Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 87


Seminggu setelah peristiwa penusukan itu, Darma harus siap datang ke kantor polisi untuk wajib lapor dan dan dimintai keterangannya. Darma sangat kooperatif hingga membuat polisi pun bersikap baik padanya. Walau saat ini dia sebagai tersangka, namun tidak adanya bukti yang kuat membuat tuduhan atas dirinya gugur. Lagi pula saat olah TKP, ditemukan pisau yang digunakan untuk menusuk Bejo dan sidik jari yang ada di sana, bukanlah milik Darma.


Tiap malam, di setiap sholatnya, Raya selalu memohon agar nama baik ayahnya dibersihkan. Doanya didengarkan sang Maha, Selasa sore, Bejo siuman. Walau masih tidak bisa memberikan keterangan, tapi melihat pria itu sadar dan mengenal siapa dirinya, setidaknya membuat semua pihak senang, tidak hanya keluarga Darma tapi juga Titin istrinya.


Bahkan karena peristiwa itu, Dika sampai harus pulang ke desa. Bisa ditebak, kalau pria itu datang menemui Raya setelah menjenguk ayahnya.


Dengan enggan Raya menerima Dika masuk ke rumahnya. Darma sendiri, tidak ingin memperkeruh suasana, sudah cukup masalah yang saat ini terjadi. Dia tidak ingin orang-orang beranggapan karena dia sentimen pada Bejo dan keluarganya, hingga Dika datang ke rumahnya pun harus diusir.


"Ray, maaf kalau semua ini harus terjadi. Aku percaya kalau om Darma tidak bersalah. Bukan dia yang melukai ayah," ucapnya dengan tulus. Dia perlu menemui Raya, selain karena memang rindu pada gadis itu, dia juga ingin menyampaikan dukungannya. Dia tidak ingin Raya dan keluarganya jadi tersudut, seperti yang Dika dengar dari orang-orang di sekitar rumahnya.


"Makasih ya, Mas. Aku juga berharap om Bejo cepat sembuh, dan bisa memberikan keterangan, siapa pelakunya," jawab Raya.


Raya melirik sekilas ke atas meja. Teh manis buatannya sudah habis di minum Dika, dan sudah setengah jam pria itu ada di sana, tapi belum juga berniat untuk pulang. Ayah nya sendiri entah sudah pergi entah kemana, meninggalkan mereka berdua.


Untungnya, Raya membuka lebar pintu rumah, agar mereka tidak menjadi bahan gunjingan para tetangga.


"Mas Dika, minumnya mau dibuat lagi?" tanya Raya datar. Dia hanya coba menyindir secara halus, kalau pria itu sudah cukup lama di rumahnya, dan kalau boleh segeralah pulang.


"Oh, boleh..."


Nyatanya tidak. Dika terlalu bodoh untuk menyadari hal itu. Raya seolah jadi korban senjata makan tuan. Dengan malas dia bangkit berdiri, menyeret langkahnya menuju dapur.


Aku lama-lama in aja di sini, biar dia bosan dan minta pulang...


Raya bahkan sengaja duduk dan memainkan game di ponselnya untuk satu kali putaran. Setelah dirasa cukup, dia pun membawa nampan menuju ruang tamu, tempat Dika duduk.


Tepat langkahnya masuk ke ruang tamu, Raya tersentak atas apa yang dia lihat. Hampir saja nampannya jatuh, beruntung dia cepat menguasai diri, jadi hanya terjadi goncangan di gelas yang menumpahkan sedikit isinya.


"Ehem... Mas Elrick..."


Pria itu menatapnya dengan alis mata sebelah kanan terangkat persis seperti awak bajak laut yang dia tonton Minggu lalu.


Mata elang Elrick masih mengawasinya saat melewatkan nampan. "Mas, mau minum apa?"


Elrick masih belum melepas tatapannya. Segala bentuk rasa ada dalam tatapan itu, yang nanti pasti akan dia tagih pada gadis itu. Diliriknya minuman yang disajikan Raya, disebelah ada gelas kosong artinya pria yang ada disebelahnya ini sudah lama bertamu di sini. Rasa tidak sukanya semakin besar. Arogansinya muncul. Dia ingin menunjukkan siapa dirinya di rumah itu.


