Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 61


Masih terkantuk-kantuk, Raya mengikuti langkah Elrick. Saat ini sudah pukul 12 malam, matanya yang lelah menangis, ditambah disiram air hujan membuat Raya sulit berkoordinasi dengan bola matanya untuk terbuka dengan sempurna.


Elrick yang menyadari kalau langkah gadis itu terdengar lamban, menoleh ke belakang. Benar saja, gadis itu berjalan perlahan, mencoba menghalau ngantuknya hingga harus berjalan pelan agar tidak tersandung.


Dengusan kasar dari Elrick yang cukup keras pun tidak terdengar oleh Raya yang masih berusaha mengumpulkan nyawa. Pria itu dengan gemas menarik tangan Raya, menyelipkan ke telapak tangannya hingga keduanya berjalan bergandengan.


Deg!


Kali ini yang merasakan jantungnya berdebar kembali hanya Elrick, karena saat ini Raya masih belum sadar. Dengan tangan kirinya, dia menggosok bagian dadanya, seolah bisa menembus ke dalam guna menenangkan debar jantungnya.


"Lama-lama gue beneran kena serangan jantung kalau begini. Lagian ngapain sih, si bodoh ini datang ke sini?" gumam Elrick masih mencoba menenangkan hatinya.


Begitu masuk dan menemukan sofa, Raya segera kembali tertidur, dan aksinya itu hanya mendapat gelengan dari Elrick. "Woi, lo ke sini mau numpang tidur? Ngapain lo kemari?"


Tidak ada jawaban, Elrick kembali ingin menarik tangan Raya agar gadis itu duduk, namun tangannya menyentuh celana panjang gadis itu, yang jelas masih sangat basah dan dingin. Elrick pun memegang kaosnya yang lembab. "Dasar bodoh. Kalau lo sampai sakit gimana?" cicitnya menatap gadis itu yang tertidur pulas.


Berpikir sejenak, Elrick kemudian meninggalkan Raya yang kembali tertidur di sofa. Hanya selang kurang lebih 10 menit, Elrick kembali bersama seorang wanita berseragam.


"Bajunya basah. Tolong kamu gantikan," ucap Elrick yang sudah menarik Raya untuk mengajak masuk ke kamarnya, namun gadis itu menolak dan memilih untuk merebahkan tubuhnya kembali ke sofa empuk.


"Ganti baju dulu, Oneng!" umpatnya kesal karena Raya tidak bisa ajak kerjasama. Yang Elrick pikirkan saat ini, semakin lama pakaian basah itu melekat pada tubuh Raya, maka kemungkinan dia sakit akan lebih besar.


Tidak punya pilihan lain, Elrick memutuskan untuk menggendong Raya ala-ala bridal masuk ke kamarnya yang diikuti pegawai apartemen itu.


"Maaf, Pak Elrick, ini pakaian Mbaknya diganti dengan yang mana?"


Elrick mengumpat kesal dalam hati. Benar juga. Dia ingin Raya tidak sakit, dan harus berganti pakaian, tapi nyatanya baju ganti untuk gadis itu saja tidak dia pikirkan.


Tidak mau pusing, Elrick masuk ke dalam ruang gantinya, mengambil pakaiannya dari lemari, berupa celana pendek olahraga basket dan juga kaos putih yang pastinya kebesaran untuk Raya. "Pakaikan ini saja."


Tujuan awal Raya datang adalah untuk menghibur dan menemani Elrick yang saat ini dalam keadaan bersedih. Tapi faktanya, justru Elrick yang mengurus Raya. Gadis itu mengigau dan benar saja, dia demam!


Elrick hanya bisa melakukan yang dia tahu. Mengompres gadis itu dengan meletakkan kain basah di keningnya. Sepanjang malam, Elrick terpaksa terjaga di samping Raya. Takut kalau-kalau gadis itu membutuhkan sesuatu tapi dia tidak ada di sana. Lagi pula, sekali 20 menit, Elrick mengganti kain perasan yang sudah menyerap hawa panas dari tubuh Raya.


