Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 20


"Kalian udah coba bajunya?" Tanya Raya gembira kala melihat kedua putranya. Dia pikir Paris tidak akan mau ikut serta. Bagi pria cuek itu, hal seperti ini jauh dari akal sehatnya, lebay dan tidak penting, seperti yang dia ucapkan kemarin malam.


"Aku gak mau, Ma. Untuk apa sih pakai baju samaan? Udah kayak anak panti aja," ucapnya menolak bujukan Raya yang meminta mereka untuk datang ke butik yang sudah disebutkan Raya.


Ketika pergi dengan Sidney yang dia jemput dari sekolah, Raya sudah pasrah kalau kedua jagoannya tidak mau pakai seragam di pesta itu. Ternyata hari ini Paris dan Scot sudah muncul di hadapannya.


Paris tidak bisa menyembunyikan kekagumannya, dan jelas dia terpesona melihat penampilan Sidney yang sangat anggun dan pastinya cantik.


"Lo teman gue gak sih, Sidnyet, kan?" ucap Scot mencubit kedua pipi Sidney gemas.


"Duh, sakit Nyet!" Sidney melepaskan tangan Scot dari pipinya, lalu kembali masuk ke dalam fitting room.


"Mama udah tebak kalau Sidney pakai gaun pasti sangat cantik. Ini nih, karena kelamaan main sama Scot, jadi cuma pakai celana pendek sama kaos, atau gak baju kodok," ucap Raya merasa puas. "Menurutmu, Bang, kalau Sidney dandan terus, dia bakal cepat dapat pacar, gak? Mama pengen deh, Sidney pacaran, terus bawa pacarnya ke rumah kita."


Raya memang tidak tega memanas-manasi putranya itu, tapi dia ingin memastikan apa benar ucapnya suaminya kemarin kalau Paris memang suka pada Sidney.


"Mama apa-apaan, sih? Sidney masih kecil, Ma! Gak boleh pacaran. Gak boleh dekat sama cowok manapun!"


"Kok gitu sih, Bang?"


"Udah ya, Ma. Jangan sampai ide gila mama ini mama sampaikan sama Sidney. Pinjam hape mama."


"Buat apa?"


"Pinjam bentar, Ma. Tuh, bantuin anak bontot mama kesulitan masang dasi," ucap Paris menunjuk Scot yang lehernya terbelit dasi yang sedang dia coba padankan dengan jas dan kemejanya.


Setelah Raya pergi, Paris buru-buru memindahkan foto Sidney yang tadi diambil Raya kala mengenakan gaun berwarna baby pink itu ke ponselnya.


***


Hari yang dinanti tiba. Tita terlihat cantik dan anggun. Acara mengucapkan janji suci sebentar lagi akan tiba. Raya memapah gadis itu untuk keluar menuju meja yang sudah ada penghulu dan juga calon suaminya, Dipa.


Setelah duduk disebelah Dipa, Raya memasangkan kain berenda berwarna putih ke atas kepala mereka berdua saat akan mulai mengucapkan janji suci.


"Apa aku sudah bilang kalau kau sangat cantik sekali hari ini?" Bisik Elrick seraya mencium tipis telinga Raya.


"Ini sudah ke enam kalinya," jawab Raya dengan bisikan.


"Apa sebaiknya kita pulang?" Goda Elrick tersenyum, tapi segera menutup mulutnya saat Raya mencubit perutnya. Suaminya selalu saja tidak pernah bosan menggodanya.


Acara berjalan hikmat, dan pengambilan sumpah itu pun selesai. Keduanya sudah dinyatakan sebagai suami istri.


"Selamat buat kalian berdua. Oma gembira sekali, karena sebelum meninggalkan dunia ini, Oma bisa melihat kedua cucu Oma menikah," ucap Nani tidak bisa menahan air mata harunya.


"Oma jangan begitu, Oma akan selalu sehat, hingga bisa melihat anak-anak kami nantinya," jawab Dipa memeluk wanita tua itu. Wanita yang sudah membesarkannya setelah menjadi yatim-piatu.


Acara terus berlanjut, semua tamu memberi selamat dan bergembira atas pernikahan mereka. Tita tidak takut lagi pesta pernikahannya dihancurkan oleh Samertha, karena Dipa sudah meminta satu batalyon untuk menjaga acara itu.


Tamu undangan tidak hanya dari kalangan bisnis dan juga sanak keluarga Diraja, rekan guru dan beberapa perwakilan siswa juga diundang oleh pihak sekolah atas permintaan Tita.