Menurut Elrick, Dika adalah tipe pria polos yang tidak neko-neko, tapi karena belum pernah nakal, cepat terbuai oleh rayuan Lani. Dalam hidupnya hanya ada Raya sebelum Lani masuk, menerima kenikmatan dunia dari Lani, yang belum pernah Raya berikan padanya, tentu membuat Dika ingin coba hal baru yang lebih liar.


Beruntung Raya dan Dika bercerai, karena dia bukan lah pria yang bisa membahagiakan Raya. Pria itu tidak tahu cara menghidupkan sisi liar nan manis dalam diri Raya. Terlalu kaku, dan juga monoton.


Lihatlah, belum lama berpacaran dengan Elrick, Raya sudah semakin lihai, mampu melepaskan diri dari cangkang tempatnya berlindung selama ini. Bersama Elrick dia bisa enjoy pada setiap apa yang mereka lakukan, tidak perlu malu pada pasanganmu, dan Elrick sudah bisa menumbuhkan rasa percaya diri Raya, karena pria itu selalu mengatakan Raya adalah gadis yang sempurna, tidak punya cacat dan sangat menggairahkan. Hal yang tidak pernah dilakukan Dika saat menjadi suaminya dulu.


"Aku mau kopi..." Raya mengangguk lemah, lalu berdiri. Langkahnya terhenti, kala mendengar suara lanjutan dari pria itu. "Pakai susu... yang banyak..."


Bola mata Raya membulat. Apa yang dipikirkan pria itu hingga mengatakan hal biasa menjadi seperti hal yang menjijikkan seperti itu.


Setelah memastikan Raya sudah menghilang di balik dinding itu, Dika mengalihkan pandangannya ke arah Elrick. Dia sudah cukup mengamati penampilan pria itu sejak tadi masuk ke dalam rumah. Awalnya Dika terkejut, dia pikir Elrick salah masuk rumah, namun kala pandangan mereka sudah bertemu, dan Elrick dengan santainya duduk di depannya, Dika menyadari kalau Elrick tidak salah rumah.


Siapa yang tidak mengenal Elrick, hampir semua pengusaha dan orang penting di industri hiburan mengenalnya. Tapi untuk apa pria itu datang ke sini?


"Maaf, mas mau bertemu pak Darma?" tanya Dika sopan. Selain niat bertemu pria itu, tidak mungkin mau bertemu Raya. Kenal dimana mereka? Lagi pula, Raya gadis pengecut yang pasti tidak percaya diri bertemu apa lagi sampai dekat dengan Elrick.


"Bisa jadi, Anda?"


"Saya orang lama di rumah ini. Dulu menjadi bagian keluarga ini, dan..." dia diam sesaat untuk mengambil jeda, dan dengan suara yang lebih pelan dari tadi, Dika melanjutkan ucapannya. "Sedang berusaha untuk masuk kembali menjadi bagian keluarga ini."


"Maksudnya?" tanya Elrick polos, dia ingin bermain sebentar. Lagi pula, moodnya saat ini sedang bagus.


"Sebenarnya... saya suami Raya... maksudku, dulu, Saya mantan suami Raya. Tapi sedang berusaha untuk mengambil hati Raya lagi, dan semoga gadis itu mau diajak rujuk."


"Oh, begitu..." sahut Elrick menaikkan satu alisnya, caranya untuk mencemooh.


"Apakah Tuan Diraja mau datang ke pesta pernikahan kami nanti? Suatu kehormatan, anda bisa datang," lanjutnya penuh semangat. Namanya pasti semakin terkenal, jika berhasil mengundang Elrick Diraja saat menikah nanti.


Elrick belum sempat menjawab, tepat saat itu Raya muncul, membawa nampan berisi kopi susu permintaan nyeleneh Elrick. "Diminum, Mas..."


"Terima kasih. Oh, iya kau tahu, tuan Andika baru saja mengundangku menghadiri acara pesta pernikahan kalian..."