
Sepanjang jalan menuju rumah, Raya tidak berhenti tersenyum, hingga Darma sesekali melirik aneh padanya. Perjalanan itu semakin menyenangkan dan tidak terasa jauh karena tidak jauh dari tempatnya ada pujaan hatinya ikut menemaninya, hingga tiba di rumah.
Darma bukan orang bodoh. Melihat wajah anaknya yang kembali ceria, tentu saja dia merasa curiga, dan orang yang bisa membolak-balikkan mood anaknya, hanya satu nama, dan dia benci padanya.
"Jangan pernah bertemu dengannya lagi," hardik Darma tiba-tiba, membuat Raya yang hendak masuk ke dalam kamarnya berhenti.
Dia berbalik, menatap Darma, berniat ingin mempertanyakan maksud omongannya, tapi keburu ayahnya buka suara. "Ayah tahu, dia menemui mu tadi. Ayah memang tidak becus, membiarkan dia bisa menemuimu, tapi ayah pastikan itu tidak akan terjadi lagi!"
Ucapan Darma penuh amarah. Dia merasa dikadali oleh Elrick, dan yang lebih menyakitkan, Raya ikut membantu.
"Ayah, maafkan lah mas Elrick. Dia tidak berniat untuk mangkir dari acara pernikahan itu, dia dijebak oleh orang yang tidak suka pernikahan kami terjadi," ucap Raya memohon. Dia berharap ayahnya akan melembutkan sedikit saja hatinya.
"Sudah Ayah bilang, apa pun alasannya, Ayah tidak peduli. Ayah tidak akan mengizinkan mu bersama pria brengsek itu. Tidak ada guna mencoba membujuk ayah, selamanya ayah tidak akan setuju!"
Raya tidak mengatakan apapun, berbalik dan segera pergi dari sana. Sudah bisa ditebak dia akan menangis sejadi-jadinya. Membayangkan dirinya tidak bisa bersama Elrick membuatnya takut dan tentu saja tidak punya semangat hidup.
Raya sendiri tidak tahu, mengapa dia sedalam itu menyukai pria itu. Ada rasa nyaman, dan perasaan tidak takut. Lelah menangis, Raya mandi. Berulang kali ayahnya mengajak makan, gadis itu tetap memilih untuk tinggal di kamar saja.
Dua hari Darma mengurung Raya. Hanya itu jalan satu-satunya cara, dianggap pria itu yang bisa memisahkan mereka. Melihat putrinya yang tidak bergairah untuk makan ataupun melakukan kegiatan lainnya, Darma yang lagi tadi mendapat telepon dari kakaknya, mengudang mereka ke acara selamatan rumah baru, mengajak Raya untuk ikut.
"Aku gak usah ikut ya, Yah. Kepala ku pusing," ucapnya tidak berbohong. Lelah menangis tentu saja membuat kepalanya terasa berat.
"Jangan begitu, nanti bule mu sedih. Ayo, ayah tunggu di depan." Darma sudah berlalu, pertanda tidak akan menerima penolakan dari Raya.
Gadis itu hanya merias tipis wajahnya. Memakai gaun yang tampak sederhana tapi justru membuat gadis itu tetap terlihat cantik, alami bak kembang desa.
Dua jam perjalanan, mereka sampai ke rumah bulenya. Rumah itu tampak ramai, dihadiri tamu undangan yang ditebaknya dari sekitar tempat itu.
"Akhirnya kalian sampai juga. Kenapa lama?" Sapa Yuyun menyambut mereka.
Raya penuh sopan mencium punggung tangan bulenya, yang terperanjat melihat Raya. "Ini Raya?, ayu ne. Udah lama gak jumpa, kamu makin cantik saja... Ayo masuk," ucapnya merangkul pundak Raya memasuki rumah.
Para sepupu Raya, yang berjumlah tiga orang, juga penuh semangat menyambutnya. Walau hanya berjarak tempuh dua jam, tapi Raya jarang bertemu dengan putri-putri bule Yuyun.
Keempatnya asyik bercerita dan Raya akhirnya bisa tertawa. Menikmati candaan yang dilontarkan para sepupunya, yang juga dibarengi teman-teman mereka. Raya menjadi gadis yang paling tua diantara mereka, namun masih bisa mengerti pembahasan mereka.
