
Tidak ada yang terjadi malam ini. Elrick memang sudah tidak mengharapkannya malam ini mengingat hubungannya dengan sang istri yang masih memanas.
Tapi harusnya kalaupun tidak ada pertunjukan malam ini, seharusnya Raya tidak memintanya untuk membantu membuka bajunya. Apa gadis itu tidak sadar hal itu membawa dampak besar bagi tubuhnya.
Lihatlah sekarang, saat gadis itu sudah tidur dengan lelapnya di ranjang, Elrick yang tidur di sofa menatap dengan wajah menahan hasrat pada Raya.
Bayangan tentang punggung mulus dan putih milik Raya semakin menyentak hasratnya. Jemarinya sempat menyentuh kulit itu by dan saat itu juga ada dorongan untuk mencium, bahkan membuat tanda di sana.
Lekukan pada pinggul Raya yang terekspos setelah gaun itu dibuka, sungguh menyiksa kesabarannya sebagai pria normal.
Kalau masalah hak, dia tentu saja sudah berhak atas diri Raya, toh dia suaminya yang sah, tapi perjanjian dengan Raya sebelum menikah, membuatnya harus bisa legowo.
Dia tidak ingin memaksa wanita itu, walau bagaimanapun keinginan dan hasratnya yang menyentak. Dia akan menunggu sampai gadis itu mau membuka hati, memaafkan dirinya dan menerima keberadaannya sebagai suami gadis itu.
"Kenapa dia imut sekali sih walau lagi tidur begini?" cicit Elrick masih terus terpukau menatap wajah Raya. Gadis itu enak bisa tidur nyenyak, nah dia?
***
Ketika Elrick membuka matanya, menatap ranjang yang kosong di depan sana, spontan dirinya duduk. Menatap sekeliling kamar, yang tinggal hanya dirinya.
Diliriknya jam dipergelangan tangan, pukul 10 pagi. Tubuhnya terasa sakit karena tidak nyaman tidur di sofa yang memang sudah tidak empuk lagi. Elrick memaki Raya dalam hati, mengapa tidak sekalian mengganti sofa itu dengan yang baru saat mereka belanja furniture bersama Nani.
Setelah menggerakkan tubuhnya tipis-tipis, Elrick keluar mencari istrinya. Begitu membuka pintu kamar yang memang langsung menghadap ruang keluarga, pandangan semua orang yang duduk bersila di tikar menatap ke arahnya dengan senyum penuh arti.
Tidak mengerti, Elrick hanya membalas dengan senyum kaku. Bola matanya sibuk mencari sosok yang dia sangat butuhkan saat ini.
"Dia ada di belakang. Membantu Bu Le dan sepupunya memasak," ujar Darma memahami isi pikiran Elrick.
Elrick hanya mengangguk. Dia memang ingin mencari Raya, dia ingin mandi. Tapi niatnya dibatalkan oleh panggilan Pakle Sukirman, yang memintanya untuk bergabung bersama mereka. Elrick menurut, ini juga demi kesopanan.
"Tampaknya tadi malam bertarung habis-habisan nak Elrick? hingga bangun siang?" celetuk Sukirman yang suaranya begitu keras hingga terdengar hingga ke dapur. Wajah Raya hanya bisa menunduk malu sembari bergegas menyelesaikan pekerjaannya.
"Kamu toh, buat malu anak muda saja. Wajar pengantin baru," sambar pria yang kemarin dikenalkan Darma sebagai paman Raya.
"Sudah, kalau mau cari Raya, pergilah. Mereka ini akan semakin menggodamu selama kau masih di hadapan mereka," ucap Darma.
Tanpa menjawab, Elrick melesat ke arah yang ditunjuk Darma dan benar mendapati istrinya sedang memetik sayur untuk dimasak.
"Ray, itu suamimu. Mungkin ada perlu," ujar Bule Yuyun yang saat itu tengah menggiling cabe untuk ikan.
Raya menoleh, dan mendapati Elrick bersikap kikuk. "Itu...," ucapnya Elrick terhenti. Semua mata tertuju padanya. Tidak hanya keluarga Raya yang ada di sana, tapi juga beberapa tetangga yang ingin membantu menyediakan makanan untuk makan bersama di keluarga itu. Tampaknya gerakan menjilat keluarga Raya sudah dimulai.
Raya bangkit dan melewati tubuh Elrick menuju kamar. Dia yakin pria itu akan mengikutinya. "Apa?" tanya Raya datar.
