waras keren banget ya...🤣🤣 mana dong hadiah buatku, hari ini aku udah up 4 bab loh😅