"Lo cantik banget hari ini, tapi gue gak suka. Banyak mata cowok di sini yang menatap lo," bisik Paris kala mereka melakukan foto keluarga bersama pengantin. Paris yang overprotektif berdiri di samping Sidney.


Mendengar pujian kekasihnya, Sidney melambung tinggi. Dia juga mengakui kalau penampilannya saat ini sangat berbeda dari biasanya.


"Kalau ada yang naksir sama ku, gimana?"


"Siap-siap aja dia gue hajar!"


Sidney tersenyum mendengar ucapan Paris. Dia yang harusnya bangga memiliki kekasih setampan Paris. Tidak hanya seumuran mereka saja yang mencoba mencari perhatian pada Paris, tapi juga putri pengusaha yang ikut di pesta ini yang lebih tua dari mereka.


***


"Siapa pria tadi?"


"Pria? yang mana?"


"Yang ada di meja kalian. Please, Sid, jangan buat gue naik pitam. Lo salaman dengan dia tadi."


Lama Sidney berpikir, dia ingat pada sosok pria yang mendatangi mejanya lalu meminta kenalan dengannya. Dia juga gak kenal hingga tidak menyambut uluran tangan pria itu, tapi Rina dan Siska menyuruhnya menerima permintaan pria itu untuk berkenalan sebagai bentuk kesopanan, terpaksa Sidney menerimanya.


"Sid!"


"Gue gak kenal. Dia datang, terus minta kenalan."


Bara merah di mata Paris masih menyala. Dia benci kalau ada orang yang menyentuh Sidney, sekalipun itu hanya sentuhan tangan.


"Gue gak suka lo dekat sama cowok lain. Lo punya gue Sid, pacar gue. Gue bisa gila kalau lihat orang lain menyentuh Lo!"


Sidney gak suka Paris yang tempramen begini, membuatnya sedikit takut. Terlalu posesif padanya hingga membatasi ruang geraknya.


"Cuma kenalan doang, gak ngapa-ngapain, kok!"


"Tapi gue gak suka. Lo milik gue, Sid! Lo harus tahu batasan, karena lo sekarang pacar gue."


"Aku siapa mu?"


"Pacar gue!" Jawab Paris tegas. Entah untuk apa Sidney menanyakan hal itu.


"Kalau aku memang pacarmu, lantas kak Cici siapa mu? Kau janji mutuskan dia setelah kita jadian, tapi sampai sekarang satu sekolahan masih bilang kalian pacaran!"


"Gue udah putus sama dia, tapi dia gak terima. Sumpah, gue gak ada hubungan apapun lagi sama dia."


"Bohong. Tadi Rina cerita kalau kak Cici koar-koar di kantin, bilang kalian berdua mau ke Bali," ucap Sidney melipat tangan di dada.


"Itu gak benar. Besok gue akan umumkan kita pacaran, biar semua orang tahu kalau yang jadi pacar gue sekarang itu lo, bukan cewek lain."


"Eh, gak bisa. Aku belum ngomong dengan Scot. Ya udah, aku percaya." Suara Sidney melembut. Dia sadar bukan keinginan Paris hingga semua orang masih menganggapnya pacar Cici.


"Sini..." Paris menarik Sidney masuk dalam pelukannya. Memeluk dan mencium puncak kepala gadis itu penuh rasa sayang.


"Apa di sini aman? Bagaimana kalau ada yang datang?"


"Ini pintu menuju tangga darurat. Tidak akan ada yang datang. Diamlah Sid, gue cuma mau meluk lo sebentar lagi. Gue kangen banget sama lo. Beberapa hari ini kita gak bisa jalan karena bocah itu selalu memonopoli waktu lo," ucap Paris mendekap Sidney lebih erat.


Sidney merasakan kenyamanan dalam pelukan Paris. Dia juga tidak ingin ada gadis mengaku-ngaku sebagai kekasih Paris. Dia harus segera bicara dengan Scot.


"Gimana riasan wajahku?" Tanya Sidney merapikan rambutnya. Dia takut kalau sekarang penampilannya jadi aneh. Ini semua karena Paris. Awalnya pria itu hanya memeluknya, namun pertahanannya goyah hingga mencium bibir Sidney sekilas.


Jangan bermain api, nanti terbakar, pepatah itu nyatanya benar terjadi. Ciuman tipis itu berubah jadi menuntut, hingga keduanya saling bertukar rasa melalui bibir, dalam dan begitu membakar gelora jiwa muda mereka.


"Masih tetap cantik. Hanya lipstikmu yang mulai pudar." Senyum menggoda Paris justru membuat Sidney kesal.


"Dari mana kalian berdua? Kok bisa barengan?"


*


*


*


Nah, loh siapa yang memergoki mereka, ya?