Dia sudah berusaha untuk memaafkan Elrick untuk cerita masa lalu, seperti nasehat ayahnya, tapi untuk saat ini setiap melihat wajah pria itu, dia mendadak kesal.
"Terus?"
"Pakaian aku?" Kemarin koper Elrick berisi pakaiannya sudah diantar anak buahnya ke rumah Raya saat mereka akan melangsungkan ijab qobul kemarin.
"Itu..." Raya menunjuk ke atas ranjang. Satu stel pakaian Elrick sudah dia siapkan di sana. Dia tahu kewajibannya sebagai istri, semarah dan sekesal apapun, dia harus melayani keperluan suaminya, kecuali... untuk yang satu itu.
"Makasih, Ray..."
Raya keluar begitu saja, meninggalkan suaminya untuk mandi. Yang menjadi persoalan, di kamar Raya tidak ada kamar mandi, yang artinya dia harus mandi di satu-satunya kamar mandi di rumah itu, yang artinya juga harus melewati banyak orang dan kamar mandi itu bersebelahan dengan dapur.
Tentu saja sangat tidak nyaman bagi Elrick dan merasa privasinya sedikit terganggu saat melakukan kegiatan dalam kamar mandi.
Elrick sempat menimbang, apa lebih baik dia pergi saja ke rumahnya, tapi mengingat janjinya pada Darma untuk tinggal seminggu di sana, Elrick membatalkan niatnya. Lagi pula kalau dia tiba-tiba pergi, maka keluarga Raya akan menilai buruk terhadapnya.
Baiklah, tampaknya dia tidak punya pilihan lain. Elrick juga pria pembersih. Setiap pagi, paling lama pukul tujuh dia pasti sudah selesai mandi. Mungkin karena tadi malam dia susah tidur, dan baru bisa terpejam pukul tiga pagi. Dengan langkah malas diseretnya kakinya menuju kamar mandi.
Memutar dengan keran air dengan kencang adalah salah satu caranya untuk bisa nyaman beraktifitas di kamar mandi.
"Kenapa gue harus segan, ini rumah mertua gue," batinnya memulai mandi. Air di desa itu terasa dingin dan segar. Dengan santai Elrick keluar dengan melilitkan handuk di pinggulnya.
Semua mata kaum hawa terbelalak menatap tubuh mulus, kekar dan atletis itu. "Ya ampun, badannya mas Elrick buat ngilu," cicit Ratih, salah satu anak bule Yuyun.
"Iya, benar. Duh, pengen banget punya pacar kayak mas Elrick," timpal yang lain. Raya yang mengamati punggung pria itu yang menjauh menuju kamar, membuat raya jengkel. Hatinya tidak rela kalau tubuh suaminya dilihat dan menjadi bahan imajinasi gadis lain.
Sayur sudah selesai dia petik, diletakkan di atas meja, lalu melangkah menuju kamar. "Aaach..." pekiknya spontan, kala membuka pintu dan mendapati Elrick berdiri hanya mengenakan pakaian dalamnya, tanpa atasan apa pun, hanya selembar menutupi belalai gajahnya, namun segera menutup mulutnya.
Dia malu, karena di luar, ayah, paman, bule dan dua orang kerabat yang dia tidak kenal melihatnya terpekik kaget. Raya segera masuk, menutup pintu lalu melipat tangan dia dada sembari membuang muka ke arah lain.
Elrick dengan santai berkeliaran, mencari sisir, lalu setelah dapat menyisir rambutnya tanpa malu mempertontonkan tubuh luar biasa atletisnya di depan Raya.
"Kenapa Ray?"
"Kenapa? Mas Elrick kenapa keluar dari kamar mandi hanya pakai handuk? kok gak pakai baju sih?"
"Memangnya kenapa? kan gak telan*jang, Ray?"
"Iya tahu, tapi di luar banyak orang. Ini bukan kayak di kota, keluar dari kamar mandi hanya dengan selembar handuk. Gak sopan tahu, Mas."
"Aku gak tahu, Ray. Aku pikir gak jadi soal. Jangan marah dong, Sayang..."
Raya hanya menarik sudut bibirnya, memutar bola mata tanda dirinya masih kesal. Dia tidak mungkin mengatakan kalau alasan utamanya karena tidak sudi berbagi tubuh suaminya walau sekedar hanya dipandang mata.