Pukul lima pagi, Raya terbangun. Bola matanya mengerjap dan menerawang ke langit-langit kamar. Hal pertama yang dia sadari, ini bukan kamarnya. Dia tidak ingin panik, berteriak seperti scene yang dia tonton di sinetron alay di televisi. Perlahan dia mengumpulkan ingatannya, setelah mendapat pencerahan, Raya pun menoleh ke samping, ingin mencari Elrick, namun pria itu masih setia di sana. Tertidur di samping tempat tidur dengan kain basah yang akan menggantikan kompresan di kening Raya.


Deg!


"Makasih ya, Mas. Sudah merawatku. Maaf karena sudah merepotkanmu. Harusnya'kan aku yang saat ini menghiburmu, ini malah merepotkan," ucapnya bermonolog.


Satu senyuman malu-malu muncul di bibir mungil itu. Elrick terlihat begitu tampan dari dekat. Wajah garang dan juga sombongnya sama sekali tidak tampak.


"Kau tahu, kau orang baik, Mas. Sikap keras dan juga dinginmu itu hanya untuk membentengi dirimu, agar tidak terlanjur sayang pada orang lain. Kau takut kalau orang yang kau sayangi meninggalkanmu seperti yang dilakukan ibumu. Satu hal yang harus kau ingat, Mas. Setiap manusia punya masa lalu. Kita ada sekarang juga karena sudah melewati masa lalu. Lupakan kepedihan mu. Kau pantas bahagia. Percayalah, akan ada orang yang menyayangi mu, Mas," ucapnya dengan suara pelan, agar tidak terdengar oleh Elrick.


Mungkin Elrick tidak menyadari perkataan Raya karena tertidur, tapi yang jelas ucapan itu dia dengar hingga terbawa ke alam bawah sadarnya. Kerutan di kening Elrick tadi, tiba-tiba menghilang, seolah kalimat yang dia dengar itu adalah kalimat yang memang sangat dia harapkan diucapkan padanya sebagai bentuk menguatkan diri.


Raya ingin turun, menyelimuti punggung Elrick, namun gerakannya yang super pelan itu nyatanya bisa membangunkan Elrick.


"Kau sudah bangun?" tanyanya dengan suara sendu, mengucek matanya yang masih ingin tertutup.


"Iya, Mas. Maaf ya sudah merepotkan. Mas jadi ngurus aku yang demam."


Elrick tidak menjawab. Dia ingin berdiri dari duduknya, tapi tidak jadi. Kakinya kesemutan luar biasa hingga mati rasa. Kelamaan di tekuk membuatnya susah untuk langsung berdiri. "Mas kenapa?" tanya Raya yang menangkap ekspresi kesakitan.


"Gak, papa. Sudah kau tidur lagi, besok kita bahas yang ingin kau katakan." Elrick pun memaksakan kakinya untuk berdiri, dan tanpa mengatakan apapun lagi, keluar dari kamar itu. Dia akan tidur di sofa dipan saja. Dalam apartemen itu hanya ada tiga ruangan kamar. Satu dia set menjadi kamar tidur, yang satu lagi menjadi tempat gym dan satu lagi menjadi gudang.


Alasannya hanya sederhana, dia tidak ingin teman atau siapapun yang datang berkunjung ke sini, agar tidak punya alasan untuk menginap.


"Sial!" pekik Elrick melempar dirinya ke sofa empuk tempat Raya sempat berbaring tadi. Wangi sampo dari rambut Raya yang menempel di bantal kursi itu, memacu detak jantungnya lagi. Yang paling buat dia ingin masuk ke ruang gym, memukul sansak, kala di pelupuk matanya bayangan bagian tubuh Raya yang menggantung di balik kaosnya itu sangat mengganggunya.


Ada dorongan besar ingin menarik ke atas kaos yang dipakai Raya, lalu melu*mat apa yang ditawarkan gadis itu yang tentu saja tanpa sengaja.


Tidak ingin melakukan sport lima jari, Elrick memaksa matanya untuk terpejam, dengan menutup seluruh wajahnya dengan bedcover berwarna grey.


*


*


*


So sweet banget si Polar bear, bisa nahan diri, padahal bisa aja dia yang gantiin baju Raya kan...🤭🤭