Dari kejauhan, di sudut ruangan, seseorang tengah mengamatinya. Pria itu tersenyum, kala melihat Raya tertawaan saat mendengar lelucon gadis-gadis ABG itu.
"Ayo, bibi kenalkan," ucap Yuyun yang sejak tadi sudah menangkap basah mata Dirgantara, pria yang menjadi dokter di desa itu. Pria berusia 27 tahun itu ditempatkan di sini setelah lulus cpns.
"Ah, Bi Yuyun. Saya jadi malu. Saya gak percaya diri berkenalan dengan gadis secantik itu."
"Nama yang bagus, cantik. Secantik wajahnya."
"Maka dari itu, ayo bibi kenalkan," susul Bi Yuyun menarik tangan Dirga.
"Raya, kenalkan anak pak Kades, Dirga. Dia ini juga seorang dokter, loh," ucap Bi Yuyun tersenyum sembari mengedipkan sebelah mata kearah Raya.
Raya bingung harus menanggapi bagaimana. Dia sedang tidak berselera untuk dikenalkan dengan siapapun, yang artinya dia pasti harus menemani pria itu bicara. Pikiran Raya hanya memikirkan Elrick dan cara untuk bertemu pria itu.
Kalau Raya bersikap cuek, lain hal dengan keenam gadis yang ada di dekatnya. Sejak Dirgantara baru tiba di dekat mereka tadi, semua sudah pasang aksi, merapikan riasan dan juga gaunnya.
"Dirga...." Pria itu mengulurkan tangannya tepat di wajah Raya. Bagiamana mungkin gadis itu bisa menolak lagi.
"Raya...." ucap Raya pelan dan tidak bersemangat. Dia sengaja ajar pria itu tahu kalau dirinya tidak sedang ingin berbincang dan beramah-tamah.
"Raya, ajak ngobrol di taman sana. Lebih tenang, gak banyak suara dan juga lalu lalang orang," ucap Yuyun merasa bangga karena Raya berhasil menggaet Dirgantara, pria yang paling digandrungi di desa ini, dan semua para ibu berharap bisa menjadi mertua Dirgantara.
Desakan Yuyun yang sedikit memaksa membuat Raya berdiri dan mengikuti langkah Dirga ke samping rumah. Memilih duduk di bangku kayu yang dibuat sendiri oleh pak Le nya.
"Aku gak pernah melihat mu di sini," ucap Dirga memulai pembicaraan. Sementara Raya sudah menunjukkan sikap cueknya dengan menunduk.
"Aku kan tinggal di desa sebelah, Mas," sahut Raya datar.
"Tapi aku sering kok praktek ke sana juga, Ray."
"Oh..."
Selalu begitu, Raya akan menjawab pertanyaan atau menanggapi ucapan Dirga dengan kalimat pendek dan datar. Dia ingin pria itu segera bosan padanya, menyadari kalau dirinya tidak suka pada Dirga dan pria itu segera menarik diri.
Tapi nyatanya strateginya tidak berjalan seperti yang dia kehendaki. Pria itu masih dengan sabar mencari topik pembicaraan yang mengundang pendapat Raya.
Demi kesopanan, Raya tetap melayaninya, walau setengah hati. "Seandainya aku tahu ada gadis secantik mu di desa itu, aku akan mengunjungimu."
"Terima kasih, Mas. Tapi kalimat Mas harus di ralat, aku bukan gadis, tapi sudah janda," terang Raya tersenyum simpul. Dia yakin kali ini pria itu akan ilfil padanya dan menjauh darinya. Hanya tinggal menunggu waktu saja.
"Walaupun kau sudah janda, aku tidak masalah. Bagiku itu hanya sebuah status yang tidak penting. Ray, boleh kah aku ngapel ke rumah mu?"
Bola mata Raya terbelalak, tidak menyangka pria itu justru semakin nekat. Belum sempat menjawab pertanyaan Dirga, seseorang sudah menggantikannya untuk menjawab.
"Tidak bisa karena dia sudah punya calon suami!"